• March 5, 2024

Timnas Israel Terus Melesat Meski Jadi Musuh Masyarakat

Apa yang terpikir di benak kalian ketika mendengar kata “Israel”? Palestina? Konflik? Permusuhan? Atau apa pun itu yang muncul di kepala pasti bukan kata “sepakbola”. Karena negara yang berada di sebelah timur Laut Mediterania itu bukan negara yang identik dengan sepakbola.

Tapi kenyataannya sekarang Israel mulai menunjukan kekuatannya kepada dunia melalui sepakbola. Baru-baru ini mereka mengejutkan Eropa bahkan dunia dengan mencapai semifinal EURO U-21 tahun 2023. Pencapaian itu benar-benar di luar prediksi BMKG. 

Tak ada yang mengira negara yang tak begitu kental dengan sepakbola justru mengamankan satu tiket ke semifinal duluan. Situasi ini pun memunculkan pertanyaan. Kok bisa sepakbola Israel jadi kuat seperti sekarang? 

Sempat Terasingkan

Sebelum membahas mengapa Timnas muda Israel jadi gacor, kita akan membahas sedikit riwayat persepakbolaan Israel. Beberapa dari kalian pasti pernah bertanya kenapa Israel malah masuk anggota UEFA? Padahal kalau dilihat dari letak geografis, Israel berada di Timur Tengah dan lebih dekat dengan Benua Asia. 

Pada awalnya, Timnas Israel memang anggota AFC, tapi selalu mendapat penolakan dari negara-negara Arab karena Israel menggunakan cara yang tak manusiawi dalam membentuk negaranya. Mereka bahkan mengusir warga Palestina dari rumahnya sendiri demi bisa mendapatkan wilayah yang lebih luas.

Selama menjadi anggota AFC, klub dan tim nasional Israel aktif bertanding melawan negara-negara anggota AFC lainnya. Meski mendapatkan boikot dari tim-tim dari Arab atau negara Muslim seperti Indonesia dan Pakistan. Tak bisa dipungkiri kalau Israel termasuk salah satu negara pendiri AFC. 

Namun, karena perbedaan pandangan politik dan banyaknya boikot, akhirnya pada tahun 1974 AFC memutuskan untuk mengeluarkan Israel dari keanggotaan. Sejak itu, Israel tetap jadi anggota FIFA tapi tak berafiliasi dengan konfederasi mana pun. 

Alhasil mereka jadi kutu loncat dari zona satu ke zona lain. Dari OFC, UEFA, hingga CONMEBOL semuanya pernah menampung negara yang terasingkan tersebut. Singkat cerita, Israel akhirnya bisa dengan tenang menetap sebagai anggota UEFA pada tahun 1992 hingga sekarang.

Mulai Bangkit Melalui Tim Muda

Memiliki riwayat buruk soal persepakbolaan tak membuat Israel berkecil hati. Perlahan namun pasti, The Blue and White mulai bangkit. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan sepakbola Israel mulai membuahkan hasil. Melalui tim nasional usia muda, Israel memperkenalkan kepada dunia siapa mereka sebenarnya.

Bukti yang pertama ketika Timnas Israel U-20 berhasil mengamankan satu tiket ke Piala Dunia U-20 yang awalnya akan diadakan di Indonesia. Kabar tersebut menyebar dengan cepat dan membuat beberapa pengamat sepakbola mulai membicarakan kekuatan sepakbola Israel.

Semua berawal dari tim U-19 Israel yang tampil heroik di EURO U-19 tahun 2022. Tergabung dalam Grup B bersama Inggris, Austria, dan Serbia, Israel sebetulnya tidak diunggulkan. Tapi dengan mengejutkan skuad asuhan Ofir Haim justru menjadi runner up kompetisi dan hanya kalah dari Inggris di babak final.

Sementara itu, Lolos ke semifinal saja sudah cukup bagi Israel mengamankan satu tiket ke Piala Dunia U-20 2023. Hal itu karena Eropa bisa mengirimkan lima wakilnya ke babak penyisihan grup.

Tak sampai di situ, kejutan berlanjut di Argentina. Israel U-20 yang lagi-lagi tak diunggulkan justru meraih tempat ketiga di kompetisi tersebut. Skuad asuhan Ofir Hamir bahkan dengan percaya diri tampil menyerang. 

Mereka mengandalkan kesabaran dan kecepatan dalam melayangkan serangan balik. Israel juga memaksimalkan skema bola mati. Berkat pola permainan tersebut, The Blue and White bahkan bisa menaklukan Jepang, Korea Selatan, dan Brazil.

Doktrin Muscle Judentum

Timnas Israel ini diam-diam menghanyutkan. Nggak pernah nongol di media, tapi sekalinya nongol langsung menyuguhkan suatu pencapaian luar biasa. Tapi seharusnya kita tak perlu terkejut dengan pencapaian tersebut. Mereka memang telah membangun persepakbolaan sejak lama. Kini mereka tinggal memetik hasilnya saja.

Dalam sejarahnya, orang-orang Israel gemar menggunakan olahraga, khususnya sepakbola sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat kekuatan politik internasional. Seluruh gerakan Yahudi atau Israel di dunia meyakini sepakbola dan olahraga pada umumnya bisa membersihkan nama baik mereka dari kekerasan dan tirani antisemitisme.

Keyakinan itu dipandu oleh sebuah doktrin politik yang telah menjadi nafas kebangkitan sepakbola mereka, yakni doktrin Muscle Judentum. Pemuda-pemuda Israel tampaknya mulai kembali dicekoki doktrin lama ini. 

Doktrin tersebut memotivasi anak-anak muda Israel untuk melakukan penyegaran raga dan rohani melalui olahraga. Mereka ditempa secara fisik dan mental untuk memperbaiki nama baik Israel di masa depan. Dan kini, Israel memulai operasi tersebut lewat sepakbola.

Tangan Dingin Jelle Goes

Doktrin saja tanpa diimbangi dengan perencanaan yang baik tentu percuma. Pemerintah Israel pun mendatangkan ahli sepakbola dari Belanda, Jelle Goes sebagai Direktur Teknik sekaligus direktur akademi Timnas Israel pada tahun 2021. 

Mantan Direktur Teknik Timnas Belanda inilah yang merombak sistem sepakbola Israel. Goes menghilangkan pagar pembatas berupa ras, agama dan latar belakang di sepakbola Israel. Ia bahkan banyak menjaring pemain-pemain beragama muslim untuk masuk skuad muda Israel.

Goes juga berperan langsung dalam pengembangan pemain usia muda di Israel. Ia membantu Federasi Sepakbola Israel merapikan sistem pengelolaan timnas usia muda dengan membentuk tim nasional kelompok umur dari U-16 sampai senior agar regenerasi bisa terjaga dengan baik. 

Ia juga mendatangkan beberapa pelatih kelas Eropa agar porsi latihan yang mereka dapat sesuai dengan kurikulum dan standar kualitas sepakbola Eropa. Selama bekerja di Israel, Goes juga menjabat sebagai Chief of Technical Football Development di UEFA. Jadi, Goes juga menjadi jembatan antara IFA dengan UEFA bahkan FIFA.

Uluran Tangan UEFA dan FIFA

Israel tak segan untuk meminta pertolongan kepada UEFA dan FIFA untuk membantu perkembangan sepakbola dari segi pendanaan, infrastruktur, atau tenaga ahli. Mereka membantu dari segi finansial agar Israel bisa membangun pemusatan latihan terpadu yang memadai di kota Mikhmoret.

Soal infrastruktur dan fasilitas sudah jadi masalah menahun di sepakbola Israel. Sebelumnya mereka tak memiliki fasilitas pengembangan yang baik untuk menampung anak-anak muda yang berniat menjadi pesepakbola profesional. 

Selain pengembangan pada sepakbola pria, Israel juga tengah fokus untuk mengembangkan sepakbola wanita. Mereka membangun akademi-akademi baru yang bisa menampung anak laki-laki maupun perempuan. Federasi sepakbola Israel juga sudah membuat liga sendiri untuk sepakbola wanita yang bernama Ligat AL Women. 

Bagaimana dengan Tim Senior?

Soal usia muda, Israel mulai berbenah. Lantas gimana nasib Timnas seniornya? Prestasi Timnas muda Israel membuat fans berharap itu akan menular kepada pemain-pemain senior. Tapi kenyataannya tak semudah itu.

Menurut pakar bola Israel, Uri Levy, untuk membuat Timnas senior Israel sukses di kancah Eropa cukup rumit. Karena pemain yang bagus di usia muda belum tentu bisa tetap konsisten bagus sampai di usia senior. Banyak negara-negara yang mengalami kasus serupa. Contohnya generasi terkutuk Prancis yang menjuarai EURO U-17 tahun 2004.

Banyak dari mereka yang tak bisa menembus skuad utama di usia matang. Bahkan, pemain sekaliber Karim Benzema dan Samir Nasri yang tergabung dalam generasi itu namanya tak ada yang muncul di skuad juara Piala Dunia 2018. Nggak usah jauh-jauh deh, tanpa menyebutkan satu per satu, Indonesia juga buanyak pemain yang gacor di usia muda, tapi pas di usia matang malah ngilang.

Sumber: Sky News, UEFA, DW, Times of Israel, Libero

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *