• March 4, 2024

Start Mengagumkan Bayer Leverkusen, Bisakah Bertahan di Papan Atas?

Kejadian menakjubkan terjadi pada musim 2001/02. Bayer Leverkusen melaju di tiga kompetisi utama yang bisa mereka lakoni. Ironisnya, Bayer Leverkusen justru tumbang di semua kompetisi itu. Di Liga Champions, Leverkusen ditaklukkan Real Madrid di partai final. Di DFB Pokal, Schalke menghancurkan mereka 4-2. Begitu pula di Bundesliga.

Borussia Dortmund merebut posisi mereka di puncak klasemen dalam tiga spieltag terakhir. Nasib ngenes Bayer Leverkusen ini bahkan sampai melahirkan julukan “Neverkusen”. Setelah kejadian mengenaskan itu, Die Werkself tidak lagi tim yang tangguh. Alih-alih demikian, Leverkusen justru menjadi tim yang medioker saja belum.

Namun, era sudah berganti. Bayer Leverkusen yang dulunya rumah bagi pemain-pemain hebat seperti Dimitar Berbatov, Gonzalo Castro, sampai Son Heung-min mulai ditata lagi. Di bawah asuhan Xabi Alonso, Bayer Leverkusen kembali menunjukkan kelasnya.

Start Musim 2023/24

Mengawali musim 2023/24, Bayer Leverkusen bermain sangat impresif, khususnya di Bundesliga. Die Werkself mengawali musim ini dengan tidak hanya menang, tapi menang besar. Di pra-musim pasukan Xabi Alonso bahkan sudah menggiling juara Liga Konferensi Eropa, West Ham 4-0.

Mereka yang memulai DFB Pokal dari putaran pertama menggilas tim amatiran FC Teutonia Ottensen delapan gol tanpa balas. Saat masuk pertandingan Bundesliga, lawan di partai pertama adalah RB Leipzig, penghuni empat besar musim lalu.

Die Roten Bullen asuhan Marco Rose bukan lawan mudah. Musim lalu saja Bayern Munchen tidak bisa mengalahkan mereka. Tapi Leverkusen nyatanya memenangkan laga itu. Dengan dukungan penuh publik BayArena, Die Werkself mengalahkan Leipzig 3-2. Tak diberi nafas sebentar, di laga kedua giliran Borussia Monchengladbach yang jadi lawan Florian Wirtz dan kolega.

Tapi pasukan Xabi menang bulat 3-0. Di laga berikutnya Bayer Leverkusen juga menghajar Darmstadt 5-1. Well, hingga spieltag ketiga, dengan tiga kali kemenangan beruntun, Bayer Leverkusen menduduki puncak klasemen Bundesliga mengoleksi sembilan poin.

Statistik Bagus di Awal Musim

Tidak hanya duduk di puncak klasemen, di awal musim Bayer Leverkusen menunjukkan statistik yang menawan. Mereka adalah satu di antara dua tim yang mencetak gol terbanyak di Bundesliga sejauh ini dengan 11 gol. Hanya Vfb Stuttgart yang menyamai gol Leverkusen. Bayern Munchen saja baru mencetak sembilan gol. 

Selain itu, Die Werkself juga baru kebobolan tiga gol sama dengan Dortmund dan hanya satu gol lebih banyak dari jumlah kebobolan Bayern dan Frankfurt (2 gol). Belum sampai di situ. Menurut data The Analyst, Bayer Leverkusen adalah tim dengan nilai expected goal tertinggi di Bundesliga sejauh ini, yaitu 6,30.

Angka tersebut lebih tinggi dari Bayern Munchen (5,88), Stuttgart (5,42), dan RB Leipzig (3,32). Dengan nilai expected goal tertinggi, rata-rata gol yang diciptakan Bayer Leverkusen otomatis juga tertinggi di Bundesliga. Menurut Fbref 3,67 per 90 menit. Rata-rata gol itu jauh lebih tinggi dari Bayern Munchen dengan 2,67 per laga.

Hanya Stuttgart yang bisa menyamai rata-rata gol Bayer Leverkusen sejauh ini. Menariknya, Die Werkself tidak hanya menciptakan gol melainkan juga asis. Jumlahnya 11 asis sejauh ini.

Kehilangan Pemain

Jika melihat sebelum musim dimulai, Leverkusen padahal kehilangan tidak sedikit pemain terbaiknya. Menurut data Transfermarkt, ada 14 pemain yang dilepas Bayer Leverkusen. Mereka di antaranya Sardar Azmoun, Callum Hudson-Odoi yang dikembalikan ke Chelsea, Karim Bellarabi, Kerem Demirbay, Paulinho, sampai Moussa Diaby.

Selain menjual para pemain, disadari atau tidak, Bayer Leverkusen juga lama kehilangan Patrik Schick. Striker fenomenal itu sempat menjadi mesin gol Die Werkself berkat 24 gol dari 27 laganya di Bundesliga selama musim 2021/22.

Sayangnya, pada musim lalu Schick benar-benar sick. Ia menderita cedera pangkal paha sejak Maret 2023, sehingga mesti menjalani operasi dan pemulihan. Pemain 27 tahun itu pun tidak bermain penuh satu musim. Golnya pun cuma tiga dalam 14 laga yang ia mainkan musim lalu.

Meski sempat dikabarkan bisa berlatih penuh pada 23 Juni 2023 lalu, tapi Schick nyatanya belum kembali ke skuad Xabi Alonso. Sang pemain diperkirakan baru akan bergabung pada awal Oktober 2023 mendatang.

Pemain Baru Tokcer

Kehilangan para pemain pilar dan absennya Patrik Schick nyatanya tidak berpengaruh besar dalam skuad Xabi Alonso. Toh, ia juga sudah mendatangkan pemain-pemain baru. Sebutlah misalnya Victor Boniface yang dibeli dari Union Saint-Gilloise seharga 20,5 juta euro (Rp337 miliar).

Pemain Nigeria itu adalah jawaban dari gersangnya lini depan Bayer Leverkusen. Ia sudah mencetak empat gol di Bundesliga sejauh ini. Golnya lebih banyak dari yang dicetak Harry Kane (3 gol). Boniface adalah pemain hebat yang tidak terlacak tim-tim besar.

Boniface telah memperlihatkan penampilan apiknya sejak berseragam tim Norwegia, FK Bodo/Glimt. Selain membawa tim itu juara dua kali di divisi teratas, Boniface sebelumnya sudah mencetak 23 gol dan delapan asis dalam 66 pertandingan bersama tim yang namanya sulit dieja itu. Di Union Saint-Gilloise pemain ini mengemas 17 gol dan 12 asis dari 51 pertandingan.

Kehadiran pemain lain seperti Alejandro Grimaldo, Jonas Hofmann, Nathan Tella, sampai Granit Xhaka juga membuat permainan Die Werkself kian solid. Khusus nama yang terakhir adalah ruh lini tengah.

Xhaka yang dibeli 15 juta euro (Rp246,6 miliar) dari Arsenal membuat penguasaan bola terus berjalan dan memberikan keseimbangan bagi tim. Sementara Grimaldo dan Hofmann menawarkan kekuatan di sektor sayap. Di posisi kiper Lukas Hradecky akan di-cover oleh mantan kiper Manchester United, Matej Kovar.

Peran Xabi Alonso

Tidak dapat dimungkiri permainan Bayer Leverkusen sejauh ini tak bisa lepas dari sosok Xabi Alonso. Bersama eks pemain Real Madrid itu, Leverkusen telah memenangkan setidaknya 21 laga, imbang 10 laga, dan hanya kalah dalam 10 pertandingan. Juga mencetak 88 gol dan kebobolan 52 gol.

Xabi membawa pendekatan yang sangat berbeda di Bayer Leverkusen. Ia mengintegrasikan “cara Spanyol” di tim Jerman itu. Xabi selalu memulai dengan formasi 3-4-2-1 lalu akan beralih ke formasi 4-2-4 yang lebih berani untuk memberi tekanan di lini depan.

Instruksi yang diberikan Xabi jelas. Ia ingin para pemainnya saling terhubung di atas lapangan dan tetap saling berdekatan. Ini dilakukan untuk menerapkan gaya permainan Spanyol yang berorientasi pada penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki menjadi andalan Xabi dengan fluiditas posisi pemain.

Jadi, setiap pemain akan terus bergerak, tidak terpaku pada posisinya. Ini gunanya untuk menciptakan ruang di blok rendah pertahanan lawan dan mengeksploitasinya. Granit Xhaka, Florian Wirtz, dan Jeremie Frimpong punya peran krusial di sini.

Xhaka setidaknya mengemas 34 umpan progresif di Bundesliga sejauh ini, sedangkan Wirtz menjadi pemain yang paling banyak memberikan umpan ke area penalti di Bundesliga dengan 13 umpan. Kalau Frimpong ia memimpin perolehan asis dengan tiga asis.

Peluang Bayer Leverkusen

Melihat permainannya yang mengesankan,  Die Werkself sangat berpeluang finis di posisi teratas. Tak perlu menjadi juara, finis di posisi empat besar sudah lebih dari cukup buat Xabi. Menurut prediksi Superkomputer Opta, dilansir The Analyst, Bayer Leverkusen punya peluang untuk itu.

Die Werkself diprediksi akan finis di posisi keempat. Meski tidak diprediksi juara, Leverkusen bisa memberi perlawanan untuk Bayern Munchen yang akan mereka hadapi setelah jeda internasional.

Dengan Bayern Munchen yang masih meraba kekuatannya, plus masalah yang muncul antara Thomas Tuchel dan manajemen Die Roten, ini adalah kesempatan yang baik bagi Die Werkself untuk paling tidak, membuat Bayern Munchen tidak memenangkan laga.

Sumber: Stats24, KhelNow, SportsMonks,TheAnalyst, Sportstar, FootballTribe, Fbref, FootballTransfers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *