• March 4, 2024

Siapa yang Akan Terdegradasi dari Premier League Musim 2022/2023?

Premier League musim 2022/2023 akan segera berakhir. Seperti biasa, Liga Inggris selalu menyajikan persaingan sengit hingga pekan-pekan terakhir. Tak hanya persaingan menuju tangga juara atau perebutan zona kompetisi Eropa, melainkan juga persaingan di zona degradasi.

Hingga pekan ke-36, baru Southampton yang sudah dipastikan turun kasta ke Championship. Baru mengumpulkan 24 poin, The Saints sudah tak mampu menyelematkan diri dari jurang degradasi.

Seperti yang kita tahu, akan ada 3 tim yang terdegradasi dari Premier League. Dengan 1 spot sudah jadi milik Southampton, berarti masih ada 2 spot tersisa untuk turun kasta. Dua tempat zona merah inilah yang akan berusaha dihindari oleh empat tim.

Keempat tim yang belum aman dari ancaman degradasi adalah Nottingham Forest, Everton, Leeds United, dan Leicester City. Dengan hanya menyisakan 2 pertandingan saja, mereka harus mati-matian menjalani laga hidup dan mati di sisa laga yang ada.

Lalu, siapa dari keempat tim tersebut yang akan terdegradasi dari Premier League musim 2022/2023?

Pada pembahasan kali ini, Starting Eleven akan mengupas penyebab masing-masing tim terancam degradasi dan peluang mereka untuk bertahan, serta bagaimana tingkat kesulitan mereka di 2 laga tersisa.

Nottingham Forest

Kita mulai dari tim yang memiliki peluang degradasi paling kecil, yakni Nottingham Forest. Belum amannya Nottingham dari ancaman degradasi sebenarnya sebuah hal yang mengejutkan. Meski berstatus tim promosi, tetapi The Forest menjadi salah satu tim dengan pengeluaran terbanyak di bursa transfer pemain.

Dengan pengeluaran sebesar £162,87 juta untuk mendatangkan 30 pemain anyar, Nottingham berada di urutan keempat tim paling boros di Liga Inggris musim ini setelah Chelsea, Manchester United, dan Newcastle United. Namun, hasil yang dicapai memang terkadang tak sebanding dengan pengeluaran.

Masih mempertahankan Steve Cooper sebagai nahkoda, performa Nottingham sebenarnya lumayan. Mereka pernah menghuni peringkat 13 di pekan ke-25. Namun, dari bulan Maret hingga April, performa mereka anjlok. Momen inilah yang membuat Forest terancam degradasi.

Hanya mendulang 5 poin dalam 10 pertandingan sepanjang bulan Maret hingga April membuat Nottingham terjun ke peringkat 18. Berdasarkan perhitungan Opta, kala itu kemungkinan Nottingham terdegradasi mencapai 46,5%. Untungnya, kini angka tersebut telah turun menjadi hanya 20,9%. Empat poin di dua laga terakhir kontra Southampton dan Chelsea membuat Nottingham merangkak ke posisi 16 klasemen dengan koleksi 34 poin.

Berkat hasil tersebut, peluang Nottingham Forest bertahan di Premier League masih terbuka. Kuncinya adalah mendulang poin di dua laga tersisa kontra tim asal London, yakni Arsenal dan Crystal Palace.

Secara matematis, 1 poin di 2 laga tersisa sudah cukup untuk menyelamatkan Nottingham. Syaratnya, Everton, Leeds United, dan Leicester City kalah di laga tersisa. Namun, ini bukan perkara yang mudah. Sebab, jika hasil akhirnya justru berbanding terbalik, maka Nottingham Forest yang akan terdegradasi.

Jadi, meski peluang mereka paling kecil di antara klub pesakitan lainnya, ini bakal tetap menjadi akhir musim yang menegangkan bagi pendukung The Forest.

Everton

Sama seperti Nottingham, pendukung Everton juga tengah was-was. Berada di urutan 17, The Toffees baru mengoleksi 32 poin dari 36 pertandingan.

Seperti yang pernah kami bahas dalam konten berjudul “Prahara di Everton: Janji Manis Moshiri yang Berjung Degradasi”, ada segudang masalah di Everton. Investasi bodong Farhad Moshiri dan pemilihan pelatih yang sembrono membuat mereka masih memiliki peluang untuk turun kasta ke Championship sebesar 27,5%.

Sebenarnya, kehadiran Sean Dyche sedikit memperbaiki performa Everton. 17 poin berhasil ia persembahkan dalam 16 pertandingan, lebih baik dari catatan Frank Lampard yang hanya sanggup memberi 15 poin dalam 20 pertandingan.

Dibanding 3 tim lainnya yang masih belum aman dari degradasi, jadwal Everton di dua laga pamungkas terbilang paling mending. Everton akan bertandang ke markas Wolverhampton akhir pekan ini sebelum menjamu Bournemouth minggu depan. Keduanya sama-sama tim papan bawah.

Everton diprediksi akan sulit menang di kandang Wolves. Di pertemuan pertama di Goodison Park, Everton takluk 1-2. Jadi, laga kontra Bournemouth pada 28 Mei nanti sepertinya bakal jadi laga final untuk The Toffees. Sembari menang, mereka juga harus berharap agar Leeds United gagal memetik poin penuh di dua laga tersisa.

Leeds United

Beralih ke Leeds United. Klub yang bermarkas di Elland Road ini statusnya sangat terancam terdegradasi. Berdasarkan perhitungan Opta, persentase kemungkinan Leeds United terdegradasi dari Premier League musim ini mencapai 66,7%. Jumlah poin yang baru mereka petik dan jadwal berat yang menanti jadi penyebabnya.

Kondisi keuangan Leeds United sebenarnya tak bermasalah seperti Everton maupun Leicester City. Mereka bahkan terbilang cukup boros di bursa transfer dengan total pengeluaran mencapai £128,67 juta. Sayangnya, 10 pemain anyar yang datang gagal menaikkan taraf performa The Whites.

Saat ini, Leeds berada di urutan ke-18 dan baru mengoleksi 31 poin dari 36 pertandingan. Selain rekrutan yang terbilang gagal, masih bermasalahnya performa Patrick Bamford, serta gonta-ganti pelatih yang terjadi sepanjang musim ini disinyalir jadi penyebab Leeds United terancam degradasi. Karena masalah ini, direktur olahraga Victor Orta memilih mengundurkan diri.

Sejauh ini, Leeds sudah berganti pelatih sebanyak 3 kali, dari Jesse Marsch ke Michael Skubala, lalu Javi Garcia, dan kini ditangani pelatih spesialis penyelamat degradasi, Sam Allardyce sejak 3 Mei 2023. Namun, menurut kami, pergantian pelatih ini sudah terlambat.

Cara terbaik agar Leeds United bertahan adalah menyapu bersih 2 laga tersisa dengan kemenangan. Sebenarnya, 1 kemenangan atau malah 1 hasil imbang saja sudah cukup, sembari berharap Everton dan Leicester gagal mendulang poin di laga tersisa. Intinya, Leeds wajib mendulang poin.

Namun, skema manapun tak akan mudah bagi pasukan Sam Allardyce. Lawan mereka adalah West Ham dan Tottenham, dua tim yang gagal mereka taklukkan di paruh pertama musim ini.

Di pertemuan pertama kontra West Ham, Leeds hanya meraih 1 poin saat bermain di Elland Road. Sementara di pertemuan pertamanya kontra Spurs, Leeds takluk 4-3 di London.

Satu hal lagi yang memberatkan Leeds United adalah catatan buruk mereka dalam 7 pertandingan terakhir. Leeds tanpa kemenangan dengan rekor 2 kali imbang dan 5 kali kalah. Dalam 12 pertandingan terakhirnya, The Whites juga selalu kebobolan.

Jika Leeds United gagal mendulang poin di dua laga tersisanya, maka bisa dipastikan mereka akan menemani Southampton dan kemungkinan besar, Leicester City.

Leicester City

Kondisi Leicester City memang memprihatinkan. Terlalu banyak masalah di kubu The Foxes. Masalah Leicester City ini sudah beberapa kali kami bahas sejak awal musim. Mulai dari krisis finansial, mismanajemen The Foxes, hingga skuad yang digembosi dan kurang didukungnya Brendan Rodgers sebagai pelatih.

Adanya prahara tersebut membuat performa Leicester City sudah compang-camping sejak awal musim. Bahkan, zona degradasi sudah mereka tempati sejak pekan ke-3 hingga memasuki pekan ke-13. Sempat duduk di peringkat 13 pasca Piala Dunia 2022, The Foxes kemudian secara perlahan terjun lagi ke zona degradasi.

Kini, mereka duduk di tangga ke-19 Premier League setelah hanya mengumpulkan 30 poin dalam 36 pertandingan. Hanya menang sekali dan imbang tiga kali dalam 14 pertandingan terakhir adalah penyebab The Foxes kini berada di ujung tanduk. Jelang pekan pamungkas, persentase kemungkinan Leicester City terdegradasi terus meningkat, dari hanya 27,7% pada awal April, kini telah menjadi 85%.

Leiester memang sulit diselamatkan. Opta bahkan memprediksi kalau Leicester tak akan mendapat apa-apa di laga tersisa. The Foxes tercatat sebagai satu-satunya tim di lima liga top Eropa yang belum pernah mencatatkan clean sheet setelah Piala Dunia 2022.

Di pekan ke-37, mereka akan bertandang ke markas Newcastle yang di pertemuan pertama musim ini sukses mengandaskan Leicester dengan skor telak 0-3. Ini adalah laga yang tak boleh berakhir kalah bagi pasukan Dean Smith. Jika Leicester kalah di laga ini, maka laga kontra West Ham United di pekan terakhir sudah tak ada artinya bagi mereka.

Secara matematis, dua hasil imbang sudah cukup, tetapi kemungkinan tersebut jelas sangat kecil karena harus bergantung dengan hasil tim lain. Oleh karena itulah, hanya keajaiban yang mampu menyelamatkan Leicester City dari jurang degradasi Premier League.

West Ham United, Sang Penentu Degradasi Premier League Musim Ini

Itulah keempat kontestan yang belum aman dan masih terancam terdegradasi dari Premier League musim ini. Sejatinya, di luar keempat tim tadi, West Ham United juga belum aman 100%.

West Ham telah mengumpulkan 37 poin dari 36 pertandingan. Secara matematis, hanya Leeds United yang sanggup menyamai poin mereka. Itu pun, Leeds baru berhak mengkudeta West Ham apabila memiliki agregat gol yang lebih baik.

Nah, inilah yang menarik. Pada pekan berikutnya, West Ham akan menghadapi Leeds United di London Stadium. Lalu, akan bertandang ke Leicester City di pekan terakhir. Kedua lawan The Hammers adalah tim yang tengah terancam degradasi.

Jika West Ham berhasil menang atas Leeds, maka mereka sah bertahan. Sebaliknya, Leeds akan resmi terdegradasi. Hasil yang sama berlaku di laga kontra Leicester. Jika The Foxes berhasil menghindari kematian di markas Newcastle, mereka harus menjalani laga hidup dan mati kontra West Ham.

Untuk alasan inilah kami menambah West Ham United dalam daftar. Sebab, mereka berpotensi memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang akan terdegradasi dari Premier League musim ini.


Referensi: Squawka, Opta, SkySports, Independent, BBC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *