• March 5, 2024

Siapa Sangka, 7 Pelatih Hebat Yang Ternyata Seperguruan Dengan Pep Guardiola!

Pep Guardiola selalu dipandang sebagai pelatih yang revolusioner. Taktik yang dipakai selalu jadi tren di dunia kepelatihan. Tapi Pep juga belajar dari dua pelatih hebat sebelumnya. Yaitu bersama Johan Cruyff dan Louis Van Gaal

Sudah bukan rahasia kalau Pep banyak mengambil inspirasi dari permainan cair ala Johan Cruyff. Dan Pep juga banyak belajar soal kepelatihan saat Louis Van Gaal jadi pelatihnya di Barcelona. Tapi ternyata bukan Pep saja yang belajar dari dua pelatih tersebut. Siapa sangka, 7 pelatih hebat ini ternyata seperguruan dengan Pep Guardiola.

Ernesto Valverde

Sama seperti Pep Guardiola, Ernesto Valverde juga mempelajari sepak bola cari dari Johan Cruyff. Valverde tiba di Barcelona di tahun 1988. Ia adalah bagian dari revolusi klub yang ditetapkan Cruyff saat itu. Bersama, mereka mempersembahkan satu Piala Winners Eropa dan satu Copa del Rey. Valverde bertahan di Barca selama dua tahun sebelum akhirnya pindah ke Athletic Bilbao.

Setelah pensiun di tahun 1997, ia melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Awalnya sebagai pelatih tim akademi Bilbao di tahun 1997. Sampai di tahun 2003, ia pun dipercaya untuk melatih tim senior Bilbao. Ia sempat melatih berbagai klub dari Espanyol, Olympiakos, Villarreal, dan Valencia. Di tahun 2017, ia bahkan sempat melatih Barcelona.

Prestasi yang ia bawa ke klub-klubnya itu juga tidak bisa disepelekan. Yaitu tiga kali juara liga Yunani, dua piala liga Yunani, satu Copa del Rey bersama Barca, dua gelar La Liga untuk Barca, dan dua Piala Super Spanyol masing-masing untuk Barca dan Bilbao.

Saat Valverde melatih Barca, ia pernah berkata kalau dirinya yakin Cruyff akan bangga dengan tim asuhannya. Dikutip dari Tribuna, ia berkata: “Dia pasti bangga, anda dapat melihat klub ini memiliki kesamaan gaya yang sudah ditentukan. Mari kita nikmati”

Frank Rijkaard

Frank Rijkaard dan Johan Cruyff pernah bekerjasama saat Cruyff masih melatih Ajax Amsterdam. Rijkaard adalah gelandang andalan Cruyff saat itu. Mereka menghabiskan waktu bersama di Ajax hanya dua tahun. Di tahun 1985 sampai 1987.

Tapi selama dua musim itu, mereka dapat banyak gelar. Diantaranya satu gelar liga, dua piala liga Belanda, dan satu Piala Winners Eropa. Rijkaard dan Cruyff sebenarnya sangat dekat. Tapi sifat Rijkaard yang suka memberontak membuat mereka sempat berseteru di tahun 1987.

Rijkaard pensiun di tahun 1995 dan langsung jadi pelatih yang hebat. Di tahun 2003 ia jadi pelatih Barcelona. Dan terinspirasi dari Cruyff, Rijkaard juga melakukan revolusi di Camp Nou.

Sebelum dilatih Rijkaard, Barca bukanlah klub yang ditakuti. Tapi Rijkaard kemudian mendatangkan Ronaldinho dan Deco. Kemudian lebih memberi kepercayaan pada pemain akademi seperti Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Lionel Messi.

Ia jadi pelatih Barca selama lima tahun. Mendatangkan berbagai gelar untuk Barca seperti dua gelar La Liga, dua Piala Super Spanyol, dan satu Liga Champions. Sampai akhirnya di tahun 2008, ia digantikan oleh Pep Guardiola.

Julen Lopetegui

Dibandingkan dua nama sebelumnya, Julen Lopetegui mungkin bukan pemain yang terlalu krusial untuk Johan Cruyff. Ia adalah penjaga gawang cadangan di Barcelona. Tapi sering duduk di pinggir lapangan membuatnya jadi lebih bisa memperhatikan taktik yang diterapkan Cruyff.

Setelah pensiun di tahun 2002, ia pun jadi pelatih. Awalnya ia jadi pelatih Rayo Vallecano dan Real Madrid Castilla. Tapi nama besarnya mulai terbentuk saat ia membawa timnas Spanyol U-19 dan U-20 juara Euro. Ia pun dipercaya untuk melatih timnas senior Spanyol.

Meskipun mencatatkan hasil unbeaten di 20 pertandingan selama 3 tahun di timnas Spanyol, ia dipecat hanya dua hari sebelum Piala Dunia 2018 dimulai. Masalahnya karena ia menerima tawaran Real Madrid tanpa sepengetahuan federasi sepak bola Spanyol.

Sayangnya di Madrid ia malah hancur. Belum setengah musim di Madrid, ia pun dipecat. Lopetegui langsung bisa mengembalikan kehormatannya setelah melatih Sevilla. Disitu ia membawa Sevilla juara Europa League musim 2019/20.

Ronald Koeman

Saat Johan Cruyff datang ke Barcelona di tahun 1988, ia meminta satu orang untuk dibeli. Orang itu adalah Ronald Koeman yang sudah jadi bek andalannya di Ajax. Di situlah Koeman dan Pep Guardiola bertemu sebagai rekan setim. Dan ketertarikan mereka yang sama terhadap taktik dari Cruyff membuat Koeman dan Pep jadi teman akrab.

“Dia ingin tahu segalanya, lebih daripada pemain lain. Dia ingin tahu tentang sepak bola satu sentuhan, permainan posisi, atau umpan-umpan di ruang sempit. Pep sangat menyukai cara Cruyff bermain di Barcelona.” Kenang Koeman dikutip dari Eurosport.

Tapi Ronald Koeman tidak hanya menyerap ilmu dari Johan Cruyff. Ia juga belajar banyak dari Louis Van Gaal. Saat Van Gaal datang melatih Barcelona di tahun 1998, ia membawa Koeman sebagai asistennya.

Mereka membawa Barca juara La Liga di tahun 1999. Tapi saat Van Gaal hengkang dari Camp Nou di tahun 2000, Koeman pergi ke Vitesse untuk memulai karirnya sendiri. Setelah itu karir Koeman sebagai pelatih langsung melejit. Ia mempersembahkan dua piala super Belanda, tiga kali juara Liga Belanda, dan dua kali juara Copa del Rey yang salah satunya bersama Barcelona.

Luis Enrique

Nah, dari para murid Johan Cruyff, kini beralih ke para muridnya Louis van Gaal. Mungkin salah satu yang paling sukses adalah Luis Enrique. Enrique bermain untuk Barca selama dua periode Van Gaal. Yaitu 1997 sampai 2000 dan 2002 sampai 2003.

Selama masa pemerintahan Van Gaal itu Barca bisa dapat dua gelar La Liga, Copa del Rey, dan Piala Super UEFA. Enrique memuji Van Gaal sebagai pelatih terbaik yang pernah ia temui. Ia juga mengaku telah banyak belajar dari Van Gaal.

“Dia adalah salah satu pelatih terbaik yang pernah kami miliki. Dia sangat pekerja keras dan tegas. Van Gaal adalah orang yang penting dalam karir saya. Tidak hanya dalam hal sepak bola tapi juga tingkat pribadi. Saya belajar banyak darinya”

Setelah belajar banyak dari Van Gaal, Enrique tumbuh jadi pelatih yang bergelimang prestasi. Terutama saat ia melatih Barcelona. Ia mempersembahkan tiga Copa del Rey, dua La Liga, dan satu Champions League. Termasuk treble winner di musim 2014/15. Ditambah UEFA Super Cup dan Piala Dunia antar klub.

Phillip Cocu

Sama seperti Enrique, Phillip Cocu adalah pemain kesayangan Van Gaal ketika di Barcelona. Selain Messi, Cocu adalah salah satu pemain asing dengan penampilan terbanyak di Barca. Ia bermain untuk blaugrana dari tahun 1998-2004 dengan setidaknya mencatatkan 30 pertandingan setiap musimnya.

Setelah pensiun di tahun 2008, ia melanjutkan karir sebagai asisten pelatih timnas Belanda. Setelah itu ia memulai karir sebagai pelatih kepala di PSV Eindhoven. Cocu mengatakan kalau ia belajar banyak soal taktik dari Van Gaal.

“Dia mengajarkan saya skill taktis dan caranya bersama tim. Secara taktis, ia selalu kuat. Dia menjadikan saya lebih baik.” Kenangnya.

Sebagai pelatih, Cocu mungkin tidak sepopuler saat ia menjadi pemain di Barca. Tapi bukan berarti ia bukan pelatih yang hebat. Ia menjadikan PSV jadi tim yang ditakuti di Belanda. Di bawah kepemimpinannya, PSV tiga kali juara Eredivisie, dua kali piala super Belanda, dan sekali KNVB Cup.

Jose Mourinho

Sudah banyak yang tahu kalau Mourinho dan Pep sempat berteman saat di Barcelona. Tapi tidak banyak yang tahu kalau Jose Mourinho belajar banyak dari Louis Van Gaal. Tidak hanya soal taktik sepak bola, tapi juga dalam hal sifat dan personalitas.

Mourinho sudah berada di Barcelona sejak era Bobby Robson sebagai penerjemah. Saat Van Gaal datang menggantikan Robson, Mou tetap di Barca dan ditarik jadi asisten pelatihnya.

Mungkin tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi bagaimana kehebatan Mou sebagai pelatih. Ia selalu membawa tim yang dilatihnya dapat gelar juara. Ya, kecuali Tottenham.

Sumber referensi: Guardian, Marca, Tribuna, Daily, Eurosport, B/R, Sportstar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *