• February 21, 2024

Sialnya Hamburg SV, 5 Musim Gagal Promosi ke Bundesliga

Degradasi bukanlah sekadar turun kasta dari divisi atas ke divisi bawah. Degradasi juga bukan sekadar kegagalan biasa. Lebih daripada itu, degradasi adalah momok bagi setiap klub sepak bola. Sebab, sekali terdegradasi, tak ada jaminan akan langsung bisa promosi kembali ke kasta teratas.

Situasi itulah yang kini dialami salah satu klub legendaris terbesar di Liga Jerman, Hamburg SV. Hamburger Sport-Verein atau yang lebih dikenal dengan nama Hamburg SV memang termasuk dalam jajaran klub tersukses di Jerman. Mereka telah 6 kali menjuarai Liga Jerman, 3 kali mengangkat trofi DFB-Pokal, sekali menjuarai Piala Winners, dua kali menjuarai Piala Intertoto, dan sekali menjadi jawara Liga Champions Eropa.

Hamburg SV juga merupakan salah satu klub tertua di Jerman. Usia mereka sudah 104 tahun. Namun, jika dihitung sejak SC Germania, cikal bakal dari Hamburg SV berdiri, mereka sudah berusia 135 tahun. Fakta sejarah inilah yang membuat Hamburg SV mendapat julukan “der Dino” alias dinosaurus. 

Degradasi Bersejarah Hamburg SV 

Hamburg juga punya rekor bersejarah di Bundesliga Jerman. Hamburg adalah salah satu pendiri Bundesliga dan sejak Bundesliga dimulai pada 1963, mereka tak pernah terdegradasi. Sayangnya, rekor tersebut hancur pada akhir musim 2017/2018. Setelah 54 tahun 261 hari, Hamburg SV terdegradasi dari Bundesliga Jerman. 

Degradasi bersejarah tersebut jadi pukulan telak pendukung setia Hamburg SV. Kericuhan pun pecah di Volksparkstadion. Mereka yang kecewa melempar kembang api ke dalam lapangan, membuat asap menyelimuti seisi stadion. 

Laga terakhir Hamburg di Bundesliga itu pun harus dihentikan lebih awal setelah ratusan steward, polisi, bahkan pasukan berkuda masuk ke dalam stadion untuk menghadang pendukung yang rusuh. Sebuah akhir yang memilukan dan memalukan bagi perjalanan panjang Hamburg SV di Bundesliga.

Hamburg SV Terjebak di 2.Bundesliga

Setelah degradasi bersejarah tersebut, Hamburg SV kemudian untuk pertama kalinya menjalani musim pertama mereka di 2.Bundesliga. Sebagai tim yang baru saja terdegradasi, Hamburg mesti kehilangan beberapa pemain bintangnya, sebut saja Luca Waldschmidt, Filip Kostic, Andre Hahn, hingga Albin Ekdal.

Akan tetapi, sebagai salah satu klub raksasa di Jerman, Hamburg tetap diprediksi akan cepat kembali ke Bundesliga dan tidak berlama-lama di kasta kedua.

Anggapan tersebut tak sepenuhnya salah. Di putaran pertama musim 2018/2019, Hamburg sukses memimpin klasemen. Namun, bencana terjadi di putaran kedua, khususnya jelang akhir musim. 

Hamburg terlempar dari persaingan juara setelah gagal memetik satu pun kemenangan dalam 8 pertandingan beruntun dari pekan ke-26 hingga 33. Hasil tersebut membuat mereka finish di peringkat 4 dan gagal promosi ke Bundesliga. 

Kegagalan pahit di percobaan pertama itu membuat Hamburg lebih serius menatap musim 2019/2020. Demi segera promosi ke Bundesliga, mereka merekrut pelatih berpengalaman, Dieter Hecking. Di bawah kendali pelatih yang pernah membawa Wolfsburg juara DFB-Pokal 2015 itu, Hamburg juga merombak skuadnya dengan nama-nama yang lebih segar. 

Hasilnya tokcer. Sejak pekan kedua, Hamburg mampu terus menjaga asa dengan konsisten menghuni zona promosi. Namun, seperti musim sebelumnya, bencana terjadi jelang akhir musim. Hamburg kalah secara mengejutkan di dua laga terakhir yang membuat mereka terlempar ke peringkat 4 dan kembali gagal promosi ke Bundesliga.

Dieter Hecking pun dipecat. Hamburg kemudian menunjuk Daniel Thioune sebagai pelatih untuk mengarungi musim 2020/2021. Thioune juga bukan pelatih kacangan. Dua musim sebelum menukangi Hamburg, Thioune sukses mengantar VfL Osnabrück menjuarai Liga 3 Jerman dan terpilih sebagai pelatih terbaik.

Keseriusan mereka di musim itu juga dibuktikan dengan perekrutan top skor 2.Bundesliga sekaligus pemain spesialis promosi, Simon Terodde. Akan tetapi, hasilnya sama saja. Seperti musim-musim sebelumnya, Hamburg SV kembali finish di peringkat 4 dan gagal promosi ke Bundesliga. 

Perombakan tim kembali dilakukan untuk mewujudkan promosi di musim 2021/2022. Salah satu yang dirombak adalah posisi ujung tombak. Simon Terodde dilepas ke Schalke. Sebagai gantinya, Hamburg merekrut Robert Glatzel. Sementara itu, pelatih Daniel Thioune dipecat dan digantikan oleh Tim Walter. 

Perombakan ini pada awalnya tak terlalu sukses. Hamburg hanya menghuni peringkat 7 di paruh pertama musim. Namun, tak seperti tiga musim sebelumnya, Hamburg yang biasanya terpeleset jelang akhir musim justru tampil membaik. 

5 kemenangan beruntun sukses mengantar Hamburg SV mengakhiri musim 2021/2022 dengan finish di peringkat ketiga. Akhirnya, setelah berjuang selama 4 musim, Hamburg benar-benar punya peluang yang nyata untuk promosi kembali Bundesliga. 

Finish di posisi ketiga 2.Bundesliga membuat Hamburg punya peluang untuk naik kasta lewat jalur play-off promosi/relegasi melawan tim peringkat 16 Bundesliga, Hertha Berlin. Peluang Hamburg untuk kembali ke Bundesliga saat itu terbilang besar. Pasalnya, di musim tersebut, Hertha seperti tim sekarat dan bisa dibilang cukup beruntung bisa finish di peringkat 16.

Peluang besar der Dino untuk promosi juga menjadi terbuka lebar tatkala gol tunggal Ludovit Reis sukses mengantar Hamburg menang 1-0 di leg pertama yang digelar di Berlin. Tinggal selangkah lagi bagi der Dino untuk mentas dari 2.Bundesliga. Hasil imbang saja sudah cukup untuk mengantar mereka kembali ke Bundesliga.  

Akan tetapi, peluang besar tersebut gagal mereka manfaatkan. Bermain dihadapan 57 ribu pasang mata yang memadati Volksparkstadion, pasukan Tim Walter malah takluk 2-0. Hasil itu membuat Hertha tak jadi terdegadasi sekaligus membuat Hamburg SV kembali gagal promosi ke Bundesliga.

Kegagalan pahit itu tak membuat Hamburg menyerah. Masih mempertahankan Tim Walter sebagai juru taktiknya, der Dino sekali lagi jadi penantang serius di 2.Bundesliga musim 2022/2023.

Hamburg menciptakan persaingan yang sangat ketat bersama Darmstadt dan FC Heidenheim musim ini. Persaingan menjadi semakin panas ketika Darmstadt sukses mengamankan tiket promosi langsung ke Bundesliga di pekan ke-33. Alhasil, laga pekan ke-34 menjadi laga final bagi Hamburg dan Heidenheim untuk memperebutkan 1 tiket tersisa untuk promosi langsung ke Bundesliga. 

Hamburg yang tengah duduk di peringkat 3 dengan koleksi 63 poin hanya tertinggal 1 poin dari Heidenheim. der Dino bisa mengkudeta Heidenheim andai menang di kandang Sandhausen, sementara Heidenheim gagal mengalahkan Jahn Regensburg.

Skema indah itu mendekati kenyataan. Hamburg sukses mengalahkan Sandhausen 1-0. Mereka mengira telah menyelesaikan tugasnya, sebab di laga lain Heidenheim sedang tertinggal 2-1 dari Regensburg. Para suporter kemudian menyerbu lapangan, berpesta dan menangis haru karena yakin kalau hasil tersebut sudah cukup untuk membawa tim kesayangan mereka kembali ke tempat asalnya.

Namun, 2 gol telat Heidenheim di masa injury time membuat antusiasme Hamburg SV berubah menjadi keputusasaan. Malu adalah kata yang pantas untuk mengambarkan situasi mereka saat itu. Kemenangan Heidenheim membuat Hamburg gagal naik ke peringkat dua dan harus menjalani laga playoff melawan VfB Stuttgart.

Seperti yang bisa kita duga, Hamburg kalah telak dari Stuttgart. Dalam pertandingan dua leg, mereka takluk dengan agregat 6-1. Sekali lagi, Hamburg SV gagal promosi ke Bundesliga.

Sial! Hamburg SV Mungkin Belum Pantas Kembali ke Bundesliga

Sial adalah kata yang pantas untuk menjelaskan nasib Hamburg SV. Mereka telah berusaha begitu keras untuk kembali ke Bundesliga. Berbagai jenis formula sudah mereka coba untuk mewujudkan misi tersebut, tetapi dalam 5 musim beruntun, hasilnya tetap sama, yakni kegagalan.

Mengganti pelatih sudah pernah mereka coba. Perombakan skuad juga sudah diusahakan. Dana tak kurang dari €27 juta sudah mereka belanjakan selama 5 musim terakhir. Hamburg juga selalu masuk dalam jajaran tim termahal di 2.Bundesliga. Nilai skuad mereka tak pernah keluar dari 3 besar dan hanya kalah dari beberapa tim yang baru degradasi dari Bundesliga. 

Namun ternyata, skuad yang mentereng hingga pelatih yang berpengalaman masih tak sanggup membuat Hamburg SV meraih 1 tiket promosi ke Bundesliga. Kini, 5 musim sudah Hamburg SV terjebak di 2.Bundesliga. 

Sebelum mencoba untuk keenam kalinya, mungkin Hamburg dan para pedukungnya harus lebih dulu menyadari kalau mereka memang belum pantas kembali ke Bundesliga. Selalu terpeleset dan tampil antiklimaks di paruh kedua musim dalam 5 musim beruntun jadi bukti kalau “sang dinosaurus” tak belajar dari kesalahan. 

Disamping membenahi mental yang sudah pasti remuk, Hamburg harus lebih dulu memahami kesalahan mereka. Begitu pula dengan Tim Walter yang tetap dipertahankan sebagai pelatih. Akan sangat memalukan apabila musim depan ia kembali gagal untuk ketiga kalinya secara beruntun. 

Tidak ada kata mustahil dalam sepak bola. Seperti halnya Hamburg SV yang akan kembali ke habitatnya di Bundesliga. Entah kapan itu terjadi. Namun, selama mereka tak menyerah apapun bisa terjadi. 

***

Referensi: Express, Reuters, Goal, Bundesliga, Transfermarkt. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *