• February 21, 2024

Seharusnya Liverpool Tak Biarkan Jordan Henderson Pergi!

Jordan Henderson jadi nama bintang kesekian yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sepak bola Eropa dan berkarir di Arab Saudi. Pemain berkebangsaan Inggris itu dilaporkan sudah meninggalkan skuad Liverpool yang sedang melakoni tur pramusim di Jerman.

Itu dilakukan untuk mengurus beberapa berkas guna melancarkan kepindahannya ke Al-Ettifaq. Kabarnya, Henderson bakal mendapat kontrak selama tiga tahun dengan gaji hampir 700 ribu pounds atau setara Rp13 miliar per pekannya. 

Kepindahan ini jadi kabar yang begitu mengejutkan, lantaran Hendo merupakan pemain yang digadang-gadang bakal jadi legenda di Liverpool. Tak bisa dipungkiri, meski usianya tak muda lagi Hendo adalah bagian penting dari skuad Liverpool dalam beberapa tahun terakhir. Lantas mengapa ia hengkang? Apakah seharusnya The Reds bisa menahannya untuk tidak pergi?

Henderson Adalah Liverpool Begitupun Sebaliknya

Memang benar adanya kalau Jordan Henderson bukan pemain sembarangan di klub yang bermarkas di Anfield tersebut. Meski bukan produk asli dari akademi, namanya begitu melekat dengan Liverpool. Bagaimana tidak? Tahun 2023 adalah tahun ke-12-nya mengenakan baju kebesaran The Reds.

Beberapa pihak pun meyakini Henderson bakal jadi legenda Liverpool di kemudian hari. Bahkan salah satu legenda Liverpool, Jan Molby pernah berkata kalau Henderson ini pemain yang tak begitu menonjol dalam permainan, tapi selalu terasa spesial. Keberadaannya sangat penting dalam setiap pola permainan yang diusung pelatih The Reds.

Mungkin beberapa orang tak sependapat dengannya, tapi Molby berani memastikan kalau mereka akan merasakan sepenting apa Hendo setelah sang pemain pergi nanti. Karakternya yang jauh lebih mendominasi dari gaya bermainnya akan membuat rekan-rekan satu timnya merasakan kehampaan setelah meninggalkan posisinya di lini tengah. 

Liverpool bahkan sempat berniat untuk mengikat Jordan Henderson dengan kontrak seumur hidup pada tahun 2021. Sayangnya, kontrak eksklusif itu tak menjadi kenyataan karena ada beberapa hal yang tak disepakati.

Penerus Gerrard

Berbekal karakternya yang kuat, Jordan Henderson juga dipercaya menjadi kapten tim sejak tahun 2015. Tak mudah menjadi kapten di tim yang kaya akan nilai-nilai leluhur seperti Liverpool. Saat itu, ia menggantikan Steven Gerrard yang memutuskan untuk hengkang dan bergabung dengan LA Galaxy.

Ditunjuk langsung oleh Gerrard, membuat beban di pundak Hendo semakin menumpuk. Apalagi di tahun-tahun awal kepemimpinannya, ia sering diganggu cedera. Tetapi kepercayaan yang dianugerahkan kepadanya justru memotivasi Hendo untuk bangkit dan menjadi lebih baik setiap harinya. Selama delapan tahun, Hendo selalu membuktikan kalau dirinya layak mengemban jabatan tersebut.

Sejak bergabung pada tahun 2011 dari Sunderland, punggawa Timnas Inggris ini sudah mengemas 492 penampilan dan mencatatkan 33 gol dan 61 assist di semua kompetisi untuk Liverpool. Henderson juga telah memenangkan beberapa trofi bergengsi termasuk gelar Liga Inggris yang telah lama diidam-idamkan oleh publik Anfield.

Henderson juga jadi kapten kedua setelah Gerrard yang bisa memenangkan Liga Champions bersama Liverpool. Yang paling keren adalah, ia jadi kapten pertama yang bisa mengangkat trofi Piala Dunia Antarklub dengan The Reds. Dan kini, catatan itu sepertinya sudah tak akan bertambah lagi. Karena perpisahannya dengan klub yang membesarkan namanya itu kian dekat.

Sosoknya Masih Dibutuhkan

Banyak yang menyayangkan keputusan ini. Karena sosok Jordan Henderson sebetulnya masih sangat dibutuhkan oleh Liverpool. Kembali lagi, karakternya sebagai leader dan pemain yang telah menelan asam garam selama berseragam merah tua khas Liverpool lah yang dibutuhkan oleh klub dan pemain-pemain lain.

Seperti yang kita ketahui, Jurgen Klopp tengah mencanangkan rekonstruksi lini tengah setelah musim lalu, lini tengah Liverpool jadi salah satu permasalahan utama. Lini tengah Liverpool musim lalu dirasa terlalu tua dan terlalu rentan cedera. Maka dari itu, manajemen klub melepas beberapa nama seperti James Milner, Naby Keita, dan Alex Oxlade Chamberlain.

Bahkan dalam waktu dekat tampaknya Jurgen Klopp juga akan memberikan izin pergi Fabinho. Gelandang asal Brazil itu dikabarkan tinggal selangkah lagi gabung klub Arab Saudi, Al-Ittihad. Cuci gudang besar-besaran ini dilakukan karena Liverpool sudah mendapatkan Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai. 

Namun, hal itu justru bisa jadi bumerang bagi The Reds.Mereka kehilangan sosok yang berpengalaman dalam skuad. Seharusnya Liverpool bisa menahan Henderson untuk setahun atau dua tahun lagi. Karena pemain-pemain baru pasti butuh sosok pembimbing untuk membantu adaptasi dan transisi.

Tanpa regenerasi yang baik, lini tengah Liverpool musim depan bisa saja kembali ke setelan pabrik. Meski berisikan pemain-pemain hebat, namun mereka belum berpengalaman di Liverpool.

Apalagi sepak bola Jurgen Klopp merupakan salah satu yang paling sulit untuk dipahami. Jika tidak berada dalam bimbingan yang tepat, pemain baru bisa saja hilang arah. Sosok Hendo yang senior, bagaimanapun mampu menjadi kunci agar pemain-pemain tadi tidak layu sebelum berkembang di Anfield.

Kesetiaannya Diragukan, Tapi…

Di sisi lain, beberapa fans menilai kepindahan Jordan Henderson merupakan sebuah pengkhianatan. Kesetiaannya diragukan. Para fans menganggap Hendo menggadaikan kesetiaannya terhadap The Reds demi gaji selangit di Arab Saudi. Tapi keputusan ini bukan semata-mata karena uang.

Melihat dedikasi dan apa yang sudah diperbuat Henderson di Liverpool menjadikan hengkang dari klub adalah opsi terakhir dalam karirnya. Jika bukan karena situasi yang mendesak dan tidak menguntungkan baginya, pasti Hendo tak akan berpaling dari klub yang telah membesarkan namanya itu.

Situasi yang dialaminya musim 2022/23 memang begitu ironis. Sepanjang musim, Jordan Henderson bahkan sudah kenyang dengan hujatan dari oknum fansnya sendiri. Sebagai pemimpin dan pemain penting, fans mengeluhkan performa Henderson yang jauh menurun dari musim-musim sebelumnya.

Padahal Liverpool memang dalam performa yang kurang baik musim lalu. Jadi akan terlalu jahat apabila semua kesalahan dilimpahkan kepada sang kapten. Mendengar itu, Jurgen Klopp pun buka suara. Menurutnya, di usia yang sudah menginjak 33 tahun, Henderson mengalami kelelahan setelah musim 2021/22 tenaganya begitu diperas, baik di Liverpool maupun Timnas Inggris.

Total sejak awal musim 2021/22 lalu Henderson telah memainkan 91 laga di semua ajang termasuk timnas. Menurut Jurgen, wajar jika penampilan Hendo musim 2022/23 menurun. Tapi mau bagaimana lagi, fans dan kritikus bola pasti memiliki ekspektasi tinggi terhadap siapa pun yang bermain untuk Liverpool.

Kelelahan juga membuat Henderson terkadang tak bisa mengontrol emosinya. Image-nya semakin buruk setelah tertangkap kamera bertengkar dengan beberapa pemain di lapangan. Contohnya saja ketika beradu mulut dengan Alisson di pertandingan melawan Chelsea.

Demi Kebaikan Bersama

Menuju akhir musim situasinya kian tak kondusif. Semakin banyak fans yang menginginkan kepergian sang skipper dari Anfield. Maka dari itu, ketika tawaran dari Al-Ettifaq datang, Henderson benar-benar mempertimbangkannya. Apalagi yang menangani tim tersebut adalah mantan rekan satu timnya, Steven Gerrard. 

Di luar gajinya yang memang sangat besar, Henderson mengambil keputusan tersebut karena mempertimbangkan masa depan Liverpool. Dengan gelagat manajemen yang terus mendatangkan gelandang baru, ia paham betul masanya di Liverpool sudah habis. 

Ia merasa ini jadi waktu yang tepat bagi Liverpool untuk mengganti pemain-pemain yang sudah uzur dengan tenaga yang lebih muda. Jadi, anggapan kalau Jordan Henderson menggadaikan kesetiaannya demi uang tidak sepenuhnya benar. Keputusan untuk meninggalkan tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah itu demi kebaikan bersama.

Sumber: Goal, The Guardian, Sporting News, Daily Mail, Liverpool

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *