• March 4, 2024

Sebelum Oshimhen, Bintang Afrika Ini Sudah Sukses Duluan di Serie A

Pernyataan kontroversial tentang pemain sepakbola Afrika Selatan pernah keluar dari mulut Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis. Pria berusia 74 tahun itu pernah berkata kalau dirinya tak sudi membeli pemain asal Benua Afrika lagi. Padahal Napoli meraih scudetto musim 2022/23 juga berkat kegemilangan dua pemain Afrika, Frank Anguissa dan Victor Osimhen.

Ternyata Laurentiis punya alasannya sendiri. Ia kesal karena jadwal Piala Afrika selalu bentrok dengan jadwal kompetisi Eropa. Namun, ia tak bisa menampik kalau Benua Afrika memang kerap menyuntikan bakat terbaiknya ke kompetisi Eropa, termasuk Serie A. 

Tak jarang, pemain asal Afrika juga berperan penting dalam membantu tim untuk menjuarai berbagai gelar. Sebelum munculnya Osimhen sudah banyak pemain Afrika yang meraih sukses di Serie A. Siapa saja mereka?

Samuel Eto’o

Samuel Eto’o bukan nama yang asing lagi bagi penggemar Serie A. Meski tak lama, kiprahnya di Inter Milan jadi salah satu yang paling diingat apabila sedang membicarakan pesepakbola asal Benua Hitam. 

Pada tahun 2009, Inter Milan dan Barcelona sepakat melakukan pertukaran pemain antara Samuel Eto’o dan Zlatan Ibrahimovic. Jika dilihat dari hasilnya, Nerazzurri jadi pihak yang lebih diuntungkan. Sebab, pemain yang kini menjabat jadi Ketua Federasi Sepakbola Kamerun itu selalu berperan penting di kejayaan Inter.

Selama bermain di Giuseppe Meazza, penyerang asal Kamerun itu sukses mencetak 53 gol dari 102 penampilannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk berprestasi. Bahkan, pada musim pertamanya saja Eto’o sudah membawa Inter meraih treble winner dengan menjuarai Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions musim 2009/10.

Prestasi itu menjadikan Nerazzurri sebagai satu-satunya tim Italia yang mampu meraih prestasi tersebut hingga kini. Eto’o hanya bermain selama dua musim saja di Serie A dan memutuskan bergabung dengan Anzhi Makhachkala tahun 2011.

Sulley Muntari

Selanjutnya ada Sulley Muntari. Pemain yang terkenal dengan gol hantunya itu memiliki kejayaan di Serie A era 2008 hingga 2011. Meski lebih terkenal ketika membela AC Milan, Muntari mendapat banyak gelar ketika masih berseragam Inter Milan.

Muntari sebetulnya sudah bermain di Serie A sejak usia muda. Karena ia merupakan jebolan akademi Udinese tahun 2002. Selama karirnya di Serie A, ia hanya meraih trofi bersama Inter Milan. Muntari memenangkan setidaknya tujuh trofi termasuk trofi Liga Champions musim 2009/10 dan dua scudetto Serie A musim 2008/09 dan 2009/10 bersama Inter.

Setelah sukses besar dengan Inter Milan, pemain asal Ghana ini membelot ke rival Inter, yakni AC Milan. Namun, bersama Rossoneri, Muntari tak memenangkan apa pun. Ia bertahan di Milan hingga tahun 2015 sebelum hijrah ke Arab Saudi.

Kwadwo Asamoah

Dari keluarga Asamoah juga ada yang sukses besar di Serie A. Pemain tersebut adalah Kwadwo Asamoah. Sebetulnya pemain asal Ghana ini sudah bermain di Serie A sejak tahun 2008 silam. Tapi baru merasakan sukses ketika bergabung dengan Juventus pada tahun 2012. 

Didatangkan dari Udinese, Asamoah berhasil meraih banyak gelar bersama La Vecchia Signora. Selama membela Juventus, ia dikenal sebagai gelandang pekerja keras. Ia berperan penting dalam kesuksesan Juve mendominasi Serie A kala itu. Selama kurang lebih enam tahun di Turin, Asamoah memenangkan enam trofi Liga Italia dan empat Coppa Italia. 

Mungkin hingga saat ini, Kwadwo Asamoah berstatus sebagai pemain Afrika paling sukses di Serie A. Sayangnya, cedera lutut dan otot membuat Asamoah mulai terasingkan di dua musim terakhirnya bersama Juve. Setelah tak mendapatkan tempat di skuad utama, Asamoah sempat bermain untuk Inter dan Cagliari. Tapi di dua klub tersebut ia tak mendapat satu pun trofi.

Achraf Hakimi

Dari sektor bek ada beberapa nama yang berhasil sukses di Serie A. Salah satunya ada Achraf Hakimi. Jalan terjal pun telah dilalui Hakimi hingga mencapai titik ini. Berstatus pemain buangan dari Real Madrid, pemain berpaspor Maroko ini menunjukan kemampuan sesungguhnya kala bermain untuk Borussia Dortmund tahun 2018. Hanya berstatus pinjaman, ia pun kembali ke Madrid pada tahun 2020.

Tapi karena masih saja tak mendapat ruang di skuad utama, Inter Milan pun datang untuk menyelamatkan bek kanan tersebut. Baru semusim di Inter Milan, Hakimi sudah jadi tumpuan lini bertahan Nerazzurri. Kecepatan dan kemampuannya membantu lini serang jadi favorit pelatih Inter Milan saat itu, Antonio Conte. 

Setelah bermain apik sepanjang musim, ia menutup musim 2020/21 dengan manis. Hakimi mempersembahkan scudetto ke-19 untuk klub yang bermarkas di San Siro itu. Sayangnya, ia hanya bertahan semusim di Inter. Meski kontraknya masih menyisakan empat tahun, Inter tak kuasa menahan ketika PSG datang membawa 68 juta euro (Rp1,1 triliun) untuk menebus Hakimi.

Mehdi Benatia

Nama lain dari posisi bek adalah Mehdi Benatia. Sama-sama berasal dari Maroko, karir Benatia sudah lebih dulu bergelimang trofi bersama Bayern Munchen sebelum akhirnya melanjutkan kegemilangan di Serie A bersama Juventus pada tahun 2017.

Sebetulnya, Juve bukan tim Italia pertama yang pernah dibelanya. Sebelumnya Benatia pernah berseragam Udinese pada tahun 2010 dan AS Roma tahun 2013. Tapi barulah percobaan ketiganya di Serie A ia meraih beberapa trofi bergengsi. Selama berseragam Si Nyonya Tua, tiga scudetto sudah didapatkan Benatia. 

Tentu itu bukan torehan yang biasa bagi pesepakbola Afrika yang berkarir di Eropa. Sayangnya, ia memutuskan untuk meninggalkan Juve pada tahun 2019 meski masih ada kesempatan untuk memperpanjang kontraknya. Ia memilih untuk bermain di Qatar bersama Al-Duhail karena ingin membesarkan anaknya di lingkungan yang kental akan budaya Islam.

Franck Kessie & Ismael Bennacer

Saat AC Milan meraih scudetto pada musim 2021/22, ada dua pemain asal Benua Afrika yang berperan penting dalam prosesnya. Dua pemain tersebut adalah Franck Kessie yang berasal dari Pantai Gading dan Ismael Bennacer yang berkewarganegaraan Aljazair. Keduanya berduet di lini tengah Milan dan bahu-membahu mengantarkan Milan menapaki tangga kejayaan.

Kessie sendiri sudah berseragam Milan sejak tahun 2019. Perannya vital karena ia amat versatile. Ia bisa mengemban tugas menyerang maupun bertahan dengan sama baik. Scudetto musim 2021/22 jadi gelar terakhirnya bersama Milan, karena di akhir musim ia direkrut oleh raksasa Spanyol, Barcelona. 

Sama halnya dengan Kessie, Bennacer sudah bergabung dengan Milan sejak tahun 2019. Bedanya Bennacer mengemban peran sebagai gelandang yang cenderung lebih bertahan. Beruntungnya Milan, saat dirinya tampil apik di musim tersebut, ia tak ikut pindah seperti Franck Kessie. Bennacer masih berpeluang untuk menambah gelarnya bersama Milan.

Mario Lemina

Terakhir ada Mario Lemina yang meraih masing-masing dua gelar Serie A dan Coppa Italia bersama Juventus. Kenapa nama ini diletakan terakhir, karena perannya memang tak sevital pemain-pemain lain dalam daftar. Didatangkan sebagai pemain muda pada tahun 2015, pemain asal Gabon ini hanya jadi proyek gagal di skuad Bianconeri.

Lemina bermain tak lebih dari sepuluh pertandingan setiap musimnya. Meski begitu, namanya tetap tercatat sebagai pemain aktif setiap kali Juve meraih gelar lantaran ia dirasa layak mendapatkan medali karena memenuhi syarat laga minimal. Lemina hanya bertahan selama dua musim sebelum akhirnya dibuang ke Southampton pada tahun 2017.

Sumber: Transfermarkt, Goal, BR, Sportskeeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *