• February 21, 2024

Park Chu Young Sang Pengkhianat Arsenal dan Korea Selatan

Liga Inggris sudah tak asing dengan talenta-talenta Korea Selatan. Jika Manchester United terkenal dengan stamina Park Ji-sung, Tottenham Hotspur dengan ketajaman Son Heung-min dan Wolves dengan kelincahan Hwang Hee-chan, maka Arsenal sempat mengenal kebusukan Park Chu-young.

Seperti pemain-pemain Asia sebelumnya yang pernah datang ke Liga Inggris, Chu-young dinilai jadi yang salah satu yang terbaik di eranya. Namun, ketika didatangkan pada 2011, salah satu media terbesar di Prancis, L’Equipe mengeluarkan pernyataan aneh tentang Chu-yong. 

Portal berita tersebut seakan meragukan keputusan Wenger untuk mendatangkan pemain yang kala itu sudah berusia 26 tahun. Dan benar saja, ternyata pemain yang satu ini cukup problematik. Lantas bagaimana kisah kontroversial Park Chu-young di Arsenal?

Membuat Arsene Wenger Naksir

Park Chu-young merupakan pemain hasil proyek Samba Osmosis garapan Korea Selatan. Proyek ini memiliki misi untuk mengirimkan bakat-bakat terbaiknya ke Negeri Samba untuk menimba ilmu sepakbola pada sekitar tahun 2002. Proyek tersebut bertujuan untuk menghasilkan talenta terbaik seperti yang dilakukan Jepang saat mengirim Kazu Miura ke Santos. 

Chu-young jadi salah satu yang terpilih. Ia dikenal sebagai striker yang cepat dan tajam di mulut gawang. Selain itu, Chu-young juga dianggap sebagai pesepakbola yang cerdas. Dilansir The Guardian, pemain yang pernah membela Celta Vigo itu memiliki IQ yang mendekati 160. Itu sangat tinggi bagi pesepakbola.

Sayangnya, ia tak bertahan lama di proyek itu. Meski mendapat suntikan dana dari sponsor dan negara, ia memilih pulang kampung dan menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama FC Seoul. Keputusannya untuk balik ke Korea Selatan tampaknya tak begitu buruk. Karena performanya di kompetisi domestik justru menarik perhatian klub asal Prancis, AS Monaco.

Mantan klub dari Anthony Martial itu pun akhirnya menggaet Chu-young pada tahun 2008. Bermain kurang lebih selama tiga musim di Ligue 1, Chu-young terbilang lumayan. Meski tak menjadi top skor atau memenangkan trofi, grafik performanya terus meningkat. 

Di musim pertama ia hanya mencetak lima gol, di musim kedua meningkat jadi delapan gol, dan di musim 2010/11 atau musim ketiganya, Chu-young berhasil mencetak 12 gol. Performanya yang terus menanjak setiap tahunnya itulah yang membuat Arsene Wenger kepincut. Akhirnya ia bergabung dengan The Gunners di musim panas tahun 2011.

Harapan Masyarakat Korea

Saking berharapnya sama si Chu-young, Arsene Wenger sampai mengosongkan tempat di lini depan dengan meminjamkan Nicklas Bendtner dan Carlos Vela ke klub lain. Dengan begitu, pemain asal Korea Selatan itu jadi pelapis satu-satunya Robin Van Persie yang sudah uring-uringan pengen pindah. Jadi, kemungkinan bakal jadi pilihan utama di musim-musim berikutnya cukup besar.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Emirates Stadium, Chu-young jadi kebanggaan warga Korea Selatan. Mereka merasa Chu-young telah mewakili cita rasa Asia di skuad Arsene Wenger. Berkaca pada suksesnya Park Ji-sung di Manchester United, tak heran warga Negeri Ginseng mulai menaruh harap lebih pada Chu-young.

Sayang, harapan tinggi para fans justru dijatuhkan oleh Chu-yong itu sendiri. Penampilan apiknya di AS Monaco sama sekali tak terlihat di Arsenal. Chu-young pun dicap gagal. Ia hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

Mantan punggawa Timnas Korea Selatan itu hanya bermain di kompetisi-kompetisi domestik macam Piala Liga atau Piala FA. Chu-young hanya mencatatkan tujuh menit bermain di kompetisi Liga Inggris. Memalukan. Dirasa gagal, akhirnya Chu-young dipinjamkan ke Celta Vigo musim 2012/13. 

Busuknya Mulai Kelihatan

Park Chu-young dianggap sebagai salah satu kegagalan terbesar Arsenal dalam mendatangkan talenta berbakat. Tapi anehnya Arsene Wenger tetap sabar. Pelatih asal Prancis itu tak buru-buru untuk menjualnya. Pengalamannya melatih di Asia tampaknya mempengaruhi sudut pandangnya terhadap para pemain asal Benua Kuning.

Namun, Chu-yong justru mengkhianati kepercayaan yang diberikan Arsene Wenger. Alih-alih bermain bagus, ia justru menciptakan skandal di Korea Selatan. Menggunakan kecerdasannya yang di atas rata-rata, Chu-young mengakali kebijakan negaranya soal pelaksanaan wajib militer.

Pada musim 2013/14, Chu-young dihadapkan dengan tuntutan wajib militer selama dua tahun. Kebijakan itu belum berubah karena hal tersebut terjadi jauh sebelum pandemi. Itu menandakan kalau dirinya harus menepi dari dunia sepakbola selama waktu yang cukup lama. Tapi bukan Park Chu-young namanya kalau tak kalah cerdik dengan pemerintah.

Dengan santainya, ia mengajukan penundaan selama sepuluh tahun kepada pemerintahan Korea Selatan. Itu didasari atas sang pemain yang memiliki “Angel Card” yang sengaja ia simpan untuk momen ini. Park Chu-young ternyata masih mengantongi izin tinggal di Monaco hingga tahun 2022. Itu didapat saat ia membela AS Monaco selama tiga musim.

Menurut hukum Korea Selatan, siapa saja warga Korea yang telah hidup lebih dari setahun di negara lain dan mendapat izin tinggal lebih dari lima tahun, berhak memperpanjang masa tinggal mereka di luar negeri sampai usia 37 tahun. Hal ini memungkinkan Chu-young untuk menghindari wajib militer karena pria Korea Selatan hanya boleh menjalani wajib militer sebelum usia 35 tahun.

Nipu Arsenal dan Korea Selatan

Penundaan wajib militer sebenarnya wajar saja dilakukan oleh para pesepakbola. Terutama yang berkarir di Eropa. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh bintang Tottenham, Son Heung-min beberapa tahun yang lalu. Namun yang jadi masalah adalah Chu-young berbohong kepada Arsenal dan Korea Selatan. 

Meski ia sudah tahu kalau akan terbebas dari kegiatan wajib militer, Chu-young tetap berpamitan dengan Arsenal untuk kembali ke Korea Selatan untuk menjalankan tugas negara. Sehingga kemungkinan karirnya tertunda. The Gunners pun tak punya pilihan. Chu-young diizinkan pergi.

Sama Arsenal ngomongnya begitu, eh lembaga yang mengurusi wajib militer di Korea Selatan mengumumkan ke pihak manajemen Arsenal kalau Chu-young dapat menunda dinas militernya hingga 2022. Sontak itu membuat tim kepelatihan kaget dan merasa dibohongi oleh sang pemain.

Tak Nasionalis!

Skandalnya menyebar dengan cepat dan Park Chu-young menyampaikan klarifikasi. Ia tidak bermaksud untuk mengakali sistem. Ia merasa kalau dirinya menunda wajib militer tanpa mencederai sikap nasionalismenya. Karena peraturannya memang ada. Tapi itu dirasa sia-sia.

Berkat kelakuannya yang begitu nyeleneh, Park Chu-young mendapat kecaman di negeri asalnya karena menunda wajib militernya hingga 10 tahun. Banyak warga Korea yang mencacinya melalui internet. Mereka menuduhnya mengeksploitasi celah untuk bisa lolos dari kewajiban itu.

Di Korea Selatan ia dianggap tak nasionalis, pengkhianat negara, hingga difitnah sebagai agen dari Korea Utara. Tak hanya di Korsel, di London pun citranya sudah hancur. Chu-young dianggap sebagai pemain yang tak profesional dan pembohong besar. Setelah kasus ini terungkap, keburukannya yang lain ikut terkorek. Ternyata selama ini Chu-young merupakan pemain yang malas latihan. Itu kian membuat fans Arsenal geram.

Karirnya di Eropa pun hancur. Setelah kontraknya diputus oleh Arsenal, tak ada klub elit yang melirik Park Chu-young. Ia bahkan sampai harus bermain di Arab Saudi bersama Al-Shabab demi menyelamatkan karirnya. Mau bagaimana lagi, selain berbohong sepakbola adalah satu-satunya keahlian yang ia punya. Kini, di usia 38 tahun, Park Chu-young belum memutuskan pensiun. Ia masih bermain untuk Ulsan Hyundai.

Sumber: BRfootball, Goal, Talksport, Daily Mail, Libero

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *