• March 4, 2024

Menilik Kekuatan Tiga Wakil Italia di Tiga Final Kompetisi Eropa

Musim ini sepak bola Italia sedang harum. Saat Liga Inggris yang dianggap lebih prestisius tapi “cuma” mengirimkan satu timnya ke tiga final kompetisi Eropa, Italia mengirimkan tiga wakilnya sekaligus. Internazionale, AS Roma, dan Fiorentina.

Inter menaklukkan saudara sepersusuannya, AC Milan di semifinal Liga Champions. Fiorentina secara dramatis lolos ke final Liga Konferensi Eropa setelah melumat FC Basel. Terakhir, Jose Mourinho mengerek Giallorossi ke final usai mengatasi perlawanan muridnya sendiri.

Ini adalah untuk pertama kalinya terjadi sejak 1993/94. Pada waktu itu, AC Milan berada di final Liga Champions, Inter di Piala UEFA, dan Parma melenggang ke final Piala Winners. Apa yang dilakukan Inter, AS Roma, dan Fiorentina sampai sejauh ini menjawab pandangan sebelah mata terhadap sepak bola di Italia.

Membuktikan bahwa Liga Italia yang kerap dianggap membosankan itu, bisa kok meloloskan tiga wakilnya di tiga final kompetisi Eropa sekali lagi. Nah, sehebat apa sih, tiga wakil Italia tersebut?

Kehebatan Inzaghi

Mari kita mulai dari Internazionale. Keberhasilan Inter ke final Liga Champions musim ini tak bisa lepas dari sang allenatore, Simone Inzaghi. Tak dimungkiri, sejak ia datang tahun 2021, Inter jadi tak perlu khawatir ketika ditinggal Antonio Conte.

Sebab di musim pertamanya saja, Inzaghi sudah menjawab kepercayaan dari pihak manajemen. Inter memang harus merelakan scudetto jatuh ke tangan rivalnya, tapi dua trofi domestik lainnya berhasil direngkuh. Inzaghi membawa Calhanoglu dan kolega juara di Coppa Italia dengan mengalahkan Juventus 4-2.

Di tangan Inzaghi, Inter juga mengalahkan Juventus di Supercoppa Italia 2022 dengan skor tipis 2-1. Lalu Inter membombardir sang juara Serie A tiga gol tanpa balas di Januari 2023, juga di Supercoppa Italia. Inzaghi juga membawa Inter ke final Coppa Italia musim ini. Jika juara, berarti Inzaghi menambah satu lagi gelar Coppa Italia saat melatih Internazionale.

Walau bagus di Liga Champions, di Serie A, Inter sebetulnya tidak bagus-bagus amat. Kendati sampai giornata ke-36, Inter masih bertengger di posisi tiga dengan 66 poin. Masalahnya, sampai giornata ke-36, Inter menjadi tim yang paling sering kalah dari enam tim teratas di Serie A dengan 12 kekalahan. Giallorossi yang berada di posisi enam saja baru menelan 10 kekalahan.

Kalau begitu apa istimewanya Inzaghi? Kok bisa dengan jumlah kekalahan terbanyak berada di posisi tiga dan lolos ke final Liga Champions Eropa?

Taktik Inzaghi

Simone Inzaghi dan Conte punya pendekatan taktik yang hampir serupa. Kedua pelatih Italia itu penganut mazhab tiga bek. Karakter permainan Inter di tangan Inzaghi pun tak banyak berubah. Pelatih kelahiran Piacenza itu konsisten memakai format 3-5-2. Ia akan menaruh dua striker di lini depan.

Lautaro Martinez selalu menjadi pilihan di lini depan. Pemain Argentina itu sudah mencetak 20 gol liga. Hanya terpaut tiga gol saja dari Victor Osimhen di klasemen top skor. Inzaghi biasanya akan menduetkan Lautaro dengan Lukaku maupun Edin Dzeko.

Sementara di lini bertahan, Inzaghi punya opsi menawan. Bastoni, Darmian, hingga Acerbi. Ia juga punya Federico Di Marco dan Denzel Dumfries yang dinamis. Lalu di lini tengah ada Henrikh Mkhitaryan dan Calhanoglu. Prinsip permainan Inzaghi adalah penguasaan bola. Wajar jika penguasaan bola mereka bisa mencapai 56,6% di Serie A musim ini.

Namun, bermain penguasaan bola dan agresivitas yang tinggi tentu beresiko. Dengan menerapkan sistem bertahan fleksibel, yang mana tujuannya untuk membatasi pergerakan lawan, justru bikin pertahanan Inter kerap tereksploitasi. Tak ayal kalau mereka musim ini sudah kebobolan 40 gol dalam 36 laga Serie A. 

Tapi di UCL taktik ini justru berhasil. Salah satunya bisa meredam pergerakan lincah para sayap AC Milan, seperti Rafael Leao. Lihatlah Rossoneri tak berkembang ketika menghadapi Inter di semifinal UCL.

Mourinho yang Sudah Pasrah

Berikutnya AS Roma. Awal musim lalu, Roma menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih. Final Liga Eropa musim ini adalah final Eropa kedua Mourinho selama menukangi AS Roma. Kiprahnya di level domestik memang tidak istimewa. Berbeda dengan Inzaghi, Mourinho belum memberikan trofi domestik buat Giallorossi.

Namun, The Special One sudah memberikan trofi Liga Konferensi Eropa musim lalu. Jadi, ini adalah kesempatan Mourinho untuk brace trofi Eropa. Selain itu, jika juara Liga Eropa, Mourinho tak perlu merebut posisi empat besar untuk tampil di Liga Champions. Ia pun sudah pasrah dan fokus ke final Liga Eropa.

Selama ditukangi Mourinho, penampilan AS Roma di kancah domestik memang sering labil. Musim lalu saja hanya bisa finis di posisi keenam di bawah Lazio. Musim ini, i Lupi juga tidak konsisten. Mereka gagal di Coppa Italia, dan di Serie A, performanya gitu-gitu saja, malah cenderung jelek.

Dalam lima pertandingan terakhir sampai giornata ke-36, Roma gagal memetik satu pun kemenangan. Giallorossi hanya meraih empat hasil imbang dan sekali menelan kekalahan. Sudah terlihat bukan? Mourinho sepertinya fokus untuk memenangkan Liga Eropa.

Negative Football

Keseriusan Mourinho terlihat ketika mengalahkan Bayer Leverkusen. Setelah unggul 1-0 di leg pertama, Mourinho memainkan negative football di leg kedua. Hasilnya, Giallorossi menahan imbang Leverkusen, hanya dengan 28% penguasaan bola. Bahkan di laga tersebut, pasukan Mourinho cuma menciptakan satu saja tembakan. Tembakan lho ya, bukan tembakan tepat sasaran.

Dilansir Goal, taktik ini sempat mendapat kecaman. Muncul anggapan bahwa taktik tersebut “jelek”. Tapi bukan Mourinho namanya kalau tak lihai berdalih. Sang allenatore bilang, ini soal ketangkasan dalam mendapat tekanan. Memang, Leverkusen bertubi-tubi menyerang.

Namun, pasukan Xabi Alonso tak tahu caranya membobol gawang Rui Patricio. Dari 23 tembakan, enam di antaranya on target, tak ada satu pun yang masuk. Emang gila Mourinho kalau sudah memakai strategi parkir bus. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Seperti itulah sepak bola.

Mourinho adalah satu-satunya pelatih non-Italia yang membawa tim Italia ke final kompetisi Eropa musim ini. Tapi caranya sangat Italia sekali. Walau demikian, efektivitas permainan Mourinho tak bisa diremehkan. Mourinho sudah hafal caranya memenangkan pertandingan.

Ia punya Tammy Abraham, Belotti, dan Dybala yang bisa memecah kebuntuan. Khusus yang terakhir, Dybala adalah top skor dan top asis klub. Ia sudah mengemas 11 gol dan tujuh asis. Mourinho juga punya sang kapten, Lorenzo Pellegrini, sosok kreator di lini tengah.

Fiorentina yang Mengejutkan

Terakhir, Fiorentina. Tidak dinyana La Viola yang kalah di leg pertama semifinal menghadapi FC Basel 2-1, justru bisa berbalik menang 3-1 di markasnya Basel. Ini menunjukkan bahwa Fiorentina punya mentalitas petarung.

Sejak dilatih Vincenzo Italiano, Fiorentina menjadi lebih baik. Sama seperti dua pelatih sebelumnya, Italiano ditunjuk pada 2021 lalu. Setelah ditunjuk, Italiano langsung membawa Fiorentina finis di posisi tujuh musim lalu. Naik enam tangga dari musim sebelumnya.

Kembalinya Fiorentina ke kompetisi Eropa juga berkat Italiano. Pelatih gundul itu punya cara bermain yang hampir mirip Luciano Spalletti di Napoli. Meski orang Italia, filosofi permainan Italiano justru anti-Italia. Maksudnya, Fiorentina tidak dibuatnya hanya bertahan dan menunggu.

Di tangan Italiano, La Viola bermain proaktif. Ia bersikeras untuk mendorong pemainnya menekan lebih banyak daripada diam menunggu. Misalnya, ia meminta Cristiano Biraghi supaya naik membantu menyerang lewat kualitas umpan silangnya. Dan meminta gelandang Mandragora atau Alfred Duncan untuk mengisi ruang yang ditinggalkan. 

Jadilah, Fiorentina bisa mencetak 48 gol dari 36 laga Serie A. Lebih banyak dari AS Roma (47 gol), Monza (46 gol), dan Torino (38 gol) yang posisinya di klasemen berada di atasnya. Namun, ketika melakukan tekanan, Fiorentina kerap terlambat menutup ruang yang ditinggalkan para pemainnya.

Alhasil, pertahanan yang kurang sigap itu bisa dengan mudah dieksploitasi para pemain lawan. Fiorentina pun lebih sering kalah di Serie A dengan 12 kali kekalahan. Membuat mereka terperosok ke posisi 11. Kendati demikian, banyak pemain La Viola yang patut diwaspadai.

Arthur Cabral, misalnya. Ia sudah mencetak tujuh gol di Liga Konferensi Eropa, membuatnya jadi top skor kompetisi itu. Ia juga sudah mencetak tujuh gol di Serie A. Lalu, Jonathan Ikone dengan lima asisnya. Nicolas Gonzalez, Bonaventura, sampai Sofyan Amrabat masih menjadi alternatif.

Terakhir Kali Tiga Wakil Italia di Final

Patut dinanti bagaimana kiprah tiga wakil Italia di final kompetisi Eropa musim ini. Terakhir kali pada musim 1993/94, dua di antara tiga wakil Italia berhasil menyabet gelar juara. Milan waktu itu meraih gelar Liga Champions, dan Inter mengangkat trofi Piala UEFA atau Liga Eropa.

Sayangnya, Parma gagal menggondol Piala Winners 1993/94. Gianfranco Zola dan kolega waktu itu kalah dari Arsenal 1-0. Jadi, menurut football lovers, siapa nih yang akan juara? Mungkinkah ketiga-tiganya menyabet gelar kompetisi Eropa?

Sumber: Football-Italia, TheMasterMindSite, TheGuardian, Goal, Football-Italia2, Violanation, Kompasid, TSF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *