• September 22, 2023

Memori Kisah Ajaib Sampdoria Meraih Scudetto 1991

“Pelukan terakhir dengan Vialli tidak hanya mewakili kejuaraan Eropa, tetapi seluruh hubungan yang selalu ada di antara kami, para Sampdorian. Itu adalah sesuatu yang istimewa.”

Kalimat yang terasa indah itu keluar dari mulut Roberto Mancini. Ketika meraih trofi Piala Eropa, Mancini memberi pelukan pada Vialli, rekannya yang sudah puluhan tahun bersama.

Sebelum sama-sama berada di balik kemudi Timnas Italia, Gianluca Vialli dan Roberto Mancini adalah dua orang yang membawa kejayaan tim dari Kota Genova, Sampdoria meraih Scudetto tahun 1991. Hal yang terasa sangat mustahil bagi tim seperti Sampdoria.

Serie A 1990/91

Ketika musim panas 1990/91, Serie A dipenuhi oleh klub-klub para penantang gelar. Napoli dengan Diego Maradona kebangggan Kota Naples. Inter yang luar biasa asuhan Giovanni Trapattoni. AC Milan yang baru saja meraih Piala Eropa.

Juventus ketika itu baru saja mendatangkan pemain dengan rekor fantastis. Adalah Roberto Baggio dan Thomas Hassler yang didatangkan Si Nyonya Tua sebelum musim dimulai. Tampak dengan kekuatan-kekuatan itu, bisa diprediksi bahwa yang akan meraih scudetto adalah satu di antara klub-klub tadi.

Namun, publik Italia dibuat geger di akhir musim. Bukan klub-klub tadi yang meraih scudetto, tapi justru Sampdoria yang mengejutkan dengan keluar sebagai juara.

Proyeksi Sampdoria

Kemenangan scudetto Sampdoria itu ibarat kisah picisan dari mulut ke mulut. Ketika itu benar-benar tidak ada yang menyangka, bahwa Sampdoria akan naik podium. Apalagi Sampdoria belum pernah finis di posisi empat besar. Namun, Sampdoria menjadi tim kedua dari Kota Genova yang pernah meraih juara Serie A setelah Genoa.

Sejak memasuki awal abad ke-20, Kota Genova sudah tak lagi meraih scudetto. Namun, Sampdoria, tim yang sudah diproyeksikan bertahun-tahun warisan Benito Mussolini akhirnya menjadi juara.

Kisah scudetto Sampdoria tidak terjadi dalam semalam. Tapi dirakit dengan semangat dan kepercayaan antarpemain, pemain dengan pelatih, dan tentu saja suporter.

Kemenangan Sampdoria tidak bisa dijelaskan secara taktik yang klinis. Meski kita juga tak bisa meremehkan kualitas pelatih Vujadin Boskov, yang juga mantan pelatih Real Madrid. Kemenangan Sampdoria ini adalah kemenangan kolektif.

Duet Vialli dan Mancini

Gianluca Vialli dan Roberto Mancini, sepasang mesin gol yang akan selalu diingat apabila membahas scudetto yang diraih Sampdoria pada tahun 1991. Dua pemain yang dikenal dengan sebutan “Si Gol Kembar” itu menunjukkan penampilan yang spektakuler di musim 1990/91.

Mancini dan Vialli sudah terikat kebersamaan sejak keduanya membela panji Timnas Italia U-21. Berkali-kali Mancini menggedor-gedor pintu keyakinan Vialli agar sang pemain juga ikut dalam proyek ambisius Sampdoria. Akhirnya, Vialli pun bergabung dengan Sampdoria di tahun 1984 dan memulai proyek itu.

Nah, barangkali musim 1990/91 adalah puncaknya. Setelah meraih beberapa kali Coppa Italia dan Piala Winners, kedua pemain mengantarkan Sampdoria meraih trofi scudetto untuk pertama kali dan bahkan kelak menjadi satu-satunya sejak 75 tahun tim itu berdiri.

Mancini adalah sosok pemimpin di lapangan. Sedangkan Vialli adalah produsen gol Sampdoria. Kedatangan pelatih Vujadin Boskov tahun 1986/87 membawa angin segar bagi pasangan Vialli-Mancini. Tidak hanya itu, perginya Graeme Souness dan Trevor Francis makin membuat pasangan Vialli dan Mancini berkembang.

Dua permata itu benar-benar menjadi mesin gol Sampdoria. Bahkan separuh lebih gol yang dihasilkan Sampdoria pada musim 1990/91 berasal dari dua pemain itu. Total dari 57 gol, Vialli dan Mancini berkontribusi dalam 31 gol di antaranya.

Namun, hanya mengenang duet Vialli dan Mancini yang membawa Sampdoria scudetto saja belumlah cukup. Sebab, tahun 1991 Sampdoria berhasil meraih scudetto karena permainan kolektif dan kualitas pertahanannya yang oke punya.

Gianluca Pagliuca Tak Mudah Dibobol

Musim itu, I Blucherciati hanya kebobolan 24 gol. Jumlah kebobolan itu hanya lebih sedikit dari AC Milan yang hanya kebobolan 19 gol, tapi cuma bisa finis di peringkat kedua. Tidak cukup sampai di situ, Sampdoria juga meraih clean sheets di lebih dari separuh jumlah pertandingan Serie A mereka musim itu.

Adalah Gianluca Pagliuca, tembok kokoh yang berada di bawah mistar Sampdoria. Pria yang mendapat pendidikan di usia mudanya bersama Bologna itu, tampil impresif sepanjang musim. Pagliuca setidaknya bermain di 32 laga Serie A. Ia hanya kebobolan 22 gol dan menciptakan 17 clean sheets.

Salah satu penampilan epik Pagliuca ketika menghadapi Inter. Kala itu, Sampdoria tinggal beberapa langkah lagi menyegel gelar Serie A. Namun, raksasa Inter menghalanginya. Mereka harus menghadapi La Beneamata di Giuseppe Meazza. Inter belum pernah kalah di rumahnya sendiri kecuali melawan rival sekota.

Jelas itu adalah ujian yang berat bagi Sampdoria. Tapi I Blucherciati masih memiliki Pagliuca. Penampilan Pagliuca ketika itu di luar dugaan. Kelak laga ini menjadi salah satu yang paling dramatis di Serie A. Inter yang diperkuat pemain seperti Jurgen Klinsmann sampai Lotthar Mattaus menggempur pertahanan Sampdoria.

Inter melakukan 24 tembakan ke gawang Sampdoria. Tapi Pagliuca tampil kesetanan. Pagliuca melakukan 14 penyelamatan yang benar-benar menakjubkan. Pertandingan itu justru pada  akhirnya dimenangkan oleh Sampdoria 2-0. Gol Giuseppe Dossena dan Gianluca Vialli membuat Sampdoria makin mudah meraih scudetto.

Pietro Vierchowod yang Melegenda

Setelah kemenangan dari Inter itu, Sampdoria hanya butuh tiga poin untuk meraih scudetto. Dan mereka mendapatkannya. Hasil imbang atas Torino dan kemenangan 3-0 atas Lecce membuat mimpi yang mustahil terwujud itu benar-benar menjadi kenyataan. Para pemain Sampdoria akhirnya bisa berdansa.

Permainan eksplosif Sampdoria didukung dengan strategi Vujadin Boskov yang lebih mengandalkan serangan balik. Untuk itu, perlu pertahanan yang kokoh tidak hanya kiper. Sampdoria ketika itu memiliki bek tengah yang tangguh tapi namanya tenggelam dari pemain sezamannya seperti Franco Baresi dan Giuseppe Bergomi.

Orang itu adalah Pietro Vierchowod. Pemenang Piala Dunia 1982 telah menjadi pusat perhatian di Sampdoria. Vierchowod adalah bek pengguna kaki kiri yang ulet, dominan, dan fisik yang mumpuni. Ia dikenal sosok bek dengan gaya tanpa kompromi. 

Vierchowod merupakan bek hebat yang dihasilkan Italia. Ia bek terbaik yang kokoh namun anggun, tangguh, dan cerdas. Vierchowod juga punya dimensi permainan yang berbeda. Pemain ini selalu nyaman membawa bola keluar dari pertahanan untuk memulai momentum menyerang.

Mendiang Maradona pernah memuji bek yang satu ini. Maradona pernah menyebut Vierchowod sebagai hewan dengan otot di bulu matanya. Sebagai seorang bek, ia selalu bergerak di depan siapa pun yang akan membobol gawang Sampdoria.

Tidak Selamanya Mulus

Perjalanan Sampdoria meraih scudetto 1991 tak selamanya mulus. Strategi serangan balik Vujadin Boskov memang jitu. Mereka berhasil mengalahkan Milan 1-0 dengan pondasi pertahanan yang solid, serta koneksi antara pemain sayap andalan mereka, Attilio Lombardo dan Srecko Katanec.

Sampdoria juga mengalahkan Napoli 4-1. Gianluca Vialli dan Roberto Mancini masing-masing mengemas dua gol di laga itu. Namun, perjalanan Sampdoria pernah sampai ke tahap frustrasi. Mereka tidak bisa meraih kemenangan di beberapa pertandingan beruntun.

Usai kalah di Derby Lanterna menghadapi Genoa 2-1, Sampdoria tidak meraih satu kemenangan pun di tiga laga sepanjang November-Desember. Yaitu dua sisanya meraih imbang dengan Cagliari dan Bari. Akan tetapi Sampdoria terbukti bisa bangkit dan akhirnya meraih scudetto 1991.

Sumber: TFT, TFT2, TheGuardian, KodroMagazine, Football-Italia, GantleManUltra, BreakingTheLines

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *