• February 21, 2024

Maradona Datang, Napoli Juara, Italia Selatan Berjaya!

Era 80 hingga 90an adalah periode terbaik sepak bola Italia. Kala itu, Serie A jadi kiblat persepak bolaan dunia. Pemain terbaik mana yang bisa menolak tawaran AC Milan, Juventus, Inter Milan, hingga AS Roma, Fiorentina, bahkan Hellas Verona. Namun, tidak dengan Napoli.

Napoli tak punya DNA juara, bukan tergolong tim papan atas, dan lagi, mereka adalah tim Italia Selatan. Akan tetapi, semua berubah setelah Diego Armando Maradona datang ke Kota Naples. Percaya tidak percaya, Maradona datang sebagai juru selamat dan kemudian meninggalkan Naples sebagai seorang “dewa”.

Bagaimana kisahnya? Selengkapnya, hanya di Football Jack!

75 Ribu Penggemar Sambut Kedatangan Diego Maradona

Kisah dimulai dari sebuah presentasi pemain baru yang kelak menghasilkan salah satu foto paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Pemandangan tersebut tercipta setelah di musim panas 1984, Napoli mengejutkan dunia dengan memecahkan rekor transfer pemain demi mendatangkan Diego Armando Maradona seharga 12 juta euro dari Barcelona.

Pada 5 Juli 1984, tak kurang dari 75 ribu pasang mata hadir di Stadio San Paolo untuk menyambut kedatangan “El Pibe de Oro” alias “Si Anak Emas”. Jumlah tersebut menjadi rekor dunia yang bertahan sangat lama dan baru pecah saat presentasi Cristiano Ronaldo sebagai pemain baru Real Madrid dihadiri 80 ribu penonton.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, presentasi Diego Maradona saat itu terlampaui meriah untuk era tersebut. Histeria sudah nampak ketika para penggemar melihat helikopter yang membawa Maradona mendekat ke San Paolo. Teriakan “Ho Visto Maradona, Ho Visto Maradona” yang artinya “saya melihat Maradona” mulai terdengar nyaring.

Setelah turun dari mobil yang membawanya ke depan pintu masuk stadion, teriakan “Diego, Diego” sudah menggema dari dalam stadion. Maradona yang mengenakan kaus putih dan celana chino berwarna biru kemudian menaiki tangga bagian dalam stadion dan langsung sambut oleh ratusan wartawan dan juru kamera.

Maradona kemudian diberi syal Napoli, berdiri di tengah lapangan, membuat tendangan pertamanya untuk Napoli, dan diakhiri dengan memekikkan, “Forza Napoli”. Sebuah sambutan meriah yang jadi awal kisah cinta Napoli dengan Maradona.

Sisi Kelam Maradona di Napoli

Namun, seperti yang sudah disinggung di awal. Siapa yang mau datang ke Napoli?

Saat Maradona datang, prestasi Napoli tengah menurun setelah menjuarai Coppa Italia 1976. Meski konsisten berada di posisi 6 besar, tetapi semusim sebelum Si Anak Emas datang, Napoli nyaris terdegradasi dari Serie A.

Lebih daripada itu, Napoli adalah representasi dari wakil Italia Selatan di Serie A. Waktu itu, dominasi tim wilayah utara Italia sangatlah kental. Tidak ada tim Italia Selatan yang mampu juara Liga Italia, termasuk Napoli.

Maka dari itu, ada kecurigaan yang timbul di balik kepindahan Diego Maradona dari Barcelona yang kaya menuju Napoli yang miskin. Bagaimana bisa klub sekelas Napoli bisa memboyong mega bintang seperti Maradona.

Fans sepak bola sejati pasti sudah paham betul kalau Maradona punya passion yang tinggi dalam sepak bola. Bakatnya amat luar biasa. Sebelum ada Lionel Messi, dialah kandidat kuat “The Greatest of All Time” di dunia sepak bola.

Namun, di sisi lain, Maradona adalah seorang pecandu narkoba, pemabuk, dan pencinta pesta. Sebelum datang ke Napoli, perbuatan dosa itu sudah melekat dalam dirinya, tetapi makin menjadi-jadi ketika ia mendarat di Kota Naples. Beberapa orang menduga dan dugaan ini sangatlah kuat, bahwa penyebab dari itu semua adalah kedekatan Diego Maradona dengan keluarga mafia.

Sejak dulu, Italia memang sudah akrab dengan mafia. Terdapat empat sindikat mafia terbesar di Negeri Pizza, yakni Cossa Nostra dari Sisilia, Ndrangheta dari Calabria, Sacra Corona Unita dari Puglia, dan Camorra dari Naples. Nama terakhir itulah yang punya hubungan dekat dengan Diego Maradona.

Sejak tiba di Napoli, Maradona langsung amat dekat dengan mafia Camorra, utamanya dari klan Giuliano, keluarga kejam yang mengelola distrik Forcella yang miskin. Mereka tak hanya menyuplai Maradona dengan kokain, tetapi menyediakan wanita yang tak terbatas baginya. Maradona juga sering mendapat bermacam hadiah dan makin hari makin terlihat sering menghadiri berbagai macam pesta yang digelar oleh Camorra.

Mafia yang mencengkram Naples sejak abad ke-17 itu diduga membantu Napoli dengan memberi sokongan dana agar dapat menebus Maradona dari Barcelona. Tuduhan ini sulit dibuktikan, sebab presiden Napoli kala itu, Corrado Ferlaino akan langsung naik pitam jika ada jurnalis yang menanyakan kabar burung tersebut.

Camorra juga dituduh membantu Napoli merengkuh scudetto pertamanya di musim 1987 sekaligus menggagalkan scudetto beruntun Napoli semusim berikutnya. Pada musim 1987, Napoli dicurigai telah menyogok wasit setelah mendapat hadiah 10 penalti kontroversial. Dan Maradona jadi pihak yang dituduh memberi sogokan tersebut. Tentu sumber dananya dari mafia Camorra.

Semusim kemudian, Napoli punya peluang teramat besar untuk kembali merengkuh scudetto keduanya secara beruntun. Namun, ketika liga tinggal menyisakan 5 pertandingan, Napoli cuma imbang sekali dan sisanya menelan kekalahan, termasuk sebuah kekalahan dramatis 3-2 di kandang sendiri dari AC Milan yang membuat Napoli dikudeta dari puncak klasemen.

Lagi-lagi Camorra jadi pihak yang dituduh sebagai dalang di balik kegagalan Napoli meraih scudetto keduanya di musim 1988.

Selain narkoba, sumber pemasukan Camorra adalah “totonero”, judi bola ilegal di pasar gelap. Sebagai bandar, Camorra bakal rugi besar, bahkan salah satu sumber menyebut kalau Camorra bisa merugi hingga 200 miliar lira jika Napoli keluar sebagai juara. Oleh karena itu, mereka disinyalir menjegal kemenangan Napoli agar tebakan para penjudi di “totonero” tidak tepat.

Kegagalan Napoli meraih scudetto di musim tersebut jadi tuduhan terbesar yang melibatkan Camorra dan Maradona. Namun sekali lagi, tuduhan tersebut sulit dibuktikan.

Hingga hari ini, para pendukung Napoli yang sudah hidup sejak zaman tersebut masih dihantui rasa penasaran dan tanda tanya besar. Keterlibatan Diego Maradona dengan keluarga mafia Camorra jadi sisi paling kelam dari kehidupan romantis El Pibe bersama Napoli.

Namun tak hanya itu, keharmonisan Maradona dengan Napoli pernah diuji saat Piala Dunia 1990 digelar di Italia. Saat itu, Maradona pernah membuat Italia terpecah menjadi dua. Sial memang, sebab pada fase semifinal, Argentina bertemu dengan Italia di Stadio San Paolo.

Maradona adalah idola sekaligus simbol bagi Napoli dan wilayah selatan Italia yang sering ditindas oleh kaum ningrat dari wilayah utara Italia. Maka dari itu, pendukung Italia saat itu terpecah menjadi dua kubu. Sebagian masih setia dengan Gli Azzurri, sementara lainnya berbelok mendukung La Albiceleste karena faktor Maradona.

Sekadar intermezzo, Maradona adalah penyebab mengapa orang-orang Napoli ikut berpesta ketika Argentina juara Piala Dunia 2022.

Kembali ke semifinal Piala Dunia 1990. Sial bagi Italia, sebab Argentina yang keluar sebagai pemenang. Akibatnya, Maradona mulai mendapat ujaran pelecahan dan sebagai balasan, FIGC memaksa Maradona menjalani tes doping yang berujung larangan bermain selama 15 bulan karena kedapatan positif kokain.

Sejak saat itu pula, Maradona yang selama ini kebal hukum mulai dikorek aibnya. Mulai dari keterlibatannya dengan bisnis narkoba Camorra, perselingkuhan yang menghasilkan anak di luar nikah, hingga kecanduan kokain yang makin menjadi-jadi.

Sebelum meninggalkan Napoli dengan rasa malu pada tahun 1992, Maradona juga pernah dijatuhi hukuman denda 5 juta lira dan nyaris mendapat hukuman penjara 20 tahun.

Maradona Datang, Napoli Juara, Italia Selatan Berjaya!

Namun bagi pendukung Napoli, aib tersebut justru membuat mereka makin memuja Maradona. Mereka menemukan Maradona sebagai Neapolitan bajingan yang berhasil mewujudkan mimpi. Dan faktanya, hingga hari ini klub kesayangan mereka mengalami masa-masa keemasan saat masih diperkuat Diego Maradona.

Setelah diperkuat Maradona, kekuatan Napoli naik drastis. Saat itu, Napoli memang melakukan perombakan skuad dengan mendatangkan beberapa nama besar lain, seperti Bruno Giordano dan Careca, kawan duet Maradona di lini depan yang membuat trio “Ma-Gi-Ca”. Namun, Maradona jelas jadi faktor terbesarnya.

Tiga tahun setelah ia datang, Maradona berhasil membawa Napoli menjadi juara Italia di musim 1987. Di musim tersebut, Il Partenopei tak hanya merengkuh scudetto, tetapi juga Coppa Italia.

Perayaan scudetto Napoli musim lalu memang meriah, tapi jika dibandingkan dengan musim 1987 jelas kalah emosional. Sebab, itu merupakan gelar scudetto pertama Napoli dalam sejarah dan merupakan kali pertama wakil Italia selatan menjadi juara Serie A. Fakta ini yang kemudian membuat Diego Maradona dikultuskan oleh para Neapolitan sebagai ikon budaya, sosial, bahkan simbol agama.

Setelah musim yang bersejarah tersebut, Napoli kembali mencatat sejarah penting ketika keluar sebagai juara Piala UEFA 1989. Gelar tersebut jadi prestasi tertinggi Napoli dalam sejarah dan jadi satu-satunya trofi mayor di kancah Eropa yang dimiliki Napoli hingga hari ini.

Setelah itu, Napoli memenangi scudetto keduanya di musim 1990 dan menjadi kampiun Piala Super Italia 1991. Trofi tersebut jadi prestasi terakhir yang dipersembahkan Diego Maradona untuk Il Partenopei. Total selama 7 tahun kariernya di Napoli, ia berhasil mempersembahkan 5 trofi dan mencetak 115 gol. Maradona adalah top skor sepanjang masa Napoli sebelum rekornya dipecahkan Marek Hamsik di tahun 2017.

Periodenya bersama Napoli memang jadi masa terindah dalam karier El Pibe de Oro. Maradona meraih banyak gelar individu prestisius di masa tersebut, termasuk memenangi Piala Dunia 1986. Namun lebih dari itu, selama Maradona berkarier di Napoli, ia sempat membuat badan amal untuk membantu anak-anak kurang mampu di kota Naples.

Semua capaian tersebut adalah bukti betapa berjasanya Diego Maradona kepada Napoli. Seperti yang sudah disinggung, Maradona adalah sosok yang dikultuskan oleh penduduk kota Naples. Namun, tak hanya oleh para Neapolitan saja, tetapi juga oleh mereka yang berasal dari wilayah selatan Italia.

Maradona: Dewa Kota Naples

Diego Maradona dan Napoli memang seperti sepasang kekasih yang telah ditakdirkan bersama. Sejak hari pertama, Maradona langsung betah. Di Napoli, ia menemukan klub, kota, dan masyarakat yang sama seperti ia berasal.

Maradona dibesarkan dengan kemiskinan ekstrem di Villa Fiorito, sebuah kota kumuh padat penduduk di pinggiran Buenos Aires. Ini membuat Maradona selalu berpihak kepada orang miskin dan tertindas sepanjang hidupnya. Dan hal tersebut kembali ia temukan setelah pindah ke Napoli.

Sama seperti Buenos Aires, Naples yang letaknya di selatan Italia punya gairah yang tinggi terhadap sepak bola. Namun terlepas dari itu, Naples dan Italia Selatan dianggap sebagai noda bagi kaum ningrat Italia Utara. Ketimpangan sosial dan ekonomi antara dua kutub itu memang sangat besar. Kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan diidentikkan dengan Italia Selatan.

Permusuhan dua kutub tersebut sampai di lapangan hijau dan Napoli jadi pihak yang paling banyak menderita pelecehan. Oleh karena itu, selama berkarier di Napoli, Maradona kerap menyuarakan dukungan dan hak-hak orang Italia Selatan sekaligus menjadi simbol perlawanan kepada Italia Utara.

Bukan kebetulan Maradona dan Napoli adalah pembenci terbesar Juventus yang dianggap sebagai representasi terbesar kekuasaan Italia Utara. Saat Napoli menggelar perayaan scudetto yang meriah di tahun 1987, warga Neapolitan tumpah ruah di seluruh jalanan, bernyanyi, berpesta, membunyian klakson, hingga yang paling epik menggelar pemakaman tiruan dengan membawa peti mati bertanda Juventus sebagai bentuk kegembiraan mereka karena telah menggulingkan kelas penguasa.

Maradona memang begitu berjasa bagi Napoli, sampai-sampai ia dan keluarganya bisa diperlakukan seperti dewa ketika berkunjung ke sana. Rasa cinta dan kasih sayang itu yang kemudian membuat warga Naples dan Italia Selatan begitu berkabung ketika Diego Maradona meninggal dunia pada 25 November 2020. Napoli dan seisinya adalah tempat kedua setelah Argentina yang paling banyak meneteskan air mata ketika Maradona berpulang.

Meski telah tiada, Diego Maradona akan tetap abadi di Napoli. Nomor 10 peninggalannya dipensiunkan, nama Stadio San Paolo diubah jadi Stadio Diego Armando Maradona, berbagai mural wajahnya masih banyak tergambar di berbagai tempat di Naples.

Maradona dihormati bahkan dianggap setara dengan San Gennaro, santo pelindung kota Naples. Sebab, bagi mereka, Maradona adalah “dewa” yang abadi di Napoli.


Referensi: Goal, CBS, The Guardian, Javad Ghorbani, Starting Eleven.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *