• March 2, 2024

Manchester City Menurun, Ah, Yang Bener?

Kalau di Bundesliga ada Bayern Munchen, di Liga Inggris ada Manchester City yang biasanya jelang pertengahan musim memesan satu karcis di papan atas. Ketika musim berjalan separuh, kedua klub itu biasanya minimal ngetem di peringkat kedua. Sehingga di akhir musim nanti, bukan sebuah kejutan kalau Bayern Munchen maupun Manchester City akan keluar sebagai juara.

Maklum, namanya juga Liga Petani. Begitu pula musim ini. Hingga spieltag ke-14, Bayern Munchen sudah duduk di peringkat kedua. Namun, nasib lain justru dialami oleh Manchester City.

Sampai pekan ke-16, The Citizens belum duduk di peringkat kedua. Alih-alih demikian, pasukan Josep Guardiola malah mendekam di peringkat keempat, di bawah Aston Villa, Arsenal, dan Liverpool. Betul bahwa Desember belum habis.

Tapi para pundit sudah banyak yang bilang kalau Manchester City mengalami penurunan musim ini. Namun, apa iya begitu? Mungkinkah Manchester City kali ini gagal menyabet gelar Liga Inggris?

Salah Satu Musim Terburuk Sejak 2017

James Cormack dalam tulisannya di 90 Minutes menyebut, musim ini bisa jadi salah satu musim terburuk yang dialami Manchester City era Josep Guardiola. Alasannya karena musim ini, belum juga berjalan setengahnya, The Citizens sudah mengalami empat laga beruntun tanpa kemenangan di Liga Inggris.

Terhitung sejak imbang menghadapi Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan kalah atas Aston Villa. Terakhir kali City tidak pernah menang dalam empat laga beruntun di Liga Inggris terjadi pada musim 2016/17. Musim pertama Guardiola. Namun, pada waktu itu sudah melewati paruh musim.

Dari 8 Maret hingga 5 April 2017, City asuhan Guardiola tidak memetik satu pun kemenangan. Ditahan imbang Stoke City tanpa gol. Diimbangi Liverpool dan Arsenal. Yang keempat, alih-alih memetik kemenangan, City malah terjungkal di Stamford Bridge.

Poin Terburuk City dari Dua Musim Sebelumnya

Musim ini, selain mengulangi empat laga tanpa kemenangan seperti pada musim 2016/17, Manchester City juga mengalami paceklik poin. Hingga pekan ke-16, City baru mengumpulkan 33 poin saja. Jumlah poin tersebut merupakan yang tersedikit jika dibandingkan dua musim lalu.

Pada musim 2022/23, setelah melakoni 16 pertandingan, City sudah mengumpulkan 38 poin. Lalu pada musim sebelumnya lagi, dalam 16 pertandingan, City bahkan sudah duduk di singgasana dengan 38 poin.

Poin terburuk dalam 16 laga City musim ini hampir sama seperti musim 2020/21 dan 2019/20. Kala itu setelah melewati 16 pekan, Manchester City hanya mampu mengumpulkan 32 poin.

Pertahanan Rapuh

Yang tadi baru dari segi poin ya. Belum perkara kebobolan. Pertahanan The Citizens musim ini jauh lebih rapuh ketimbang dua musim sebelumnya. Dalam 16 pertandingan di Liga Primer Inggris, anak asuh Guardiola sudah kebobolan 18 gol. 

Padahal musim lalu, dalam 16 pertandingan City hanya kebobolan 17 gol saja. Musim 2021/22 malah kebobolan 9 gol saja. Tidak cukup sampai di situ. Dalam lima laga terakhir di Liga Inggris, Manchester City bahkan sudah kebobolan 10 gol. Ya, 10 gol!

John Stones yang cedera berdampak pada keroposnya pertahanan City. Tanpa Stones, City kehilangan kendali di lini tengah. Tanpanya, City juga kesulitan menguasai bola dalam tempo yang lama. 

Bek baru yang dibeli mahal, Josko Gvardiol juga belum beradaptasi dengan baik di Liga Inggris. Bek asal Kroasia itu bahkan dibuat mobat-mabit oleh Dejan Kulusevski saat Manchester City ditahan imbang Tottenham Hotspur di markasnya sendiri.

Lini bertahan merupakan komponen penting yang bisa membuat Manchester City mengangkat trofi Premier League lagi. Kecuali Pep Guardiola memperbaikinya, bisa jadi Manchester City tidak akan meraih gelar Premier League pada Mei nanti.

Masalah Cedera

Cedera juga masih menghantui skuad Pep Guardiola. Ada beberapa pemain yang cedera di paruh pertama musim ini. Terbaru, pendulang poin manajer FPL, Erling Haaland mengalami cedera. Sebelumnya, City juga sudah kehilangan John Stones.

The Citizens sudah kehilangan Kevin de Bruyne yang cedera hamstring dan absen dalam waktu yang cukup lama. Cederanya De Bruyne juga sempat mempengaruhi performa Haaland di atas lapangan. Tidak hanya itu, pemain lain seperti Mateo Kovacic, Jack Grealish, Matheus Nunes, hingga Nathan Ake juga melewatkan sejumlah pertandingan.

Kendati beberapa nama mulai kembali ke skuad dan bisa digunakan, cedera tetap menjadi momok yang menakutkan bagi Manchester City. Yah, tim lain juga demikian. Tapi Manchester City menanggung beban berat karena mereka adalah petahana sekaligus sang treble winner.

No Rodri, No Poin

Dari sekian nama yang sempat membikin City kelimpungan karena tidak bisa dimainkan, ada satu nama yang benar-benar berdampak ketika tak dimainkan. Pemain itu adalah Rodrigo. Gelandang berkebangsaan Spanyol itu tokoh sentral di balik treble City.

Saat Rodri tak bisa bermain, City cacat. Mantan pemain Atletico Madrid itu sempat tak bisa diturunkan karena skorsing empat laga, akibat tiga kartu merah dan satu akumulasi kartu kuning. Tanpa Rodri, Manchester City bagai diterjang angin puyuh.

Mereka disingkirkan Newcastle United di Carabao Cup putaran ketiga. Di Liga Inggris, City yang tanpa Rodri kalah atas Arsenal dan Wolverhampton Wanderers. Melawan Aston Villa, Rodri yang terkena akumulasi kartu tak turun. City lagi-lagi menelan kekalahan.

Lawan Mulai Berani

City juga seolah kehilangan marwah sebagai tim yang paling ditakuti di Liga Inggris. Padahal tatkala meraih treble musim lalu, City sukses menakuti lawannya. Tidak sulit menebak alasannya. Musim lalu City mencetak enam gol ke gawang Manchester United dalam satu laga.

Liverpool, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Chelsea juga dibobol empat gol dalam satu laga musim lalu. Real Madrid, klub yang katanya paling jago se-Eropa pun ditaklukkan empat gol tanpa balas. Namun, musim ini semuanya berbalik.

Lawan-lawan City mulai berani menyerang. Arsenal berhasil memutus 12 kekalahan beruntun melawan City. Chelsea sukses menjebol empat gol ke gawang The Citizens. Liverpool bahkan sanggup menghentikan 23 kemenangan beruntun City di Etihad. Spurs tak mau ketinggalan.

Pasukan Ange Postecoglou berpesta tiga gol di Etihad. Keberanian tidak cuma muncul dari tim-tim besar. Tim-tim yang levelnya di bawah City pun ikutan. Wolves dan Aston Villa bisa mengalahkan City. Bahkan Luton Town, si pendatang baru bisa mengungguli City di babak pertama.

Tapi….

Namun, walau mengalami kemunduran di sana-sini, tetap saja mendominasi adalah nama tengah Manchester City. Di Liga Inggris, sejauh ini hanya City tim yang paling produktif mencetak gol. Total sudah 38 gol dicetak. Itu jauh lebih banyak dari jumlah golnya Manchester United ditambah golnya Burnley (34 gol).

City masih saja buas. The Citizens mengemas rata-rata 2,66 gol per laga. Apakah itu saja? Ah, tentu saja tidak. Manchester City masih menjadi tim dengan kualitas penguasaan bola terbaik di Liga Inggris musim 2023/24.

Menurut situs resmi Premier League, City sudah mengemas 10.033 umpan dalam 16 pertandingan. Hanya Brighton yang mendekati jumlah itu dengan 9.990 umpan. Hanya Brighton pula yang bisa mengungguli City perihal sentuhan. Pasukan De Zerbi sejauh ini mengemas 12.863 sentuhan, sedangkan City 12.655 sentuhan.

Lanjut. Menurut statistik Opta seperti dikutip The Sun Football, City menjadi tim Premier League dengan perolehan poin terbanyak sepanjang tahun 2023, dengan 86 poin dari total 38 pertandingan. Mereka juga tim dengan poin per laga tertinggi selama tahun 2023 dengan 2,2.

Di beberapa hal, City mengalami kemerosotan. Tapi di beberapa hal lainnya, City masih perkasa di Liga Inggris. Penampilan paruh musim pertama memang tak bisa menjadi patokan apakah sebuah klub akan finis di posisi teratas atau tidak.

Namun, omong-omong, City kan musim ini sudah pernah empat laga berturut-turut tanpa kemenangan. Nah musim di mana mereka tanpa kemenangan dalam empat laga beruntun, Manchester City tidak berhasil memuncaki klasemen di akhir musim.

Sumber: ManCity, Goal, SundayWorld, ESPN, 90Min, TheAthletic, PremierLeague

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *