• March 4, 2024

Klub Duplikat Ajax Amsterdam di Afrika Selatan

Dalam dunia sepakbola, nama klub macam Manchester United, Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen jelas memiliki nilai jual yang tinggi dimata mitra usaha yang ingin menjadikan klub tersebut sebagai lahan berbisnis. Namun, di belahan dunia lain ada klub yang berusaha meniru dengan menggunakan nama besar mereka.

Contohnya saja Barcelona SC di Ekuador. Logo, warna dan jersey klub tersebut dirancang sedemikian rupa dan dibuat semirip mungkin dengan Barcelona di Spanyol. Tak heran banyak yang mengira kalau Barcelona SC memang memiliki kerjasama dengan klub Catalan tersebut. Namun, ternyata anggapan itu tidak benar adanya.

Soal kemiripan itu bahkan sampai menimbulkan konflik soal hak kekayaan intelektual. Nah, kali ini yang akan kita bahas bukan Barcelona SC, melainkan Ajax Cape Town yang juga dinilai meniru eksistensi Ajax Amsterdam. Kabarnya, klub tersebut memang memiliki kerjasama khusus dengan Ajax yang di belanda. Benarkah demikian?

Sejarah Terbentuknya Ajax Cape Town

Berdiri pada tahun 1970, Ajax Cape Town awalnya bernama Cape Town Spurs. Klub yang satu ini berasal dari Benua Afrika, tepatnya Afrika Selatan. Pada awal 90-an, Cape Town cukup berjaya di kasta tertinggi sepakbola Afrika Selatan. Beberapa trofi liga dan kompetisi domestik berhasil diraihnya. 

Semua berubah pada tahun 1999. Ajax Amsterdam yang sedang ingin memperluas pasar tertarik dengan eksistensi Cape Town Spurs. Mereka menilai kalau Afrika Selatan adalah lokasi yang memiliki potensi tinggi akan talenta muda. Jadi, Ajax pun menggabungkan Cape Towns Spurs dan Seven Stars yang kemudian diberi nama Ajax Cape Town.

Ajax menunjuk salah satu pegiat sepakbola asal Afrika Selatan, yakni John Comitis untuk menjadi presiden pertama di Ajax Cape Town. Ia menjabat kurang lebih selama 13 tahun. Comitis jadi presiden terlama dalam sejarah klub tersebut.

Menariknya, Ajax Amsterdam memperbolehkan klub Afrika Selatan itu menggunakan pernak-pernik yang sama. Dari jersey yang identik dengan warna merah dan putih hingga logo kakek-kakek bertopi yang begitu khas dengan Ajax Amsterdam, semuanya digunakan oleh Ajax Cape Town.

Yang membedakan hanya tulisan Cape Town di bagian bawah logo. Beda halnya dengan Barcelona SC yang cuma niru-niru aja, Ajax Cape Town dan Ajax Amsterdam memang berafiliasi, jadi hal semacam ini menjadi sah-sah saja.

Kerjasama dengan Ajax Amsterdam?

Lantas apa yang diharapkan dari Ajax Cape Town? Awal munculnya ide pelebaran wilayah di Afrika Selatan adalah gara gara insecure dengan klub-klub raksasa macam Real Madrid, AC Milan, dan Barcelona. 

Ajax sadar betul mereka bukan klub kaya yang bisa mendatangkan pemain dengan harga mahal seperti mereka. Jadi, Ajax memiliki pola pikir yang sedikit berbeda. Jika tak bisa mendatangkan pemain bintang berharga mahal, kenapa tidak kita ciptakan sendiri saja pemain bintang tersebut? Begitu kira-kira.

Harapannya, dengan mengadopsi sistem akademi dari Belanda, Ajax bisa mendapat pemain muda berbakat dari Afrika dan menjualnya dengan harga mahal di kemudian hari. Dengan begitu, mereka bisa meraup pundi-pundi uang sehingga bisa menyaingi klub-klub kaya di Inggris dan Spanyol.

Akhirnya Ajax membantu pembangunan beberapa fasilitas penunjang untuk membantu Cape Town menghasilkan bakat-bakat terbaik. Memiliki sekitar 51% saham klub, Ajax Amsterdam menuntut mereka untuk menghasilkan bakat terbaik setiap tahunnya. Cape Town sudah bak sapi perah bagi Ajax. 

Bukan Sekedar Bisnis

Meski terlihat seperti itu, Ajax tetap peduli dengan prestasi dan kelangsungan hidup klub. Selain suntikan dana, Ajax juga membantu Cape Town menggaet pelatih top untuk menukangi tim. Contohnya saat berhasil mendatangkan mantan pelatih Timnas Afrika Selatan, Gordon Igesund pada tahun 2002. 

Selain itu, Ajax pusat juga memperhatikan hal-hal kecil di luar sepakbola. Mereka memberikan kesempatan kepada anak-anak muda di wilayah Cape Town, untuk mengubah nasib melalui sepakbola. Ajax tak memandang ras, jenis kelamin, status sosial, bahkan kondisi tubuh. Melalui program yang terstruktur, masyarakat lokal bisa belajar dengan aman dan menyenangkan.

Kenapa Afrika Selatan? Karena pasar Asia sudah dikuasai klub-klub elit dan Benua Amerika punya kegilaannya sendiri terhadap sepakbola lokal, maka Ajax memilih Afrika. Mereka merasa kalau klub-klub seperti Manchester United atau AC Milan tak terpikir untuk memperluas pasar di benua tersebut.

Dianggap Jadi Proyek Gagal

Awalnya proyek visioner ini berjalan lancar. Ajax Cape Town secara berkala mulai mengirimkan talenta berbakatnya untuk menimba ilmu di Amsterdam. Namun, lama kelamaan, meski selalu diberi uluran dana Cape Town mulai kesulitan dalam memproduksi pemain-pemain berkualitas.

Tercatat hanya beberapa pemain saja yang dirasa layak diimpor ke Belanda. Sebagian bahkan hanya sampai di tahap kelompok umur saja. Hingga saat ini hanya empat pemain asal Afrika Selatan saja yang pernah menembus skuad utama Ajax. Mereka adalah Eyong Enoh, Thulani Serero, Lassina Traore, dan Steven Pienaar. Mungkin Pienaar jadi nama yang paling familiar karena pernah bermain di Borussia Dortmund, Everton, hingga Tottenham.

Selain itu, Ajax Cape Town lama kelamaan jadi klub yang toxic. Mereka terlalu sering mengganti manajemen dan pelatih. Jadi, tak ada perkembangan yang berkelanjutan antara manajemen lama dan manajemen baru. Itu membuat klub gagal mewujudkan tujuan dari Ajax pusat. Ajax Cape Town bahkan belum pernah sekalipun menjuarai Liga Afrika Selatan.

Kembali ke Fitrah

Puncak kegagalan proyek ini adalah pada musim 2017/18. Saat itu hal yang tidak ada dalam rencana petinggi klub justru terjadi. Ajax Cape Town yang selama ini telah menghabiskan jutaan euro untuk pengembangan usia muda justru terdegradasi ke divisi dua Liga Sepakbola Afrika Selatan.

Ajax Cape Town terdegradasi karena terkena hukuman pengurangan poin. Itu disebabkan karena mereka memainkan pemain yang bernama Thendai Ndoro. Pemain itu ternyata tak terdaftar di Liga Afrika Selatan.

Awalnya Ajax Amsterdam masih percaya klub akan membaik musim berikutnya. Tapi, setelah diberi toleransi selama dua tahun, tak ada perkembangan signifikan yang ditunjukan oleh Ajax cabang Afrika Selatan ini. Mereka makin sulit menghasilkan pemain berbakat dan performanya di kompetisi domestik juga makin angin-anginan.

Pada tahun 2020, situasi Ajax Cape Town makin sulit. Ditambah dengan krisis pandemi Covid-19, Ajax pusat memutuskan untuk mengakhiri kerjasama yang sudah terjalin selama 21 tahun. Mereka pun melepas 51% sahamnya di Cape Town. Sejak saat itu, Ajax Cape Town kembali ke fitrahnya sebagai klub lokal biasa.

Kondisi Sekarang

Karena menolak bangkrut akhirnya Ajax Cape Town kembali menggunakan nama lamanya sebagai Cape Town Spurs. Nah, nama “Spurs” sendiri memang agak mirip dengan panggilan Tottenham Hotspur di Liga Inggris. Tapi itu bukan berarti mereka kini bekerjasama dengan klub London tersebut. Nama itu memang sudah dipakai sejak puluhan tahun lalu.

Tercatat, Cape Town Spurs masih eksis hingga sekarang. Musim 2022/23 jadi musim pertama mereka kembali berlaga di kasta tertinggi. Pamornya di kompetisi domestik sudah kalah dari klub tetangga yakni Cape Town City yang konsisten berlaga di kasta tertinggi sejak sebelas tahun terakhir.

Meski gagal, program ini banyak menginspirasi pengusaha-pengusaha yang menggilai sepakbola. Dengan sedikit penyempurnaan sistem yang pernah digunakan Ajax itu sekarang di-copas oleh perusahaan-perusahaan ternama. Contohnya saja seperti Redbull yang telah membangun kerajaan sepakbolanya sendiri.

Sumber: BBC, Sport Brief, Newframe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *