• March 4, 2024

Ketika Transfer Ronaldinho ke Barcelona Mengubah Sepakbola

Transfer pemain sering memberikan dampak besar bagi klub. Kita semua tahu bagaimana transfer Erling Haaland sangat berpengaruh dalam kesuksesan Manchester City mencatatkan treble winner atau bergabungnya Neymar ke PSG yang mampu merusak harga pasaran pemain top Eropa. 

Namun, beberapa transfer nyatanya memiliki dampak yang lebih besar dari biasanya. Bahkan kesepakatan itu dapat mengubah tatanan sepakbola. Salah satu contoh yang begitu berdampak pada persepakbolaan dunia adalah transfernya Ronaldinho ke Barcelona tahun 2003 silam. 

Mengapa demikian? Karena keputusan sang pemain untuk mengabaikan ketertarikan Manchester United demi bergabung La Blaugrana telah menciptakan efek domino yang melahirkan banyak sejarah baru di masa depan. Lantas, bagaimana bisa seorang pemain mempunyai dampak sebesar itu? 

Ronaldinho Menyita Perhatian

Pamor Ronaldinho mampu melintasi banyak generasi. Lahir dan besar di negara yang menganggap sepakbola sebuah agama seperti, Ronaldinho tumbuh dengan DNA sepakbola. Ia tak perlu bekerja keras sampai datang ke gym setiap hari untuk membuktikan kalau dirinya jago bermain bola.

Paris Saint-Germain jadi klub Eropa pertama baginya. Meski baru pertama kali, Ronaldinho tak canggung. Karena niatnya tulus hanya untuk memainkan sepakbola yang amat ia sukai. Bergabung pada tahun 2000, Ronaldinho yang masih berusia 21 tahun telah menarik perhatian. 

Layaknya silat yang mempertontonkan keindahan dalam beladiri, Ronaldinho menunjukan kalau sepakbola bukan hanya olahraga fisik. Melainkan ada cara lain untuk menonjolkan sisi keindahannya. Ia menari-nari seperti tak mempedulikan statistik gol maupun assist. Ronaldinho bermain untuk menghibur penonton dan dirinya sendiri.

Puncaknya pada tahun 2002 ketika Ronaldinho dipanggil ke skuad Timnas Brazil yang akan berlaga di Piala Dunia 2002. Dengan mengejutkan, Ronaldinho masuk dalam skuad utama asuhan Luiz Felipe Scolari. Ia membentuk trio bersama Ronaldo Il Fenomeno dan Rivaldo di lini depan. memainkan lima laga, Gaucho mencatatkan dua gol dan tiga assist untuk mengantarkan Selecao meraih gelar juara dunia.

Batal Bergabung Manchester United

Penampilannya bersama Timnas Brazil berhasil menyita perhatian. Ronaldinho langsung jadi komoditas panas di bursa transfer musim panas tahun 2003. Banyak klub top Eropa yang mengantri untuk mendapatkan tanda tangan Ronaldinho. Namun hanya ada dua klub yang begitu serius menginginkannya. Mereka adalah Manchester United dan Barcelona. 

Dengan dilatih Sir Alex Ferguson dan peluang meraih gelar yang lebih besar, United jadi opsi paling menarik saat itu. Karena Barca masih berusaha bangkit dari keterpurukan. Mereka sudah lama tak menjuarai La Liga. Akhirnya, Ronaldinho pun membuka negosiasi dengan pihak Manchester United terlebih dahulu.

Singkat cerita, kesepakatan pribadi dengan sang pemain dan biaya transfer ke PSG sudah disepakati. United tampak sudah memenangkan perlombaan untuk mendapatkan salah satu talenta terbaik dari Brazil itu. Namun, langkah itu tiba-tiba digagalkan oleh Barcelona yang datang di menit-menit akhir.

Wakil Presiden Barcelona yang baru, Sandro Rosell langsung menelpon Ronaldinho. Ia melakukan negosiasi yang cepat untuk menikung kesepakatan dengan United. Di sisa waktu yang ada, Ronaldinho memberi tahu Fergie kalau dirinya lebih memilih Barca. Selain karena bujukan Rosell, Ronaldinho meyakini kalau warga Brazil lebih mencintai Barcelona. 

Menurutnya, pemain Brazil punya sejarah baik di Barca. Jadi, selaku pemain yang juga berasal dari Negeri Samba, ia sangat senang apabila mendapat kesempatan untuk bermain di Barcelona. Nah, perubahan pilihan hati Ronaldinho lah yang menciptakan efek domino. Tak disangka, keputusannya itu berdampak besar pada dinamika sepakbola dunia.

Kemunculan Cristiano Ronaldo dan Terjebaknya Kleberson

Salah satunya adalah terjebaknya rekan satu tim Ronaldinho, yakni Kleberson di Manchester United. Ternyata Ronaldinho bukan satu-satunya alumni juara Piala Dunia 2002 yang diincar Manchester United. Teman senegaranya itu juga jadi target United untuk menjadi pelapis Roy Keane. Kleberson yang mengetahui Ronaldinho akan segera bergabung MU pun segera menghubunginya.

Ronaldinho membenarkan rumor tersebut. Ia bahkan sempat membujuk Kleberson untuk ikut bersamanya ke Manchester. “Kita akan ke Manchester bersama-sama,” ujarnya. Mendengar itu, Kleberson pun makin semangat. Ia menyetujui kesepakatan itu agar bisa bermain bersama Ronaldinho di Old Trafford.

Hanya saja, pada kenyataannya Kleberson merasa tertipu dengan bujukan koleganya itu. Di akhir jendela transfer, Ronaldinho justru bergabung dengan Barcelona. Makin sialnya lagi, Kleberson sulit beradaptasi di Manchester. Ia terkendala bahasa karena tak cakap berbahasa Inggris. Kleberson mengiyakan pinangan MU karena pikirnya ada Ronaldinho yang akan membantunya. Ternyata ia kena gocek temennya sendiri.

Di sisi lain, karena MU gagal mendapatkan Ronaldinho, Sir Alex pun berusaha mencari penggantinya. Pemain yang dipilih adalah bocah berusia 18 tahun dari Lisbon, Cristiano Ronaldo. Bersama United, ia membangun reputasi sebagai salah satu pemain sayap terbaik di Eropa. Jika Ronaldinho jadi bergabung dengan MU, mungkin Ronaldo tak akan pernah jadi legenda Manchester United.

Jadi Kebangkitan Barcelona

Ketika Kleberson tak bernasib mujur di Manchester United, Ronaldinho justru sebaliknya. Setelah bergabung dengan Barcelona, namanya kian mendunia. Ia jadi bagian penting di skuad asuhan Frank Rijkaard. Bersama Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan Carles Puyol, Ronaldinho membantu Barcelona untuk bangkit.

Didatangkan dengan biaya sekitar 30 juta euro (Rp494 miliar), Ronaldinho memberikan dampak yang signifikan di lini serang. Sebelum kedatangannya, musim 2002/03 La Blaugrana hanya finis di urutan keenam dan gagal mengamankan satu tiket ke Liga Champions. Namun, setelah ada Ronaldinho, Barca langsung melesat ke peringkat kedua musim 2003/04. Hanya kalah dari tim kejutan Valencia.

https://www.youtube.com/watch?v=Uf-6aRJk8q0&pp=ygUjYmFyY2Vsb25hIHdpbiBjaGFtcGlvbnMgbGVhZ3VlIDIwMDY%3D

Menurut rekannya di Barca, yakni Edmilson, ia bak seorang dewa yang mengubah nasib Barcelona. Sebelumnya, El Barca hanyalah klub yang tak memiliki motivasi lebih. Mereka bahkan dianggap bukan sebagai penantang gelar La Liga. Trofi Liga Spanyol terakhirnya didapat pada tahun 1998/99. Namun Ronaldinho merevitalisasi cara bermain Barca.

Barcelona kembali tampil apik di musim kedua setelah kedatangan Ronaldinho. Barca bahkan mampu mengamankan gelar La Liga dua musim berturut-turut yakni musim 2004/05 dan 2005/06. Tak hanya itu, Ronaldinho juga membantu Barcelona menjuarai Liga Champions musim 2005/06. Bisa dibilang, Ronaldinho adalah pondasi identitas Barcelona di era modern.

Kemunculan Lionel Messi

Bahkan jika ditelusuri lebih dalam Ronaldinho lah yang berperan penting dalam kemunculan Lionel Messi di skuad utama Barcelona. Ronaldinho bahkan dikisahkan amat mengayomi Messi. Hubungan hangat tersebut menjalar ke lapangan. Ronaldinho adalah kreator gol pertama Messi di skuad senior Barcelona.

Sebelumnya, tidak ada yang menyangka akan tercipta ratusan gol dan puluhan trofi untuk Barcelona dari pemain bertubuh mungil itu. Bayangkan, jika di pertandingan tersebut Ronaldinho tak memberikan umpan ke Messi. Mungkin pelatih tak akan memberikan kepercayaan lebih kepada Messi dan akhirnya kita tak akan pernah terhibur oleh skill-skill yang disajikan olehnya baik di level klub maupun tim nasional.

Dan yang paling mengerikan adala  ketika semua itu tak dilakukan oleh Ronaldinho bisa saja persepakbolaan dunia akan bernasib beda. Itu berarti kita tak akan pernah melihat persaingan paling seru sepanjang abad 21 antara dua pemain terbaik di dunia yakni Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Sumber: Talksport, The Sun, Planet Football, FIFA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *