• February 21, 2024

Kenangan Sulitnya Menembus Pertahanan Kokoh 4 Tim Serie A

Jika kita memutar memori ke belakangan, kita akan melihat betapa luar biasanya sepak bola Italia. Terlebih pada era-era memasuki abad ke-21. Ketika itu Italia masih belum hilang ciri khas sepak bolanya. Yap, benar, catenaccio.

Sebuah gaya bermain yang mengandalkan pertahanan grendel alias rapat atau sulit ditembus. Pada era itu, ada empat tim Serie A yang memiliki pertahanan begitu kokoh.

Keempat tim itu adalah Juventus, Inter Milan, AC Milan, dan Parma. Tim-tim itu memiliki para jagoan di lini pertahanan. Jadi, seperti apa sih susahnya membobol keempat tim itu? Apa yang membuat mereka punya pertahanan yang luar biasa?

Serie A Dibangun dengan Reputasi Catenaccio

Pada awal tahun 1990-an dan sepanjang periode itu, sepak bola Italia sudah dikenal dengan sepak bola yang mengandalkan gaya bertahan. Gaya sepak bola itu sangat melekat pada Italia, tak terkecuali pada liganya. Serie A pada periode tersebut memiliki reputasi sebagai liga dengan timnya memiliki pertahanan gigih.

Dengan itu tim-tim dari Serie A kerap tampil spektakuler tak hanya di level domestik, tapi juga di skala Eropa. All Italian Final di partai puncak juga tak jarang terjadi. Gaya main seperti itulah yang justru menjadi norma tersendiri di sepak bola Eropa. Ada dua tim yang pada era tersebut mempunyai pertahanan paling kokoh, yaitu AC Milan dan Juventus.

Oleh sebab itu, Serie A juga acap kali disebut “Liga Defensif”. Klub-klub Italia begitu mengandalkan pertahanan rapat dan itu ternyata sangat efektif untuk melakoni pertandingan-pertandingan krusial. Kehadiran para maestro taktik seperti Marcello Lippi dan Fabio Capello pun tak bisa membuat Serie A lepas dari gaya Machiavellian-nya itu.

Singkatnya, sepak bola Italia merasakan masa keemasannya dengan fondasi benteng yang disemen begitu kokoh oleh para maestro di lini belakang. Kendati kita juga harus mengakui bahwa Italia juga melahirkan para penyerang hebat, seperti Alessandro Del Piero dan tentu saja, Filippo Inzaghi.

Juventus

Seperti yang sudah dikatakan tadi. Juventus adalah salah dua dari empat tim yang memiliki pertahanan paling solid. La Vecchia Signora telah beberapa kali merebut scudetto dengan gaya bermain bertahan. Misalnya pada perebutan gelar Serie A musim 1996/97.

Waktu itu Bianconeri dibesut pelatih kawakan seperti Marcello Lippi. Kekayaan taktik Lippi dipadukan dengan kualitas pertahanan adalah perpaduan yang sangat pas untuk mengantarkan Juventus meraih scudetto musim itu.

Juventus menjuarai Serie A musim itu setelah mengumpulkan 65 poin. Mereka mengalahkan Parma di peringkat kedua. Hebatnya, sebagai juara Serie A, Bianconeri hanya kebobolan 24 gol saja. Gianluca Pessotto, Ciro Ferrara, Sergio Porrini, sampai tentu saja Mark Iuliano menjadi pahlawan di lini belakang.

La Vecchia Signora juga masih diperkuat Antonio Conte yang jadi sosok penjelajah sekaligus kapten tim. Jangan lupakan pula Didier Deschamps, Christian Vieri, Zinedine Zidane, sampai Vladimir Jugovic yang begitu luar biasa di lini tengah.

Salah satu bukti betapa kokohnya pertahanan Juventus kala itu adalah di Derby d’Italia pada 20 Oktober 1996. Juventus ketika itu berhasil meredam serangan Inter dan bahkan membuat mereka harus takluk. Dua gol dari Jugovic dan Zidane tak mampu dibalas oleh Inter.

Juventus (2)

Musim itu bukan hanya memenangkan Serie A, Juventus juga sukses menyabet gelar UEFA Super Cup dan Interkontinental Cup. Kegemilangan pertahanan Juve berlanjut beberapa tahun berikutnya. Persis pada musim 2001/02, salah satu musim Serie A dengan persaingan paling ketat.

Kala itu Juventus, Inter, dan AS Roma masih mempunyai peluang yang sama sampai pertandingan terakhir. Jelang giornata ke-34, Inter memimpin di puncak dengan 69 poin. Disusul Juventus dengan 68 poin dan AS Roma dengan 67 poin.

Nasib malang harus menghampiri Inter. La Beneamata terbilang apes karena harus menghadapi tim kuat Lazio. Inter sejatinya bisa menahan imbang Lazio di babak pertama. Tapi Biancocelesti justru memastikan kemenangan 4-2 di akhir. Sementara Juventus membobol gawang Udinese dua gol tanpa balas.

Sementara Giallorossi hanya bisa menang 1-0 atas Torino. Juventus pun berpesta pora. Ketika itu Bianconeri menuntaskan Serie A dengan hanya kebobolan 23 gol saja! Lebih sedikit dari musim 1996/97. Kemenangan Juve musim itu nyaris tidak ada bedanya dengan tahun 1997.

Juve masih dilatih Lippi. Namun, yang bikin musim itu pertahanan Bianconeri lebih kokoh adalah kehadiran Gianluigi Buffon. Selain itu, Juve juga punya bek gesit seperti Lilian Thuram, Ferrara, dan Gianluca Zambrotta. Juventus juga punya Edgar Davids yang menopang Buffon di lini bertahan.

AC Milan

Setelah dari Juve kita ke AC Milan. Terdapat dua musim untuk menjelaskan betapa kokohnya pertahanan Rossoneri. Musim 1993/94 dan 2002/03. Kita mulai dengan yang pertama dulu. Pada musim 1993/94, Milan masih dikuasai mantan perdana menteri Italia, Silvio Berlusconi. Sementara Fabio Capello berada di balik kemudi.

Musim itu AC Milan diperkuat pasangan bek tengah Alessandro Costacurta dan Franco Baresi. Kedua bek itu menopang keberadaan veteran Filippo Galli. Oh, betapa kita juga tak bisa melupakan bagaimana solidnya Paolo Maldini di sisi kiri dan Mauro Tassotti di seberangnya.

Kokohnya pertahanan mengantarkan AC Milan juara musim itu. Tak hanya Serie A, tapi juga Liga Champions dan Supercoppa Italia. Dengan komposisi lini bertahan semacam itu, Milan bahkan bisa mengalahkan Barcelona asuhan Johan Cruyff di final UCL 1994 dengan skor mencolok 4-0.

Rossoneri memang tak scudetto pada musim 2002/03. Tapi anak asuh Carlo Ancelotti finis di peringkat ketiga dan hanya kebobolan 30 gol atau satu gol lebih banyak dari Juventus sang juara. Namun, musim itu menjadi musim yang luar biasa. Musim yang menandai kembalinya kejayaan Milan di pentas Eropa.

Rossoneri mengalahkan Juventus di final Liga Champions. Final yang disebut-sebut sebagai pertandingan empat bek paling berkesan sepanjang masa. Milan diperkuat Dida. Di depan kiper Brasil penampilan mengagumkan diperlihatkan Kakha Kaladze, Paolo Maldini, Nesta, dan Costacurta.

Dengan tambahan orang Georgia, pasukan Ancelotti menahan gempuran Juventus selama 120 menit. AC Milan menciptakan clean sheets hingga laga harus berakhir lewat adu penalti. Milan pun berhasil memenangkan gelar Liga Champions.

Inter

Pertahanan kokoh ada dalam skuad Inter musim 1997/98. Betul bahwa La Beneamata gagal juara musim itu. Tapi kebobolan 27 gol saja membuat Inter menahbiskan diri sebagai tim dengan kebobolan paling sedikit di Serie A musim itu. Malah lebih sedikit dari Juventus sang juara yang kebobolan 28 gol.

Masih ingat pemain berambut nyentrik, Taribo West? Pemain Nigeria itu bukan hanya cari muka lewat rambutnya, tapi ia seperti batu karang di lini pertahanan Inter. West melengkapi instrumen pertahanan Inter yang diperkuat Francesco Colonnese, Javier Zanetti, dan Salvatore Fresi.

Orang-orang tadi berhasil mengantarkan Inter juara di UEFA Cup 1998. Zanetti bertugas di sisi kiri, sedangkan Colonnese di kanan, dan Fresi adalah penyapu paling sempurna saat final di Paris menghadapi Lazio.

Aquilotti yang diperkuat penyerang Roberto Mancini dibuat tak berkutik oleh lini belakang Inter. Sebaliknya, Inter yang diasuh Luigi Simoni memberondong tiga gol ke gawang Lazio. Zamorano, Zanetti, dan El Fenomeno bergiliran membobol gawang Luca Marchegiani.

Walaupun gagal scudetto, kisah menakjubkan itu dikenang Colonnese sebagai salah satu musim terbaiknya di Inter. Menurutnya, Inter musim itu memiliki kualitas, kepribadian, dan bakat yang luar biasa. Dia juga tak menampik bahwa timnya punya pertahanan terbaik di liga.

Parma

Terakhir kita ke Parma. Pada periode ini, Parma mempunyai salah satu barisan pertahanan kuat di Serie A. Selain Gianluigi Buffon yang kelak menjadi kiper terbaik di dunia, ada bek tangguh Fabio Cannavaro, Antonio Benarrivo, dan Roberto Sensini.

Mereka seperti baja yang melindungi pertahanan Parma sepanjang musim 1998/99. Sosok Lilian Thuram juga tak bisa dilupakan. Puncak kehebatan Parma terjadi di final Piala UEFA 1999 menghadapi Marseille.

Kuatnya pertahanan Crociati dikombinasikan dengan taktik serangan balik khas Alberto Malesani mampu membobol gawang Marseille tiga kali. Lilian Thuram menjadi aktor di laga itu karena terlibat dalam dua gol Parma. Sementara pencetak golnya adalah Hernan Crespo, Paolo Vanoli, dan Enrico Chiesa.

Sebelum itu Parma juga sudah membantai juara Ligue 1 musim tersebut, Bordeaux di leg kedua perempat final 6-0. Kokohnya pertahanan Crociati membuat Bordeaux yang diperkuat Cristian Pavon, Sylvain Wiltord, sampai Ali Benarbia tak berkutik sama sekali.

Sumber: PlanetFootball, Football365, InterIt, MoreThanGame, TheseFootballTimes, GentlemanUltra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *