• February 21, 2024

Kebangkitan Fiorentina, Sang Magnificent Seven yang Lama Terbenam

Rindu rasanya melihat klub berseragam ungu dari Italia, Fiorentina seperti era 90-an. Mereka dulu termasuk dalam bagian The Magnificent Seven Serie A. Namun setelah itu mereka bak tertidur pulas, baik di liga domestik maupun kancah Eropa. Jalan berliku telah dialami klub asal kota Firenze itu, bahkan degradasi dan kebangrutan pun telah mereka alami.

Namun sekarang keadaanya berbeda. Angin kerinduan akan kebangkitan sedang berhembus kencang. La Viola kini tengah berusaha kembali menuju era kejayaan. Apakah kerinduan akan kejayaan itu benar-benar akan segera terobati musim ini?

Era Kejayaan Fiorentina Terakhir Kali Meraih Trofi

Di era kejayaan Fiorentina 1995/96, mereka pernah mempunyai trio mematikan dalam diri Gabriel Batistuta, Francesco Toldo, dan Rui Costa. Sejak itu mereka menjadi tim besar yang ditakuti setelah memboyong Coppa Italia.

Era kejayaan itu bahkan berlanjut sampai era 2000-an awal. Meski sudah ditinggal pilarnya seperti Batistuta, La Viola masih ditakuti dengan bomber barunya macam Nuno Gomes dan Enrico Chiesa. Buktinya gelar Coppa Italia kembali mampir di musim 2000/01.

Masa-masa indah itu ternyata menjadi titik terakhir perjalanan tim ini. Karena trofi Coppa Italia itu ternyata menjadi trofi terakhir yang mereka dapat hingga sekarang. Lho, ke mana saja Fiorentina selama ini?

Bangkrut dan Terdegradasi

Bak petir yang menyambar di siang bolong, Fiorentina setelah musim kejayaannya dilanda krisis keuangan yang berdampak pada kebangkrutan tim. Mereka tak mampu membayar gaji pemain dan hutang klubnya pun menggunung hingga mencapai 50 juta dollar.

Pemilik klub waktu itu Vittorio Cecchi Gori menyerah dan tak mampu menahan krisis itu. Fiorentina tak bisa diselamatkan dan harus legowo untuk terdegradasi pada akhir musim 2001/02. Celakanya tak hanya degradasi saja. Mereka juga harus berurusan dengan masalah hukum.

Alhasil lantaran bangkrut dan bermasalah soal finansial, terutama karena hutangnya banyak, pihak federasi dan hukum memutuskan bahwa Fiorentina tidak hanya terdegradasi ke Serie B namun langsung ke Serie C. Putusan itulah yang membuat keadaan Fiorentina makin tak karuan dan sempat pula dibekukan sebagai sebuah klub.

Seperti tak tahu lagi caranya untuk bangkit, suatu keajaiban tiba-tiba datang. Ketika seorang bernama Della Valle menolong tim dengan mencabut pembekuan Fiorentina dan bangkit kembali di tahun 2002. Oleh orang yang kemudian diangkat sebagai presiden baru mereka itu, Fiorentina dibawanya dengan cepat promosi ke Serie B dan kembali lagi ke Serie A pada 2004/05.

Liga Champions dan Piala UEFA

Sebuah era baru pun dimulai. Tepatnya di musim 2005/06, ketika presiden Della Valle menunjuk direktur olahraga baru Pantaleo Corvino dan pelatih baru Cesare Prandelli. Di era itu pemain seperti Sebastian Frey, Tomas Repka, Martin Jorgensen, Stefano Fiore, Adrian Mutu, dan Luca Toni menjadi bagian terpenting dari skuad Prandelli.

Di masa kebangkitan Fiorentina itu, mereka bahkan sempat mencicipi berlaga di Liga Champions musim 2008/09 dan Piala UEFA musim 2007/08. Bahkan di Piala UEFA mereka mampu mencapai babak semifinal.

Begitupun di era presiden Della Valle meletakan jabatannya pada 2010 dan digantikan oleh Mario Cognigni. Fiorentina yang sempat kesulitan akhirnya mampu dibawa pelatih Vincenzo Montella pada musim 2014/15 ke posisi empat besar Serie A dan kembali menjadi semifinalis di Europa League.

Tuah Kedatangan Vincenzo Italiano

Sempat berganti pelatih dari Paulo Sousa, Stefano Pioli, kembali lagi ke Montella, dan kemudian disusul Giuseppe Iachini, serta kembalinya lagi Cesare Prandelli tetap tak membuat Fiorentina menjadi lebih baik. Mereka tak ubahnya hanya tim medioker biasa yang tak punya taji mentereng lagi di kompetisi domestik maupun Eropa.

Namun semuanya berubah ketika seorang pelatih plontos bernama Vincenzo Italiano datang pada musim 2021/22 di bawah presiden baru Rocco Benito Comisso. Tapi apakah seketika optimisme kebangkitan itu hadir? Apa yang diharapkan dari pelatih yang sebelumnya hanya melatih Spezia?

Italiano nyatanya bekerja keras membangun tim dengan membeli pemain sesuai kebutuhan kerangka tim yang ia rencanakan. Tak heran beberapa pembeliannya terbukti gacor hingga sekarang. Seperti Nicolas Gonzalez, Lucas Martinez, Igor, Dodo, Ikone, maupun Arthur Cabral.

Di masa Italiano melatih, ia pun dengan berani mengambil resiko ketika melepas top skor mereka Dusan Vlahovic serta bintang muda mereka Federico Chiesa dengan harga mahal ke Juventus.

Taktik Vincenzo Italiano

Italiano tak takut kehilangan bintangnya. Ia yakin dengan racikan formasi menyerangnya 4-2-3-1 maupun 4-3-3, mampu bersaing di level teratas. Dan terbukti di musim pertamanya saja tanda-tanda kebangkitan itu mulai hadir.

La Viola berhasil diantarkannya masuk semifinal Coppa Italia lagi dan masuk kompetisi Eropa, yakni Conference League. Bahkan mereka di musim ini performanya tambah meningkat lagi berkat pematangan dan penambahan pemain yang dilakukan Italiano.

Poros Jonathan Ikone dan Nicolas Gonzalez di sayap dengan skill dan kecepatannya, serta Arthur Cabral sebagai ujung tombak terbukti ampuh. Cabral selain jago buka ruang dan memantulkan bola, dia juga jago melakukan finishing. Terbukti ia menjadi top skor sementara klub.

Lini belakang mereka juga solid di bawah komando Milenkovic dan Igor. Mereka berdua juga berfungsi baik dalam menutup celah yang sering ditinggalkan dua full back mereka, Dodo maupun Biraghi yang sering rajin naik ke depan membantu serangan.

Keseimbangan di lini tengah mereka juga sangat penting. Karena di situ ada peran seorang Holding Midfielder yang jadi kunci bagi Italiano, yakni Sofyan Amrabat. Pemain muslim asal Maroko itu berfungsi bagus menjadi pengaman lini tengah dengan duel-duelnya. Sehingga gelandang tandemnya baik Bonaventura maupun Castrovilli mampu leluasa membantu serangan.

Harapan Conference League dan Coppa Italia

Meski hasilnya pada awal musim agak sedikit tertatih, namun perlahan tuah racikan Italiano itu mulai dirasakan di paruh musim kedua. Fiorentina menjelma menjadi giant killer di Serie A. AC Milan dan Inter Milan saja telah menjadi korban kekalahan skuad Italiano.

Setelah kalah dari Juventus pada Februari 2023, La Viola juga catatkan rekor 14 laga tak terkalahkan di semua kompetisi hingga sebelum laga melawan Atalanta. Sebuah rekor yang juga dilengkapi kesuksesan mereka melangkahkan satu kakinya ke babak final Coppa Italia dan semifinal Conference League.

Di Coppa Italia mereka seharusnya dengan mudah melangkah ke final setelah mengalahkan Cremonese 0-2. Sedangkan di ajang Conference League, setelah kemenangan tandang 4-1 atas Lech Poznan, mereka di atas angin untuk meraih tempat di semifinal kompetisi Eropa yang telah lama mereka impikan sejak 2015 silam.

Tak hanya itu, jika performa kebangkitan La Viola di bawah Italiano ini mampu konsisten hingga akhir musim, bisa-bisa memori kerinduan akan sebuah trofi sejak penantian 22 tahun silam cepat atau lambat akan segera terwujud.

Sumber Referensi : totalitalianfootball, footballitalia, transfermarkt, violanation, panditfootball, acffiorentina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *