• March 4, 2024

James Maddison yang Menjilat Ludahnya Sendiri

Meski tak bermain di kompetisi Eropa musim depan, Tottenham tetap memiliki pesona tersendiri di mata beberapa pemain, termasuk pemain Leicester City, James Maddison. Setelah Leicester degradasi dari Liga Inggris, Maddison memutuskan untuk bergabung dengan Spurs musim depan.

Maddison emang gagal menyelamatkan Leicester dari degradasi, tapi kemampuannya tak bisa dikesampingkan. Kehebatannya bahkan sempat menarik beberapa klub ternama untuk menggaetnya. Tapi ia justru memilih Spurs, klub yang pernah ia benci. 

Menurut jejak digital di masa lalu, Maddison merupakan netizen julid yang membenci dan sering menghina klub asal London tersebut. Lantas, apa yang membuat Maddison mau menjilat ludahnya sendiri demi berseragam Spurs musim depan?

Kesepakatan Dengan Spurs

Setelah drama panjang, James Maddison akhirnya sepakat untuk bergabung dengan Tottenham. Pihak klub pun sudah memposting video singkat yang menunjukan kalau mereka sudah mengamankan jasa pemain berkebangsaan Inggris tersebut. Menurut Goal, Spurs menebus sang pemain dari Leicester City dengan mahar 40 juta pound atau sekitar Rp756 miliar.

Maddison dikabarkan diikat dengan kontrak berdurasi lima tahun oleh Spurs. Ia jadi rekrutan kedua Spurs di bawah asuhan manajer baru, Ange Postecoglou setelah penjaga gawang asal Italia, Guglielmo Vicario.

Kabarnya, di balik kesepakatan itu terselip satu syarat tak tertulis di kontrak Maddison. Leicester meminta Spurs untuk melepas salah satu gelandangnya untuk menggantikan Maddison. Maka dari itu, Harry Winks dipersilakan bergabung dengan The Foxes dalam kesepakatan terpisah senilai 10 juta pound (Rp189 miliar).

Diincar Banyak klub Top

Jika alasan Maddison hanya sekadar untuk bisa bermain di kasta tertinggi, sebetulnya banyak klub lain yang meminatinya. Ketika kontraknya hanya menyisakan satu tahun di Leicester, banyak klub yang menggoda The Foxes agar mau melepas sang pemain sebelum akhirnya pergi secara gratis di akhir kontrak.

Kemampuan dan skill olah bola yang ditunjukan Maddison selama lima musim membela Leicester membuat tim-tim papan atas Liga Inggris tak ragu untuk berusaha mendatangkannya. Klub kaliber Manchester United dan Liverpool pun sempet ngantri untuk mendapatkan tanda tangan gelandang 26 tahun tersebut.

Namun, Maddison tak merasa kalau kedua klub benar-benar menginginkannya. Itu dibuktikan dengan pergerakan mereka yang lambat. Ketika Maddison membuka pintu, kedua klub tersebut tak kunjung mengajukan tawaran kepada Leicester. Tercatat hanya Spurs dan Newcastle yang serius menginginkan Maddison.

The Magpies masih kukuh ingin memboyongnya meski tawarannya ditolak pada musim dingin lalu. Manajer Newcastle, Eddie Howe adalah penggemar berat dari mantan pemain Norwich tersebut. Howe berharap sang pemain mau merapat ke St James Park musim panas ini. Namun, Maddison justru tak terkesan dengan proyek Newcastle.

Padahal legenda Aston Villa, Gabriel Agbonlahor sudah menyarankan kepada Maddison untuk menerima pinangan dari Newcastle. Agbonlahor merasa The Magpies memiliki prospek lebih baik dari Spurs dan itu akan membantu Maddison menapaki karir yang lebih baik. Toh, Newcastle berlaga di Liga Champions musim depan, sedangkan Spurs tidak. 

Tapi namanya juga pemain, mereka punya 100% kuasa pada dirinya sendiri untuk memilih klub mana yang akan dibela. Meski banyak yang menyayangkan, akhirnya Maddison tetap menerima pinangan Spurs.

Haters Spurs

Lucunya, ketika jurnalis ternama asal Italia, Fabrizio Romano mengumumkan kesepakatan ini, tiba-tiba salah satu fans Spurs memviralkan sebuah gambar yang memperlihatkan beberapa postingan lama di twitter pribadi James Maddison. Postingan tersebut mengindikasikan bahwa sang gelandang pernah jadi haters Tottenham beberapa tahun lalu.

Dilansir Daily Mail, salah satu postingannya bahkan menghina salah satu legenda Spurs, Gareth Bale. Pada tahun 2012, Maddison menghina pemain Wales tersebut dengan sebutan “monyet”. Maddison juga merasa kalau Jack Wilshere jauh lebih baik daripada Bale.

Tak cuma itu, pada tahun 2013, Maddison kembali menulis tentang Spurs. Ia menjelaskan kalau dirinya begitu membenci Spurs dan mengajak teman-temannya untuk tidak mendukung klub asal London tersebut.

Kala itu Maddison masih berusia sekitar 15 tahun. Namun, jika dilihat dari sudut pandang sekarang, kalimat yang menjurus ke ujaran kebencian seperti itu sangat tidak pantas keluar dari pemain bintang sekelas Maddison. Apalagi kini ia berseragam Spurs. 

Eits, fans Spurs jangan emosi dulu. Kabarnya, dua postingan tersebut kini sudah dihapus oleh sang punya akun. Hal serupa ternyata pernah terjadi juga kepada Matt Doherty ketika didatangkan Spurs pada tahun 2020 kemarin. Bahkan postingan yang mengatakan kalau Doherty merupakan fans Arsenal dijadikan video promosi perkenalannya.

Faktor Ange Postecoglou

Jika pernah membenci Spurs, kenapa Maddison masih mau bergabung dengan klub tersebut? Selain karena masih ingin bermain di kasta tertinggi Liga Inggris, sebelum menandatangani kontrak, Maddison dikabarkan sudah berbicara terlebih dahulu dengan pelatih Spurs yang baru, Ange Postecoglou.

Pelatih asal Australia itu membujuk Maddison agar mau bergabung dengan Spurs. Ange memaparkan bagaimana dirinya akan membangun tim musim depan dan sang pemain merasa cocok dengan gaya bermain dari sang pelatih. Ange ingin meninggalkan sistem dua gelandang bertahan yang diusung Antonio Conte.

Ange akan kembali menggunakan tiga gelandang musim depan dan itu cocok dengan gaya bermain James Maddison. Karena dengan skema seperti itu, Maddison akan ditempatkan di depan dua gelandang sehingga mempunyai kebebasan dalam bergerak. Dengan begitu Ange bisa memaksimalkan kreativitas yang dimiliki oleh pemain berkebangsaan Inggris tersebut.

Pelatih berdarah Yunani itu sangat menggemari gelandang serba bisa yang memiliki mobilitas tinggi seperti Maddison. Menyerang memang atribut inti dari Maddison. Tapi sejatinya ia merupakan gelandang penjelajah. Maddison bisa merebut bola, bertahan, mengeksekusi bola mati, bahkan mencetak gol. Ange senang dengan pemain yang rela melakukan apa pun demi tim.

Jaminan Inti

Selain itu, Tottenham juga menjamin posisi Maddison di skuad utama. Ia akan mengemban peran vital di lini tengah Spurs musim depan. Hal itu diungkapkan sendiri oleh Ange Postecoglou. Mantan pelatih Yokohama F Marinos itu yakin kalau sang pemain bisa meningkatkan kualitas lini tengah Spurs musim depan.

Demi memberikan ruang kepada Maddison, Ange bahkan siap menjual beberapa gelandangnya musim depan. Nama Harry Winks jadi yang pertama di depak oleh sang pelatih. Kabarnya, dalam waktu dekat Spurs juga siap melepas Pierre-Emile Højbjerg apabila ada tawaran yang cocok.

Jaminan inilah yang tak ditawarkan oleh klub-klub lain. Di Newcastle, ia mau nggak mau harus bersaing dengan Bruno Guimaraes yang performanya mengesankan musim lalu. Begitupun di Manchester United. Ten Hag mencari gelandang serang baru hanya untuk menjadi pelapis Bruno Fernandes yang musim lalu tenaganya sudah habis terkuras karena selalu diturunkan di setiap laga.

Janji Manis

Pihak Tottenham juga “menjual janji” kepada sang pemain. Awalnya Maddison sempat ragu apakah Tottenham adalah pilihan terbaik. Soalnya, sejak remaja ia sudah paham betul kalau Spurs bukanlah tim yang menjanjikan trofi setiap tahunnya. 

Dalam beberapa musim terakhir, Spurs juga bisa dibilang bermain kurang atraktif. Mereka kerap mencatatkan banyak penguasaan bola, tanpa mampu membukukan banyak peluang untuk mencetak gol.

Untuk meyakinkan Maddison, Spurs bersama Ange Postecoglou menjanjikan kesuksesan di masa depan. Ange bahkan berkelakar kalau Maddison akan terkejut karena melihat level permainan Spurs akan jauh meningkat musim depan. Kita akan lihat keputusan Maddison untuk menjilat ludahnya sendiri dan bergabung dengan Spurs bakal berakhir sia-sia atau tidak.

Sumber: The Analyst, The Mag, Talksport, Goal, The Athletic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *