• March 5, 2024

Imbas Pengurangan 10 Poin, Juventus Terancam Eksodus Pemain!

Malang betul nasib Juventus! Musim ini, Juve seperti sedang mendapat ujian terberat mereka pasca skandal calciopoli. Nasib mereka tengah terkatung-katung dan seolah hanya jadi bahan mainan. Dihadapkan dengan masalah hukum, performa Si Nyonya Tua di atas lapangan hijau juga jauh dari target.

Seperti itulah gambaran Juventus di musim ini. Ujian sudah datang menghampiri tak lama setelah musim 2022/2023 dimulai. Mereka sempat dibuat bernapas lega. Namun ternyata, itu hanyalah kedamaian semu sebelum akhirnya datang badai yang sesungguhnya.

Lagi, Juventus Kena Pengurangan 10 Poin

Belum lama ini, tepatnya pada Senin, 22 Mei 2023, Pengadilan Banding FIGC resmi menjatuhi hukuman pengurangan 10 poin untuk Juventus. Meski lebih ringan dari tuntutan sebelumnya, tetapi jaksa FIGC, Giuseppe China menegaskan bahwa Juventus tetap bersalah atas kasus pelanggaran capital gain atau yang kita kenal dengan skandal plusvalenza.

Ini jadi kali kedua Juventus terkena sanksi pengurangan poin. Sebelumnya, pada 20 Januari lalu, mereka sudah pernah dijatuhi hukuman pengurangan 15 poin. Namun, hukuman tersebut dicabut setelah Si Nyonya Tua mengajukan banding ke Komite Olimpiade Italia atau CONI, pengadilan olahraga tertinggi di Italia.

Dicabutnya hukuman tersebut sempat membuat pendukung Juventus senang bukan main. Pasalnya, akibat pengurangan 15 poin, Juve sempat mendekam di peringkat 10 klasemen Serie A. Namun, setelah hukuman tersebut dibatalkan pada 20 April 2023, Si Nyonya Tua yang tengah duduk di peringkat 7 langsung melompat tinggi ke peringkat ketiga.

Tiga kemenangan beruntun di giornata 33 hingga 35 kemudian membuat Juventus menduduki peringkat kedua di bawah Napoli. Sayangnya, kebahagiaan tersebut hanya berlangsung 5 pekan saja. Hukuman pengurangan 10 poin kembali membuat Juventus merosot dan terlempar ke peringkat ketujuh.

Skandal Plusvalenza Juventus Bukan Skandal Biasa

Hukuman tersebut memang terasa tidak adil bagi Juventus. Nasib mereka musim ini seperti jadi bahan mainan tanpa adanya kejelasan yang pasti. Maka tak mengherankan jika banyak pendukung Juve yang geram dan menyebut kalau tim kesayangan mereka sebagai public enemy yang tengah dilucuti kekuatannya.

Legenda Juve, Fabio Cannavaro juga berpendapat kalau seharusnya hukuman pengurangan poin diberikan di akhir musim agar tidak menimbulkan kebingungan dan mencederai perjuangan para pemain. Hal senada juga dilontarkan pelatih AS Roma, Jose Mourinho. Mourinho merasa prihatin dengan para rekan sejawatnya di Juventus yang telah bekerja secara profesional, tetapi harus menanggung kesalahan yang dibuat oleh klub dan para direktur.

Namun, penggeledahan yang dilakukan oleh Guardia di Finanza yang diikuti dengan hukuman skors yang menimpa mantan petinggi Juventus, seperti Andrea Agnelli, Pavel Nedved, Maurizio Arrivabene, Federico Cherubini, hingga Fabio Paratici sudah menunjukkan kalau skandal plusvalenza memang sebuah pelanggaran berat.

Menggelembungkan nilai transfer dan memanipulasi laporan keuangan agar mendapat keuntungan modal atau capital gain adalah sebuah tindak kejahatan. Juventus memang masih bisa mengajukan banding lagi atas pengurangan 10 poin yang baru saja mereka dapatkan. Akan tetapi, hukuman yang bakal mereka terima mungkin tak hanya sekadar itu.

Selain skandal plusvalenza, Juventus juga tengah dalam penyelidikan karena diduga telah membuat pembukuan palsu terkait gaji. Selama pandemi Covid-19 yang lalu, Juventus melakukan perjajian dengan pemainnya untuk memotong 4 bulan gaji demi mereduksi kerugian klub. Namun, pada kenyataannya, kesepakatan tersebut hanya berlangsung sebulan.

Sementara itu, di 3 bulan lainnya, para pemain Juve tetap mendapat bayaran dalam transaksi “di bawah meja” yang memungkinkan Juventus dan para pemainnya terhindar dari pajak. Laporan pembayaran gaji tersebut diduga dipalsukan agar dalam pembukuannya terlihat sehat.

Kasus tersebut memang masih dalam penyelidikan. Namun, jika terbukti bersalah, Juventus bisa terseret ke malapetaka yang lebih besar, yakni berhadapan langsung dengan UEFA dan regulasi Financial Fair Play. Pasalnya, musim lalu Juve sudah didenda €3,5 juta karena melanggar FFP. Imbasnya, jika semua tuduhan itu terbukti, Si Nyonya Tua bisa ditendang dari kompetisi antarklub Eropa tak peduli ada di mana mereka finish di akhir musim.

Imbas Pengurangan Poin, Juventus Terancam Gagal Lolos ke UCL

Akan tetapi, tanpa menunggu keputusan dari pengadilan, Juventus memang sudah terancam gagal tampil di UCL musim depan. Sebab, pengurangan 10 poin yang mereka dapatkan telah membuat posisi mereka di papan klasemen Serie A terjun ke peringkat 7.

Hukuman pengurangan poin tersebut datang hanya beberapa jam sebelum laga melawan Empoli di giornata 36. Sepertinya, skuad Juve terlanjur kena mental. Di saat butuh kemenangan, mereka malah tumbang 4-1.

Pengurangan poin plus kekahalan telak atas Empoli telah membuat koleksi poin Juventus terhenti di angka 59. Mereka pun gagal mengkudeta AS Roma yang di laga lain hanya meraih 1 poin. Dihempaskan ke peringkat 7 telah membuat Juventus kini terancam absen di UCL untuk pertama kalinya dalam sedekade terakhir.

Di tengah kondisi finansial yang tidak baik, lolos ke UCL adalah sebuah kewajiban. Sayangnya, pengurangan poin telah mencederai perjuangan para pemain di lapangan. Sebab, jika poin mereka tak dipangkas, Juventus kini seharusnya tengah membuntuti Napoli.

Peluang Juve untuk kembali mengklaim spot UCL juga berat. Sebab, Serie A hanya tinggal menyisakan 2 laga saja. Semisal bisa meraih kemenangan atas AC Milan dan Udinese di dua laga terakhir, Si Nyonya Tua masih harus berharap agar Milan, Atalanta, dan Roma kalah di dua laga tersisa.

Eksodus Pemain Mengancam Juventus

Ada konsekuensi olahraga dan ekonomi yang serius apabila Juventus gagal lolos ke UCL. Tidak tampil di kompetisi kasta teratas benua Eropa juga akan mempengaruhi skuad mereka musim depan. Ya, imbas dari pengurangan poin yang membuat Juventus terlempar dari zona Liga Champions telah membuat mereka terancam eksodus pemain.

Sudah ada 2 pemain yang dikonfirmasi akan angkat kaki dari Turin. Keduanya adalah Angel Di Maria dan Leandro Paredes. Di Maria akan pergi secara gratis sementara Paredes akan kembali ke klub induknya, PSG.

Juve sebenarnya sudah mencoba memperpanjang kontrak Angel Di Maria, bahkan kedua belah pihak sudah saling optimis pada bulan April lalu. Namun, kesepakatan gagal terwujud. Bintang Argentina di Piala Dunia 2022 itu tidak yakin dengan masa depannya di Turin.

Begitulah dampak buruk dari gagalnya lolos ke UCL bagi klub sebesar Juventus. Ancaman eksodus pemain Juventus memang benar adanya.

Mengutip dari Football Italia, Bianconeri bisa kehilangan pendapatan potensial hingga €90 juta. Absen di UCL juga bakal berdampak kepada kontrak komersial dan daya tarik Juventus di mata internasional. Dengan kondisi finansial yang jelas akan memburuk di musim depan, Juve bakal keteteran di pasar transfer pemain.

Gagalnya negosiasi kontrak baru Angel Di Maria adalah contohnya. Dengan kemungkinan absennya Juve di UCL dan menurunnya pendapatan klub, mereka diperkirakan bakal sulit memperbarui kontrak pemainnya. Dan Di Maria juga bukan satu-satunya pemain Juve yang akan habis kontrak per Juni 2023.

Selain Di Maria dan Paredes, Adrien Rabiot, Juan Cuadrado, Arkadiusz Milik, Manuel Locatelli, dan Moise Kean juga akan habis kontrak. Milik dan Kean kemungkinan besar akan bernasib sama seperti Paredes, yakni kembali ke klub induknya. Sementara itu, Rabiot sudah jadi salah satu komoditi panas pasar transfer pemain.

Rabiot sebetulnya sudah nyaris hengkang musim lalu. Namun, kesepatakan dengan MU ditolak sang ibu. Kini, dengan kemungkinan absennya Juventus di pentas Eropa ditambah kontrak yang kedaluwarsa, Rabiot yang jadi pemain bergaji termahal ketiga dalam skuad bisa pergi secara cuma-cuma.

Dengan tergerusnya kekuatan finansial di musim depan, Juventus bisa saja kepincut untuk menjual sejumlah pemainnya demi mengurangi beban gaji dan mendapat dana segar. Pemain pertama yang harusnya dibuang adalah Paul Pogba yang sejauh ini cuma jadi beban. Namun, hingga hari ini, Juventus belum tegas terkait masa depan pemain dengan gaji paling mahal di Turin tersebut.

Selain itu, dari rumor yang beredar, salah satu bintang Juve yang mungkin bisa dilego adalah Federico Chiesa. Chiesa memang sudah diganggu cedera sejak musim lalu. Namun, penurunan performanya yang signifikan juga datang sejak Massimiliano Allegri menduduki kursi pelatih Juventus. Sudah lama Chiesa disebut tak cocok dengan taktik Juve. Pun begitu dengan Dusan Vlahovic yang kontribusinya makin menurun di era Allegri.

Juventus memang lucu. Di tengah kondisi klub yang tak pasti, mereka malah mengandalkan Allegri. Tagar “AllegriOut” juga sudah berkali-kali digaungkan pendukung Bianconeri. Bahkan, legenda Juve, Alessio Tacchinardi juga percaya kalau perombakan tim harus dilakukan dan dimulai dengan memecat Allegri.

Namun, berdasarkan laporan Fabrizio Romano, CFO Juventus Francesco Calvo telah mengkonfirmasi kalau Allegri tetap menjadi pelatih mereka musim depan. Bertahannya Allegri di kursi pelatih pernah disebut sebagai penyebab hengkangnya Di Maria. Bisa jadi, kepastian Allegri sebagai pelatih musim depan juga bakal mempengaruhi sikap beberapa pemain Juventus, khususnya mereka yang punya peluang untuk pergi dari Turin.

Tak bisa dipungkiri kalau nasib Juventus yang terseok-seok musim ini telah membuat pendukung setia mereka jatuh dalam kondisi was-was yang tak berujung. Bukankah akan menjadi sebuah mimpi buruk jika eksodus pemain benar terwujud, sementara nahkoda musim depan masih diserahkan kepada Allegri?

Ironis, sebab satu-satu cara yang bisa menyelamatkan musim penuh drama ini adalah putusan banding dari pengadilan. Rasa-ranya, musim ini juga telah berakhir lebih cepat bagi Juventus dan para pendukungnya.


Referensi: Detik, Football italia, Goal, The National News, Goal, Football Italia, Football Italia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *