• March 4, 2024

Hebohnya Formasi 3-2-4-1 Ala Pep Guardiola, Siapa Mau Meniru?

Fenomena suksesnya Manchester City meraih banyak gelar tak luput dari keberhasilan berjalannya formasi baru mereka 3-2-4-1. Melihat kesuksesan itu, kini banyak tim Liga Inggris lainnya yang sudah mulai ancang-ancang untuk ikut-ikutan memakai formasi ala Pep itu. Siapa saja klub itu, dan seberapa cocok sistem 3-2-4-1 itu akan diterapkan?

Populer Gara-Gara Pep Guardiola

Masih ingat ketika Pep kehilangan bek sayapnya seperti Zinchenko yang memilih pindah ke Arsenal maupun Cancelo yang akhirnya dipinjamkan ke Munchen? Praktis, Pep tak punya lagi bek sayap murni di skuadnya.

Bukan Pep namanya kalau tak penuh dengan inovasi. Pep mengubah sistem permainan dari 4-3-3 menjadi 3-2-4-1. Tepatnya pasca kalah dari Tottenham Hotspurs di bulan Februari 2022. Setelah memakai format itu, mereka tampil konsisten bahkan tak terkalahkan sampai pekan ke 37 Liga Inggris.

Apa Sih Kelebihan Format Ini?

Lalu apa sih kelebihan format itu? Breaking The Lines menjelaskan detail soal kelebihan pola 3-2-4-1 ala Pep. Yang pertama soal stabilitas pertahanan. Dengan menggunakan pola tiga bek sejajar memungkinkan pertahanan akan lebih solid.

Karena pola tiga bek memungkinkan untuk kuat dalam duel satu lawan satu dengan pemain sayap lawan. Daripada dengan menggunakan empat bek yang terkadang bek sayapnya sering telat turun. Selain itu, pola tiga bek ini juga mengokohkan pertahanan dalam menghadapi serangan balik cepat.

Karena, tiga bek akan “stay” di area sendiri. Apalagi ditambah dua pivot-nya yang siap siaga untuk selalu mem-backup. Alhasil jumlah bek akan lebih banyak ketika dalam keadaan diserang.

Yang kedua adalah soal kontrol lini tengah dan opsi serangan yang bervariasi. Dengan adanya dua pivot ditambah dua gelandang serang akan membuat tim itu “menang jumlah” dengan lini tengah lawan ketika membangun serangan.

Soal variasi serangan, dengan total gelandang yang menumpuk, ditambah sayap dan striker, praktis membuat jumlah pemain yang ada di kotak penalti lawan ketika membangun serangan jadi lebih banyak. Dengan begitu, otomatis semakin banyak pula opsi dan variasi serangan yang akan tercipta. Baik itu dengan crossing, cut back, satu lawan satu, maupun umpan terobosan.

Mirip Graham Potter Di Brighton

Menurut The Mastermind Site, sebenarnya pola membangun serangan dengan 3-2-4-1 ini sudah pernah diterapkan Graham Potter ketika di Brighton. Bedanya, ada banyak variasi yang dipakai Potter seperti 3-3-3-1, 3-4-2-1, atau 3-4-3.

Dalam fase membangun serangan, Potter sama dengan Pep menggunakan double pivot di depan tiga bek. Sebagai contoh suksesnya yakni di awal musim 2022/23 ketika mengalahkan MU di Old Trafford.

Potter sukses memakai pola 3-3-3-1. Pascal Gros, Moises Caicedo, Mac Alister, dan Adam Lallana menjadi empat penguasa lini tengah. Ditambah dua pemain sayap mereka seperti Leandro Trossard dan Solly March yang lebih bermain ke dalam.

De Zerbi Di Brighton Melanjutkan

Setelah ditinggal Potter ke Chelsea, pelatih yang menggantikannya Roberto De Zerbi pun hampir mirip secara pola. Bedanya, De Zerbi lebih sering menggunakan pola shape 4-2-3-1 dalam pakem awalnya. Meski kalau dilihat di lapangan, pola itu sering berubah menjadi 3-2-4-1 sesuai kebutuhan.

Dua pivot-nya ada dalam diri Moises Caicedo dan Pascal Gros. Dalam fase bertahan, Pervis Estupinan yang kadang sering overlap dari sisi kiri, akan membentuk tiga bek sejajar dengan dua bek tengah Lewis Dunk dan Levy Colwill.

Kalau dilihat kemiripannya dengan 3-2-4-1 milik Manchester City, adalah sama-sama tak mengoptimalkan bek sayap murni. Lini sayap hanya milik para sayap murninya seperti Solly March atau Kaoru Mitoma.

Liverpool Sudah Mencoba

Melihat kesuksesan Brighton dan Manchester City, Liverpool ternyata latah juga untuk memakai pola itu. Hal itu dilatarbelakangi dari beberapa inovasi Klopp ketika timnya tampil inkonsisten musim ini. Formasi andalannya 4-3-3 jadi PR besar bagi Klopp.

Bek yang keropos, lini tengah yang inkonsisten, membuat Klopp dipaksa memutar otak. Jawaban awalnya adalah revolusi peran Trent Alexander-Arnold, dan mengubah formasi. Melihat bek kanan Inggris itu sering lelet dalam menutup celah di sisi kanan pertahanan Liverpool, Klopp tiba-tiba mengubahnya menjadi Inverted Full Back.

Arnold lebih bermain di tengah sebagai gelandang mendampingi Fabinho. Tepatnya dimulai pada laga melawan Arsenal di Anfield pada April 2023 yang lalu. Cara itu dilakukan Klopp untuk memanfaatkan kapasitas Arnold yang lebih menonjol dari sisi menyerangnya.

Liverpool kini menggunakan pola yang hampir sama dengan apa yang dipakai Pep di City yakni 3-2-4-1. Melihat kesuksesannya di musim lalu, besar kemungkinan pola itu akan dipertahankan musim depan.

Apalagi dengan pembeliannya yang makin menunjang seperti Mac Allister maupun Szoboszlai. Kehadiran dua pemain tengah itu semakin menguatkan pola 3-2-4-1 Liverpool di musim depan.

Bedanya dengan Manchester City, adalah soal penggunaan bek sayap. Liverpool masih menggunakan Robertson sebagai bek tiga sejajar. Posisi Robertson itu sebenarnya kurang ideal kalau dijadikan sebagai Left Center Back. Naluri menyerang Robertson sering meninggalkan lubang di sisi kiri pertahanan Liverpool. Beda dengan City, yang memakai Ake, Laporte, atau Akanji, yang notabene lebih kuat dalam bertahan di posisi Left Centre Back.

Arsenal Juga Sudah Mencoba

Klub lain yang kemungkinan akan memakai pola 3-2-4-1 musim depan adalah Arsenal. Sebelum Manchester City memakai pola 3-2-4-1, sebenarnya kalau dicermati Arsenal ini sudah melakukannya. Contohnya dengan menempatkan bek kirinya Zinchenko lebih bermain ke tengah layaknya Cancelo di City.

Secara formasi pun Arteta berkompromi dari 4-2-3-1 menjadi 3-2-4-1. Apa yang berubah? Selain peran Zinchenko, Granit Xhaka juga lebih didorong ke depan mendampingi Martin Odegaard dalam mendukung serangan.

Di musim baru, makin terendus saja kemungkinan Arteta memakai pola 3-2-4-1 itu lagi. Paling tidak kalau dilihat dari segi pembelian pemain. Disaat Granit Xhaka sudah pamit dari Emirates, Arteta kini sudah mengangkut Kai Havertz.

Kemungkinan, Havertz dipersiapkan untuk menempati posisi yang ditinggalkan Xhaka yakni mendampingi Odegaard di belakang striker. Kaki kirinya yang kuat, serta daya jelajahnya yang tinggi, hampir mirip dengan Xhaka. Meskipun, Havertz lebih unggul dari segi atribut menyerangnya.

Namun tak perlu khawatir, karena Havertz akan di backup dengan solid oleh pembelian mahal mereka, Declan Rice. Rice akan menjadi “Rodrinya Arsenal”. Perannya nanti akan ditemani oleh Zinchenko.

Kemudian soal pembelian Jurrien Timber, bek kanan yang juga mahir sebagai bek tengah. Ia akan cocok menempati posisi Right Center Back di format tiga bek. Timber akan bergantian dengan Ben White dan Tomiyasu.

Kini paling tidak sudah ada Manchester City, Brighton, Liverpool, Arsenal, yang kemungkinan akan menggunakan pola 3-2-4-1 di musim 2023/24. Lalu adakah tim lain yang akan menyusul menggunakan pola itu?

Sumber Referensi : breakingthelines, footballtransfer, analyticsfc, themastermindsite, footballbunsekicom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *