• March 4, 2024

Duel Tim Pesakitan di Semifinal Liga Europa

Duel tim pesakitan. Tajuk tersebut rasa-rasanya sangat pas untuk menggambarkan pertemuan antara Juventus dan Sevilla di semifinal Liga Europa musim ini.

Seperti yang kita nanti-nantikan, Liga Europa juga telah memasuki fase 4 besar dan salah satu laga semifinalnya mempertemukan Juventus dengan Sevilla. Beberapa tahun yang lalu, yang satu merupakan penguasa Liga Italia dan yang satunya lagi adalah penguasa Liga Europa. Namun, kini Juventus dan Sevilla patut menyandang predikat sebagai tim pesakitan.

Juventus tak lagi digdaya di tanahnya sendiri. Sejak awal tahun 2023, La Vecchia Signora juga tengah berurusan dengan hukum, buntut dari skandal plusvalenza. Sementara itu, Sevilla tengah menjalani salah satu musim terburuknya di La Liga. Mereka bahkan pernah terjerembab di zona degradasi.

Inilah mengapa duel antara Juventus dan Sevilla di babak semifinal Liga Europa musim ini pantas disebut sebagai duel tim pesakitan. Apalagi, performa mereka di liga domestik akhir-akhir ini juga tengah inkonsisten.

Liga Europa, Pelarian Juventus dan Sevilla

Akan tetapi, Juventus dan Sevilla sama-sama menampilkan performa yang berbeda di Liga Europa. Seolah seperti tim yang berbeda, keduanya tampil bagus saat berlaga di kompetisi tingkat kedua Eropa tersebut.

Juventus dan Sevilla juga sama-sama cukup beruntung bisa berlaga di Liga Europa musim ini. Pasalnya, keduanya merupakan tim buangan dari Liga Champions.

Juventus mendapat tiket play-offs ke Liga Europa setelah finish di peringkat 3 Grup H Liga Champions. La Vecchia Signora cukup beruntung, sebab meski poin mereka sama dengan Maccabi Haifa, tetapi Juve menang head-to-head atas wakil Israel tersebut. Sementara itu, Sevilla mendapat tiket play-offs ke Liga Europa setelah hanya sanggup finish di peringkat 3 Grup G Liga Champions.

Liga Europa sepertinya menjadi tempat yang tepat bagi Juventus dan Sevilla. Setelah menumbangkan Nantes, La Vecchia Signora kemudian mengalahkan perlawanan Freiburg dan Sporting CP untuk melaju ke partai semifinal.

Sementara itu, Sevilla mengawali kiprahnya di Liga Europa dengan menang dramatis atas PSV dan Fenerbahce. Los Nervionenses kemudian meraih tiket semifinal usai menang agregat 5-2 atas Manchester United di babak perempat final.

Head-to-Head Juventus vs Sevilla

Selain menjadi duel tim pesakitan, laga antara Juventus vs Sevilla di semifinal Liga Europa musim ini juga menjadi pertemuan antara dua mantan tim juara. Juve pernah 3 kali memenangi Liga Europa pada musim 1977, 1990, dan 1993 saat kompetisi ini masih berformat Piala UEFA.

Sementara seperti yang kita tahu, Sevilla adalah “Raja Liga Europa”. Mereka sudah 6 kali menjuarai Liga Europa. Terakhir kali Sevilla menjuarai kompetisi ini terjadi di musim 2019/2020.

Pertemuan antara Juventus vs Sevilla pada 11 Mei dan 18 Mei nanti juga bakal jadi pertemuan keenam dan ketujuh bagi kedua tim. Sebelumnya, Juventus dan Sevilla telah bertemu sebanyak 5 kali dengan 4 pertemuan terakhir terjadi di ajang Liga Champions.

Berdasarkan catatan UEFA, Juventus unggul dengan 2 kemenangan berbanding 1 kemenangan milik Sevilla, sementara 1 laga lainnya berakhir imbang. Pertemuan terakhir keduanya terjadi di babak grup Liga Champions 2016. Kala itu, Juventus sukses menang 3-1 di kandang Sevilla.

Jika mengacu pada catatan sejarah, Juventus memang unggul telak atas Sevilla. Dalam 4 pertemuan terakhirnya, Juve 5 kali membobol gawang Sevilla. Sementara Los Nervionenses tercatat baru 2 kali menembus gawang Juve.

Akan tetapi, Liga Europa jelas berbeda dengan Liga Champions. Di sana Juventus memang lebih digdaya, tetapi di kompetisi tingkat kedua Eropa ini, Sevilla tak boleh dianggap remeh. Apalagi, duel antara Juventus dan Sevilla di semifinal Liga Europa musim ini bakal jadi duel pertama keduanya di sistem gugur.

Catatan performa kedua tim dalam beberapa pertandingan terakhir juga lebih berpihak kepada Sevilla. Setelah berganti pelatih ke Jose Luis Mendilibar yang menggantikan Jorge Sampaoli, Sevilla secara mengejutkan sukses memperbaiki catatan pertandingannya.

Setelah ditangani Mendilibar, Sevilla sukses mencatat 5 laga tak terkalahkan secara beruntun di La Liga yang membuat posisi mereka naik ke peringkat 11. Mereka juga sukses menjungkalkan MU di partai perempat final Liga Europa. Rekor 7 laga tak terkalahkan baru terhenti pada akhir April kemarin usai kalah 0-2 dari Girona.

Sementara itu, penampilan Juventus justru tengah inkonsisten. Sepanjang bulan April kemarin, Juventus tercatat hanya sekali meraih kemenangan di kompetisi domestik, yakni saat menumbangkan tim papan bawah Hellas Verona 1-0 di awal April. Setelahnya, Juve menelan 3 kekalahan beruntun dari Lazio, Sassuolo, dan Napoli. Mereka kemudian menutup bulan April dengan hasil imbang di kandang Bologna.

Di bulan April kemarin, Juventus juga kehilangan kesempatan meraih gelar Coppa Italia setelah ditumbangkan Inter Milan. Tak bisa dipungkiri kalau penampilan Juve bersama Massimiliano Allegri musim ini sangat inkonsisten.

Juventus Lebih Dijagokan, tetapi Sevilla Punya Senjata Ampuh

Akan tetapi, meski tengah inkonsisten, banyak situs penyedia data statistik yang tetap menjagokan Juventus mampu mengatasi Sevilla di babak semifinal. Secara komposisi pemain, Juve memang lebih unggul dari Sevilla.

Alasannya lainnya, Juventus juga masih sempurna di Liga Europa. Dalam 6 pertandingannya, Juventus belum terkalahkan dengan rekor 4 kali menang dan 2 kali imbang. Sementara itu, Sevilla hanya memiliki catatan 3 kali menang, sekali imbang, dan 2 kali kalah.

Meskipun Sevilla lebih produktif dengan 10 gol berbanding 9 gol milik Juventus, tetapi La Vecchia Signora memiliki catatan kebobolan yang lebih sedikit, yakni 2 berbanding 5 milik Los Nervionenses. Solidnya pertahanan inilah yang akan jadi senjata utama Juventus.

Bertahan memang jadi ciri khas Juve bersama Massimiliano Allegri. Dalam beberapa pertandingan, La Vecchia Signora bahkan mengurung diri di garis pertahanan ketika sudah unggul dari lawannya. Taktik ini memang jadi ciri khas dan target dari Allegri. Sejauh ini, taktik ini juga ampuh di Liga Europa. Sayangnya, taktik ini kini menimbulkan masalah internal dalam tubuh Juventus.

Allegri disebut telah kehilangan kepercayaan beberapa pemain kuncinya di ruang ganti. Dusan Vlahovic, Federico Chiesa, hingga Angel Di Maria adalah beberapa pemain yang diklaim tidak menyukai taktik difensif Allegri. Pundit Serie A, Daniele Adani bahkan mengklaim kalau “tidak ada pemain yang bahagia di Juventus” di bawah asuhan Allegri.

Taktik difensif Allegri juga bisa menjadi senjata makan tuan ketika berhadapan dengan Sevilla. Laga vs MU adalah contoh terbaiknya. Di leg pertama di Old Trafford, Sevilla berhasil mencuri 2 gol jelang akhir pertandingan ketika MU mulai mengendurkan serangan dan bermain bertahan.

Begitu pula dengan laga leg kedua. Meski Sevilla lebih sedikit menguasai bola, tetapi mereka lebih banyak menghasilkan peluang. Di bawah asuhan Jose Luis Mendilibar, Los Nervionenses bermain lebih sederhana dan banyak mengandalkan kecepatan dari sisi sayap untuk sesegera mungkin mengalirkan banyak bola ke dalam kotak penalti lawan.

Senjata ampuh itulah yang menurut kami akan sangat berbahaya bagi Juventus. Meski head-to-head dan statistik lebih berpihak kepada Juventus, tetapi Sevilla adalah Sevilla. Meski kini mereka hanyalah tim papan tengah La Liga, tetapi Sevilla tak bisa dipandang remeh ketika berlaga di Liga Europa.

Satu hal lagi yang membuat laga ini menarik adalah fakta kalau Liga Europa adalah satu-satunya kesempatan trofi yang bisa kedua tim raih di musim ini. Liga Europa juga seperti menjadi pelarian dan penebusan dua tim pesakitan ini.

Jadi, siapa yang akan melaju ke partai final di Puskas Arena? Juventus atau Sevilla?


Referensi: Kompas, UEFA, UEFA, Fotmob, UEFA, Football Transfers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *