• March 4, 2024

Daniele De Rossi dan Karirnya yang Terhalang Nama Besar Francesco Totti

Banyak yang beranggapan para anak pesepakbola terkenal punya kesempatan lebih dalam menapaki karier di dunia sepakbola. Padahal situasi tersebut seringkali membebani sang pemain. Mereka harus bermain di balik bayang-bayang nama besar dari sang ayah.

Hal hampir serupa juga dirasakan oleh legenda Timnas Italia, Daniele De Rossi. Bedanya, karirnya bukan dibebani oleh nama besar sang ayah, Alberto De Rossi. Melainkan dibayang-bayangi nama besar seniornya, Francesco Totti yang dianggap mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya untuk Giallorossi.ย 

Selama karirnya, De Rossi tak pernah mencapai level yang sama dengan Totti. Ia hanya menjadi pilihan kedua karena sampai kapan pun yang menyandang julukan Pangeran Roma adalah Totti, bukan dirinya.

Jebolan Akademi Roma

Daniel De Rossi mengawali karirnya bersama Ostia Mare. Klub itu sempat dibiayai AS Roma dalam perjalanannya di era 90-an untuk menjaring bakat muda dari Roma. Nah, dari situlah ia akhirnya bergabung dengan akademi Roma pada tahun 2000.ย 

Kala itu, De Rossi belum bermain di posisi gelandang seperti yang kita kenal sekarang. Di usia muda, ia justru bermain sebagai striker. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi gelandang bertahan setelah melihat permainan Roy Keane di Manchester United. De Rossi begitu mengidolainya hingga mengganti nomor punggungnya menjadi 16.

Baru setahun di akademi, De Rossi sudah dipanggil pelatih tim utama saat itu, Fabio Capello untuk berlatih bersama skuad utama AS Roma. Di situlah De Rossi bertemu Francesco Totti yang juga jebolan akademi Roma. Sang gelandang tak langsung masuk ke skuad utama. Ia hanya masuk daftar cadangan.

De Rossi baru merasakan debut bersama skuad AS Roma kala menghadapi Middlesbrough di Liga Champions tahun 2001. Semusim setelahnya, ia baru bisa debut di Serie A dan mencetak gol pertamanya di kompetisi tersebut. Bersama Roma, ia perlahan mulai mengamankan satu posisi di lini tengah.

Membangun Reputasi

Daniele De Rossi disebut sebagai pemain muda yang memiliki prospek cerah setelah membantu AS Roma finis sebagai runner-up Serie A musim 2003/04. Mulai dari situlah media-media mulai memberitakan siapa De Rossi.ย 

Seperti Roy Keane, permainan gelandang yang kini berusia 40 tahun itu makin lugas dan tak segan melayangkan tekel-tekel keras kepada pemain lawan. Kehebatannya semakin diakui ketika mengantarkan Giallorossi menjuarai Coppa Italia dua kali berturut-turut pada tahun 2005 dan 2006. Karakter permainannya inilah yang membuatnya menjadi sosok yang ditakuti di lini tengah.ย 

Tapi ia pernah berkata kalau gaya bermainnya itu bukan bertujuan untuk mencederai lawan, melainkan itu cuma identitas yang membedakan dirinya dengan gelandang-gelandang lain. Ia sampai menandai kaki sebelah kanannya dengan tato yang sangat ikonik. Tato tersebut menampilkan gambar orang yang sedang menekel. Tato tersebut seperti menandakan kalau pemain lawan harus berhati-hati dengan tekelnya.

Penampilan apiknya bersama Roma membuatnya dipanggil untuk memperkuat timnas Italia di Piala Dunia 2006 bersama seniornya di AS Roma, Totti. De Rossi menjadi pemain termuda di bawah asuhan Marcello Lippi. Meski demikian, ia langsung menjadi pilihan utama di skuad Gli Azzuri.ย 

De Rossi sudah diturunkan sejak pertandingan pembuka melawan Ghana. Ia bahkan berperan penting di laga final melawan Prancis. Meski berstatus pemain termuda di skuad Italia, De Rossi ditunjuk sebagai salah satu eksekutor penalti di pertandingan sepenting itu. Setelah gelar juara dunia, kariernya pun meningkat pesat dan terus menjadi andalan utama di lini tengah AS Roma pada musim-musim berikutnya.

Bayang-bayang Totti

Prestasinya itu semakin mematenkan nama Daniele De Rossi sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dimiliki AS Roma sekaligus Italia. De Rossi bahkan digadang-gadang sebagai Capitan Futuro di Roma atau dalam bahasa Indonesianya adalah kapten masa depan AS Roma. Karena jika Totti tak berada di lapangan, ialah yang mengenakan ban kapten.

De Rossi mengalahkan kandidat lain, yakni Alberto Aquilani yang juga berstatus lulusan akademi Giallorossi sebagai kapten kedua di Roma. Klub Ibukota Italia itu memang jarang menyerahkan ban kapten kepada pemain yang bukan produk asli Roma. Terakhir hanya Aldair pemain yang bukan asli didikan Roma tapi menjadi kapten kesebelasan tersebut pada musim 1998/99.

Sayangnya, selagi masih ada Francesco Totti, keberadaan De Rossi tak pernah dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Totti sudah seperti jantung memompa darah dan semangat ke seluruh elemen yang berada di Roma. Totti adalah Roma dan begitupun sebaliknya.

Sementara De Rossi? Ia hanya menjadi โ€œyang keduaโ€ di bawah Totti. Apalagi De Rossi belum pernah menghadirkan scudetto untuk Roma layaknya Totti pada musim 2000/01 silam. Itu menjadi kesenjangan yang sulit untuk dikejar De Rossi. Bahkan jika De Rossi menghabiskan seumur hidupnya di Roma.

Menyadari karirnya akan terus berada di balik bayang-bayang Totti, De Rossi pun mulai tak nyaman apabila ada yang memanggilnya Capitan Futuro. Menurutnya, ia tak tergila-gila dengan jabatan itu. Selagi masih bermain untuk Roma, jabatan wakil kapten di belakang Francesco Totti sudah dirasa cukup baginya.

Kesetiaan De Rossi Diuji

Meski De Rossi setia kepada Roma, bukan berarti tak ada klub yang berusaha menggoda sang pemain untuk hengkang. Sama halnya dengan Totti yang digoda Real Madrid, De Rossi sempat ditawari kontrak eksklusif oleh Manchester City pada tahun 2012. City ingin De Rossi bergabung dalam misi menuju kejayaan di Inggris.

Di suatu malam, Roberto Mancini yang kala itu masih menukangi Manchester City dan De Rossi bertemu untuk membahas sesuatu yang akan mengejutkan dunia sepak bola. Pelatih asal Italia itu berusaha meyakinkan sang gelandang untuk meninggalkan cinta sejatinya, AS Roma, dan bergabung dengan skuadnya di Inggris.

Kepindahan ke City terasa ideal. Roma terus berjuang untuk lolos ke Liga Champions, sementara Citizens adalah tim yang sedang naik daun. Terlebih Totti tak kunjung pensiun di usianya yang sudah menginjak 36 tahun. Meski sudah tak muda lagi, Totti tetap dipandang sebagai elemen penting bagi Giallorossi. Ban kapten Roma yang masih tersemat di lengannya adalah salah satu bukti.

Namun, keesokan hari De Rossi mengurungkan niat untuk pindah. Dilansir Sky Sport Italia, menurutnya, ketika kenangan manis dan cinta fans Roma melintas di kepala, kesempatan untuk memenangkan gelar bersama klub lain sudah tak ada artinya lagi. Cinta kasihnya hanya untuk Roma.

Mengakhiri Karir di Argentina

De Rossi memutuskan untuk memperpanjang masa baktinya hingga Totti memutuskan untuk pensiun pada 2017. Itu jadi perpisahan yang gila. Tangis haru mengiringi keputusan Totti untuk melepaskan tahtanya sebagai Pangeran Roma.

Berakhirnya pengabdian Totti pada AS Roma sekaligus jadi awal era baru bersama Daniel De Rossi. Kesabarannya selama belasan tahun terbayar ketika menyandang status sebagai kapten utama Roma di usia 34 tahun. Tapi itu tak bertahan lama. Setelah dua tahun menjadi Pangeran Roma yang baru, De Rossi dengan mengejutkan justru bergabung dengan Boca Juniors tahun 2019.

Inter Milan dan AC Milan sempat tertarik untuk mendatangkannya. Namun, De Rossi tak kuasa membela klub Serie A selain AS Roma. Ia memilih Boca karena klub Argentina itu memiliki passion yang hampir sama dengan Roma. Fans mereka sangat gila dan itu membuat De Rossi tertarik. Namun, cukup disayangkan dengan begitu ia gagal pensiun di Roma seperti Totti.

Sumber: Goal, SI, Chiesa Di Totti, Elarted, Giallorossi, Panditfootball

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *