• March 5, 2024

Bagaimana Cara Klub Promosi di Liga Inggris Bisa Bertahan?

Liga Inggris telah bergulir, persiapan pun telah banyak dilakukan oleh banyak klub. Tak terkecuali klub promosi. Jangan sepelekan kiprah klub promosi. Terkadang mereka sering juga menjadi pengganjal para klub besar.

Akan tetapi, sering kali juga klub promosi ini hanya numpang lewat saja alias langsung terdegradasi. Tapi di sisi lain, banyak juga lho klub promosi yang berhasil bertahan di musim pertamanya. Banyak cara yang ditempuh dari klub-klub promosi yang berhasil bertahan.

Mereka Yang Bertahan Di Musim Pertamanya

Menurut bagan The Athletic, sejak musim 2000/01, selalu ada paling tidak satu klub promosi yang berhasil bertahan di Liga Inggris. Bahkan di musim lalu, tiga klub promosi Fulham, Bournemouth, dan Nottingham Forest berhasil terhindar dari degradasi.

Fenomena tersebut adalah pengulangan dari musim 2001/02, 2011/12, dan 2017/18, ketika ada tiga klub promosi sekaligus yang bisa bertahan. Musim 2011/12 ada Fulham, Blackburn, dan Bolton. Musim 2011/12 ada QPR, Norwich dan Swansea. Sedangkan di musim 2017/18 ada Newcastle, Brighton, dan Huddersfield.

Klub promosi yang bertahan di musim pertamanya, biasanya melakukan sebuah effort yang tak kecil. Bertahannya klub promosi di liga seketat Liga Inggris tidak hanya bermodal semangat dan kepercayaan diri saja. Banyak faktor yang bisa membuat para klub promosi bisa terhindar dari jeratan degradasi, termasuk cara perekrutan pemain.

Faktor Perekrutan

Sebuah klub yang promosi biasanya akan mendapatkan pundi-pundi uang yang lebih. Kieran Maguire pakar keuangan mengatakan di BBC bahwa banyak contoh kasus klub promosi yang bertahan karena faktor uang.

Misal, penghasilan Brentford naik dari 17 juta pounds menjadi 142 juta pounds setelah tampil di Liga Inggris. Tapi pertanyaan berikutnya dari Kieran Maguire adalah apakah uang itu bisa dialokasikan dengan tepat?

Ketepatan dalam proses perekrutan pemain baru menjadi faktor penting bagi sebuah tim promosi di Liga Inggris. Brighton sejak promosi di 2017 hingga sekarang, terbukti masih bertahan di Liga Inggris dan bahkan grafiknya semakin meningkat.

Salah satu kunci keberhasilannya adalah proses perekrutannya dengan menggunakan Moneyball. Klub Toni Bloom tersebut hingga kini masih dikenal sebagai klub yang cerdas dalam mengelola uang transfernya. Selain itu ada Brentford yang juga menggunakan metode yang serupa. Bahkan The Bees melakukannya sejak sebelum promosi ke Liga Inggris.

Ada juga Leeds yang promosi di 2019 dengan uang besar dari pemilik asal Italia, Radrizzani. Membuat mereka banyak mendatangkan pemain baru. Atau lebih jauh lagi Wolves di bawah pemilik Fosun. Sejak promosi 2018, selalu beli banyak pemain baru.

Contoh lagi yang paling dekat adalah di musim lalu. Tiga tim promosi yang bertahan di Liga Inggris yakni Bournemouth, Fulham, dan Nottingham Forest termasuk dalam klub yang menghabiskan banyak uang untuk transfer.

Lihat saja Nottingham Forest. Menurut catatan Transfermarkt Forest telah menghabiskan total 168 juta pounds untuk 30 pemain baru. Bournemouth juga demikian. Mereka sudah menghabiskan 71,8 juta pounds untuk 12 pemain baru. Sedangkan Fulham telah menghabiskan 61,5 juta pounds untuk 13 pemain.

Beda Norwich

Berbeda dengan Norwich. Klub yang tak banyak berubah setelah promosi ke Liga Inggris 2019/20. Mereka terlalu percaya bahwa sebagian besar kekuatannya di Championship seperti Teemu Pukki dan kawan-kawan bisa bersaing di level Liga Inggris.

Lihat saja buktinya, bagaimana Norwich melakukan hal itu dan gagal. Dua kali promosi dengan status sebagai juara Championship, namun semusim mereka langsung terlempar lagi dari Liga Inggris. Sampai-sampai klub berjuluk The Canaries ini sempat dijuluki tim “yo-yo” yang hanya numpang lewat.

Menurut The Athletic ketidakleluasaan Norwich dalam membelanjakan uang yang berlebih itu adalah pertimbangan alokasi. Mereka ternyata lebih memperhatikan pengembangan infrastruktur klub maupun stabilitas pembukuan keuangan klub, daripada invest pemain secara masif.

Perlu Ada Pemain Yang Berpengalaman di Liga Inggris

Selain membelanjakan banyak uang untuk pemain baru yang lebih berkualitas, klub promosi perlu juga memperhatikan faktor pemain berpengalaman yang ada di skuadnya. Di sinilah yang dikatakan ketepatan dalam hal transfer. Uang yang diperuntukan untuk transfer dapat dimaksimalkan sebaik mungkin merekrut pemain yang sudah terbukti berpengalaman di Liga Inggris

Tidak seperti Norwich di dua periodenya kala promosi. Mereka malah membeli pemain dari luar Inggris yang tak punya pengalaman bermain di Liga Inggris. Seperti di tahun 2019 mereka membeli pemain macam Josip Drmic maupun Lukas Rupp dari Bundesliga. Ketika promosi di 2021 lalu, mereka juga membeli pemain seperti Milot Rashica dan Josh Sargent dari Werder Bremen, maupun Giannoulis dan Tziolis dari PAOK.

Beda dengan Sheffield ketika promosi di 2019 lalu. Meski tak banyak beli pemain, tapi paling tidak ada beberapa pemain yang didatangkan dengan label pernah lama berpengalaman di Liga Inggris seperti Phil Jagielka (Everton), Lys Mousset (Bournemouth) maupun Jack Rodwell (Everton).

Contoh lagi yang terdekat adalah di musim lalu. Nottingham Forest meski banyak beli pemain, namun setidaknya mereka memperhatikan faktor pemain berpengalaman seperti Morgan Gibbs White, Willy Boly (Wolves), Serge Aurier (Spurs), Neco Williams (Liverpool), Jonjo Shelvey (Newcastle) maupun Jesse Lingard dan Dean Henderson (MU).

Fulham dan Bournemouth pun melakukan hal yang sama. Di Fulham ada Willian, Bernd Leno (Arsenal), Issa Diop (West Ham), maupun Andreas Pereira (MU). Sedangkan di Bournemouth juga sudah ada pemain macam Dominic Solanke (Liverpool), maupun Ryan Frederick (West Ham).

Bagaimana dengan Luton, Sheffield, dan Burnley?

Lalu bagaimana dengan musim ini? Ada tiga klub promosi yang sedang berbenah menyongsong suksesnya bertahan di Liga Inggris yakni Luton Town, Sheffield United, dan Burnley.

Luton Town nampaknya memperhatikan beberapa faktor untuk setidaknya bermimpi menghindari degradasi. Perekrutan mereka memang tak spektakuler, tapi paling tidak mereka sudah memperhatikan perlunya ada pemain yang berpengalaman lama bermain di Liga Inggris. Misal ketika mereka membeli Ross Barkley, mantan pemain Everton, maupun Marvelous Nakamba bekas pemain Aston Villa.

Burnley di bawah revolusi pelatihnya, Vincent Kompany juga lakukan hal yang sama. The Clarets membeli banyak pemain tapi tetap memperhatikan faktor pemain yang berpengalaman bermain lama di Liga Inggris seperti Michael Obafemi dan Nathan Redmond yang merupakan mantan pemain Soton, maupun Sander Berge dari Sheffield.

Lalu bagaimana dengan Sheffield? Sheffield tak lagi beli banyak pemain musim ini. Entah mengapa, pelatih mereka Higginbottom nampakan puas dengan skuad yang ada. Mereka hanya beli tiga pemain yang berlabel pendatang baru seperti Anis Slimane dari Brondby maupun Vinicius Souza dari klub Belgia, Lommel.

Nah dari pergerakan dan kesiapan klub promosi musim ini, apakah mereka termasuk kategori klub yang bisa bertahan di Liga Inggris?

Sumber Referensi : theathletic, bbc, freebetoffers, fanbanter, thesportsman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *