• March 5, 2024

Azpilicueta dan Marcus Thuram Selanjutnya? Pengaruh Pemain Gratisan Di Inter Milan

Gratisan lagi, gratisan lagi. Klub Serie A yang satu ini kembali menjalankan hobinya mengangkut pemain gratisan. Kini giliran Cesar Azpilicueta dan Marcus Thuram dikabarkan sudah Here We Go menuju Inter Milan.

Pengaruh strategi transfer ini tak lain adalah berkat Giuseppe Marotta, chairman mereka. Bagi Inter, selagi masih ada gratisan ngapain cari yang berbayar? Nah, berikut beberapa pemain gratisan yang diangkut Inter sejak Marotta datang, beserta pengaruhnya bagi tim. Apakah gacor atau justru flop?

Kwadwo Asamoah

Pemain pertama yang diangkut Marotta secara gratis adalah mantan gelandang serba bisa Juventus asal Ghana, Kwadwo Asamoah. Asamoah ketika itu habis kontraknya di Juventus dan sudah berusia 30 tahun.

Masih dilatih Luciano Spalletti, Inter masih dalam fase transisi membangun tim yang disusun oleh Marotta. Asamoah menjadi salah satu kerangka pilar transisi itu. Meski di Juventus ia lebih sering menjadi wing back kiri, di skuad Spalletti yang memakai empat bek, ia lebih difungsikan sebagai bek kiri. Dari 42 penampilan di musim debutnya, Asamoah juga turut membantu perjalanan awal Inter berlaga di Liga Champions.

Saat Conte datang, ia diharapkan sudah langsung nyetel karena sudah lama sukses bersama di Juventus. Namun cedera lutut menghinggapinya lama. Ia hanya tampil 11 kali bersama Conte di musim 2019/20. Musim berikutnya, ia malah dilepas ke Cagliari.

Stefan De Vrij

Datang secara gratisan bersama Asamoah, Stefan De Vrij adalah seorang bek kokoh milik Lazio yang kontraknya berakhir pada 2018. Ia memilih pelabuhan barunya di Nerazzurri bersama Spalletti di usia yang masih matang 26 tahun.

Tak salah De Vrij memilih Inter. Pasalnya De Vrij langsung jadi pilar utama lini belakang Inter bersama Milan Skriniar. Pengaruhnya sangat besar bagi kokohnya tembok Inter. Terutama di jaman Conte. Ia diplot menjadi salah satu dari tiga bek utama. Ia pun menjadi bagian utama Inter dalam meraih Scudetto.

Namun kini nasibnya mulai berubah setelah Simone Inzaghi lebih memilih Acerbi yang diangkut dari Lazio. De Vrij menjadi pilihan nomor dua di bawah Simone Inzaghi yang notabene dulu juga mantan pelatihnya ketika di Lazio.

Diego Godin

Di masa Conte awal datang, Inter juga tak lupa mengangkut satu pilar lini belakang. Ia adalah pemain gaek berusia 33 tahun asal Atletico Madrid, Diego Godin.

Perekrutan Godin adalah kemauan Conte. Ia butuh sosok bek berpengalaman. Mental Godin juga diharapkan mampu berbicara banyak di level kompetisi Eropa. Ketika di Atletico Madrid, dua final Liga Champions dan juara Europa League jadi bukti.

Tapi sayang, pemain timnas Uruguay itu mengaku sangat sulit beradaptasi dengan sistem yang dianut Conte yang butuh kerja ekstra keras dan intensitas yang tinggi. Ia selalu berusaha sekuat tenaga agar bisa memahami apa mau Conte.

Meski hanya semusim saja, tapi kalau tujuan perekrutannya hanya untuk meningkatkan mental Eropa para pemain Inter, itu cukup berhasil. Membantu Inter mencapai final Europa League dan sumbangan satu golnya ke gawang Sevilla jadi bukti pengaruh nyata Godin bagi Inter.

Arturo Vidal

Pemain Inter berikutnya yang datang gratisan adalah Arturo Vidal. Ia didapat Inter dari Barca karena kontraknya habis tahun 2020. Ia juga datang ke Inter di usia yang sudah tak muda lagi yakni 33 tahun.

Pemain berambut Ultraman itu didapuk mengisi kedalaman gelandang Inter di format 3-5-2 milik Conte. Vidal dan gelandang baru lainnya macam Barella maupun Sensi bahu membahu bersama gelandang yang sudah ada macam Vecino, Brozovic, maupun Eriksen.

Kedatangan Vidal menjadi salah satu faktor kenapa mental bertanding anak asuh Conte jadi lebih kuat. Buktinya saat Vidal datang, Inter mampu konsisten dan akhirnya meraih Scudetto.

Gelar juara itu bagi Vidal adalah gelar liga ke-9 dari 10 tahun terakhir. 30 kali penampilan, dengan 2 gol, dan 2 assist juga tak terlalu buruk bagi torehan seorang pemain gratisan yang sudah berusia 33 tahun.

Alexis Sanchez

Datang bareng bersama Vidal, Alexis Sanchez juga berlabuh secara gratis dari MU setelah kontraknya habis pada tahun 2020. Alexis ini sebelumnya sudah dipinjam Inter selama semusim dari MU. Alexis juga datang dengan kondisi yang sudah uzur yakni 32 tahun.

Apa pengaruhnya bagi Inter? Ia menjadi pilihan Conte di lini depan sebagai backup bagi duo striker andalan mereka, Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez. Sanchez mampu menjadi jawaban alternatif bagi duo striker itu.

Penampilannya yang langsung nyetel berbuah 7 gol dan 8 assist di musim 2020/21. Kedatangan pemain yang tak dibutuhkan MU itu, justru malah menuai hasil positif di Inter.

Hakan Calhanoglu

Pemain gratisan berikutnya ada Hakan Calhanoglu. Ia menjadi perekrutan paling ikonik karena diiringi cerita pengkhianatan. Ia diangkut ke Inter karena tak diperpanjang kontraknya di AC Milan.

Ia bahkan sempat dicap “Judas” dan dicemooh oleh fans Milan saat hijrah di usia yang masih prima yakni 27 tahun. Sebagai salah satu gelandang serang kreatif di Serie A, perannya sangat diidamkan pelatih baru Simone Inzaghi di format 3-5-2. Terlebih, Inter juga masih mencari pengganti sosok kreatif seperti Christian Eriksen yang tak diperpanjang.

Pemain Turki itu sangat berpengaruh bagi keberlanjutan sistem lini tengah Inter. Di musim pertamanya saja, ia sudah mampu menorehkan 8 gol dan 13 assist. Untuk kelas pemain gratisan, torehan itu sangat memuaskan.

Calhanoglu bersama Simone Inzaghi juga sudah menorehkan beberapa prestasi seperti Coppa Italia dan Piala Super Italia. Yang tak boleh dilupakan, Calhanoglu adalah pilar utama yang membantu Inter mencapai final Liga Champions 2022/23.

Henrikh Mkhitaryan

Di musim ini, ada lagi gelandang kreatif yang diangkut secara gratisan yakni Henrikh Mkhitaryan. Gelandang Armenia itu diangkut Inter karena kontraknya habis bersama AS Roma. Ia tak terlalu moncer kala bersama Giallorossi. Melihat usianya saja sudah 33 tahun.

Lalu apa yang terjadi ketika ia berseragam Inter? Gelandang Armenia itu justru langsung nyetel dan gacor dalam skema Simone Inzaghi. Ia bahkan kerap menjadi pemain krusial di laga-laga penting. Salah satu yang diingat adalah golnya ke gawang Milan di semifinal Liga Champions musim ini.

Total Mkhitaryan mengemas 5 gol dan 2 assist di musim pertamanya bersama La Beneamata. Statusnya sebagai pemain gratisan dan sumbangsihnya dalam mengantarkan Inter meraih berbagai prestasi musim ini, layak diberikan kredit.

Andre Onana

Pemain gratisan lainnya yang datang bersama Mkhitaryan musim ini adalah Andre Onana. Kiper timnas Kamerun itu secara mengejutkan memilih berlabuh ke Italia bersama Inter Milan setelah kontraknya habis di Ajax.

Datang ketika masih berusia 26 tahun, Onana merupakan tembok kokoh Ajax yang diandalkan Ten Hag. Sungguh beruntung Inter mendapatkan Onana. Namun ia didatangkan awalnya hanya sebagai rotasi kiper senior Inter, Samir Handanovic.

Tapi berkat kecemerlangan Onana di fase grup Liga Champions musim ini, Inzaghi tak segan menggeser Handanovic dari posisi utama kiper Inter. Onana mengaku senang, ketika ia mampu belajar dari seniornya dan dengan cepat mampu dipercaya sebagai kiper utama.

Torehannya di Inter selama musim debutnya juga sangat memukau. 19 kali clean sheet dan hanya 36 kali kebobolan. Belum lagi save-save pentingnya yang tak terhingga jumlahnya di laga-laga krusial. Misal saja di final Liga Champions melawan Manchester City. Kalau tak ada Onana, Inter mungkin bisa kebobolan lebih dari 1 gol.

Sumber Referensi : sempreinter, transfermarkt, sempreinter, marca, beinsports, sempreinter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *