• March 4, 2024

Antara Dedikasi dan Kutukan Sulley Muntari

Di usia 45 tahun, Gianluigi Buffon mendapat tawaran 30 juta euro atau Rp500 miliar per musim dari salah satu klub Arab Saudi yang tak disebutkan namanya. Sang penjaga gawang pun sempat dilema, tapi Buffon akhirnya memutuskan untuk pamit dari dunia sepakbola.

Setelah Zlatan Ibrahimovic, kini Buffon menyusul untuk berhenti memberi makan egonya dan menyudahi kiprah 28 tahun sebagai pesepakbola profesional. Dari Liga Italia sampai Piala Dunia sudah ia raih. Hanya satu yang belum, yakni trofi Liga Champions. Konon, kutukanlah yang menyebabkan Buffon tak pernah memenangkan UCL. Namun, benarkah demikian?

Berawal Dari Ketidaksengajaan

Dikenal sebagai penjaga gawang, Gianluigi Buffon sebetulnya seorang striker. Setidaknya sampai ia melihat salah satu aksi penjaga gawang di televisi tahun 1990. Menariknya, yang menginspirasi Buffon untuk menjadi seorang penjaga gawang bukanlah kiper asal Italia, melainkan kiper asal Kamerun, Thomas N’kono.

Dilansir BBC, pada saat itu, jutaan pasang mata sedang tertuju ke Italia. Lantaran sedang ada pesta sepakbola paling akbar, yakni Piala Dunia. Demam sepakbola seketika melanda Italia. Tak hanya para pria dewasa, tapi juga anak-anak seperti Buffon yang kala itu masih berusia belasan tahun.

Karena usianya yang masih sangat muda, Buffon memilih untuk menonton Piala Dunia dari televisi. Di saat semuanya menantikan aksi Diego Maradona atau Gary Lineker, Buffon justru menantikan aksi dari N’Kono. 

Perhatian Buffon tertuju pada aksi N’Kono yang mengawal pertahanan Kamerun. Aksinya begitu memukau terutama ketika dirinya membawa Les Lions mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Sejak itu N’Kono menginspirasi Buffon. “Kelak, aku ingin jadi kiper hebat seperti dia,” gumamnya kira-kira.

Gayung bersambut, di Parma pun tiba-tiba sang pelatih mengganti posisi Buffon jadi penjaga gawang. Performanya yang apik membuat Buffon keterusan jadi kiper. Kemampuannya menjadi penjaga gawang pun diakui oleh pelatih utama saat itu, Nevio Scala. Buffon pun diberikan kesempatan untuk melakoni debutnya bersama tim utama Parma pada tahun 1995.

Penjaga Gawang Hebat

Buffon setidaknya hanya membutuhkan satu tahun untuk menyegel posisi penjaga gawang nomor satu di Parma. Di musim 1996/97 performanya sangat menawan. Memainkan 27 pertandingan, Buffon yang masih berusia 18 tahun hanya kebobolan 17 gol saja. Sejak saat itu, siapa pun pelatih Parma, Buffon tetap kipernya.

Buffon bertahan di Parma selama kurang lebih tiga tahun lagi. Performanya yang konsisten telah menarik banyak klub top Eropa termasuk sang raksasa Italia, Juventus. Diantara banyaknya pilihan, pada tahun 2001 ia memilih Juve karena belum mau meninggalkan tanah kelahirannya, Italia.

Setelah mendapat kiper muda potensial, La Vecchia Signora pun melepas Edwin van der Sar yang dinilai performanya mulai menurun ke klub Inggris, Fulham. Di Turin inilah Buffon meraih masa kejayaannya. Tak pernah tergantikan di bawah mistar, Buffon meraih 20 lebih trofi bergengsi termasuk sepuluh kali scudetto Serie A.

Bersama Juventus, Buffon tumbuh jadi penjaga gawang yang disegani kawan maupun lawan. Seiring kesuksesannya bersama klub asal Turin tersebut, jiwa kepemimpinan Buffon pun tumbuh. Bahkan sesekali ia ditunjuk sebagai kapten. Karena beberapa pelatih merasa kiperlah yang bisa melihat semua rekan timnya dari belakang. 

Kesetiaan Itu Bernama Buffon

Karir Buffon di Juventus tak selamanya mulus. Kegagalan dan situasi yang memburuk pun pernah dialami oleh penjaga gawang yang kini berusia 45 tahun itu. Mungkin titik terendah dalam karirnya yang masih diingat sampai sekarang adalah ketika Juventus tersandung skandal Calciopoli pada tahun 2006.

Kasus itu berimbas buruk pada Juventus. Klub Buffon kala itu divonis terlibat dalam skandal pengaturan skor selama dua musim berturut-turut pada musim 2004/05 dan 2005/06. Akhirnya, gelar scudetto musim 2005/06 pun harus jatuh ke tangan Inter Milan dan Juventus harus rela terbuang ke Serie B.

Perpindahan pemain secara besar-besaran pun terjadi. Pemain berlabel bintang macam Zlatan Ibrahimovic, Fabio Cannavaro, hingga Lilian Thuram yang enggan bermain di kasta kedua memutuskan untuk hengkang. Pergulatan batin pun terjadi di benak Gigi. Antara bertahan atau mengikuti jejak kawan-kawannya yang memilih meninggalkan klub dalam keterpurukan.

Buffon akhirnya memilih setia. Uang yang ditawarkan Barcelona dan AC Milan tak sebanding dengan kecintaannya kepada klub. Bersama dengan Alessandro Del Piero, ia bahu membahu bersaing di Serie B. Buffon akhirnya mampu membawa Juve bangkit dan kembali ke kasta tertinggi semusim berikutnya. Berkat keputusannya itu, nama Buffon makin harum di persepakbolaan Italia.

Kutukan Sulley Muntari

Tak sampai di situ saja, kebangkitan Buffon berlanjut ke tim nasional. Di Piala Dunia 2006, Buffon tampil heroik. Gigi hanya kebobolan dua gol dan mencatatkan lima clean sheet. Mungkin penyelamatan yang paling diingat kala itu ketika Buffon menghadang tendangan Lukas Podolski dari jarak dekat dan menepis sundulan Zidane di babak perpanjangan waktu di pertandingan final.

Selain mengantarkan Italia meraih gelar keempat di Piala Dunia, Buffon juga terpilih sebagai kiper terbaik di ajang yang diselenggarakan tiap empat tahunan tersebut. Dengan gelar tersebut, Buffon dianggap jadi yang terbaik di dunia. Ia sudah memenangkan segalanya kecuali Liga Champions.

Publik pun bertanya-tanya, kenapa Buffon tak kunjung menjuarainya? Padahal ia berada di salah satu tim terhebat di Eropa. Ilmu cocoklogi dari para pengamat sepakbola pun mulai bekerja. Kegagalan Buffon selalu dikaitkan dengan dosanya terhadap mantan pemain AC Milan, Sulley Muntari. 

Semua berawal saat duel Juventus dan AC Milan musim 2011/12. Bermain di San Siro, Milan selaku tuan rumah unggul lebih dulu melalui Antonio Nocerino pada menit ke-14. Pada menit ke-24, Milan sejatinya bisa menambah keunggulan melalui sundulan Sulley Muntari. Sialnya, wasit tidak melihat bola itu melewati garis gawang. Bola memang dengan cepat diselamatkan Buffon, tapi terlihat jelas dari rekaman ulang, bola sudah benar-benar masuk.

Seusai laga, Muntari mengungkapkan bahwa Buffon sebenarnya tahu bola itu sudah melewati garis gawang. Muntari tidak meyakini bahwa insiden “gol hantu” itu membuat AC Milan kalah dari Juventus dalam persaingan memperebutkan scudetto. Namun, ia tetap kecewa dengan sikap pemain sekelas Buffon yang tak mau jujur mengakui golnya.

Menerima Kenyataan dan Pamit

Dari kejadian itu, sulit ditemukan catatan atau bukti bahwa Sulley Muntari telah melemparkan kutukan kepada Gianluigi Buffon yang membuatnya tidak akan juara Liga Champions sebelum mengakui gol tersebut. 

Adapun Muntari hanya mengatakan bahwa Buffon seharusnya menyadari bahwa bola telah melewati garis gawang. Ia juga kecewa lantaran gol tersebut tidak kunjung disahkan. Meski demikian, kisah “kutukan” Sulley Muntari selalu mengiringi kegagalan Buffon di Liga Champions. Bahkan, kutukan itu tetap mengikuti Buffon meski dirinya sudah tak bermain di Juve.

Memutuskan berpisah dengan Juve dan bergabung dengan PSG pada tahun 2018, Buffon tetap saja tak bisa membawa timnya berjaya di Liga Champions. Selama karirnya, satu-satunya trofi Eropa yang ia raih adalah Europa League bersama Parma tahun 1998/99. 

Ia sempat kembali ke Parma pada tahun 2021. Untuk kembali memenangi kompetisi Eropa rasanya sudah mustahil. Selain karena Parma hanya bermain di kasta kedua, di usianya yang tak muda lagi, Buffon mulai berjibaku dengan cedera. Setelah gagal membawa Parma kembali ke Serie A musim lalu, ia memutuskan untuk hengkang dari dunia sepakbola. Grazie Gigi!

Sumber: BR, Sportbible, BBC, The Guardian, Mirror

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *