• February 21, 2024

Alasan Konyol Real Madrid Campakkan Pemain Bintang Ini

Tak bisa dipungkiri, meski sudah tak dibela Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, Real Madrid masih jadi klub primadona di Eropa. Bahkan bermain di Real Madrid barangkali jadi salah satu mimpi dari sebagian besar pesepakbola di dunia ini. Setidaknya, sekali seumur hidup, mereka akan berusaha menampilkan performa terbaik agar dilirik klub raksasa Spanyol tersebut. 

Tak terkecuali pemain-pemain berikut ini. Mereka begitu memimpikan bermain di klub yang berstatus pemilik gelar Liga Champions terbanyak. Namun sayang, mimpinya dipatahkan oleh klub itu sendiri. Real Madrid mencampakkan mereka meski memiliki peluang untuk mendatangkannya. Dan berikut adalah alasan konyol El Real menolak pemain-pemain bintang ini.

Ronaldinho

Yang pertama dan mungkin jadi alasan paling jahat adalah ketika Real Madrid menolak untuk mendatangkan Ronaldinho. Jika Anda bertanya mengapa Los Blancos menolak Ronaldinho, mungkin Anda tak akan percaya dengan jawaban yang diberikan, karena alasannya adalah soal tampang muka. Namun, itulah yang terjadi. 

Di masa kejayaannya, klub mana yang berani menolak kesempatan untuk mendapatkan jasa Ronaldinho? Bahkan manajer sekaliber Sir Alex Ferguson saja begitu menggemari pemain ini dan berusaha membujuknya untuk bergabung ke Manchester United sekitar tahun 2003. Tapi Madrid justru kebalikannya.

Dilansir Daily Mail, pada tahun 2003, El Real menolak Ronaldinho untuk kepentingan pemasaran. Menurut mereka, paras sang pemain yang terlalu jelek bisa merusak pasar dan image klub. Mantan pemain AC Milan itu memang identik dengan giginya yang sedikit menonjol. Tapi kan pesepakbola yang dinilai permainannya bukan parasnya? Tak heran keputusan ini cukup kontroversial.

Oleh karena itu, Madrid mengalihkan perhatiannya kepada gelandang Manchester United, David Beckham yang kala itu berstatus pemain “terseksi” di Eropa. Karena memiliki paras tampan dan juga badan atletis, Madrid mendapat untung besar dalam penjualan jersey Beckham.

Sementara itu, Ronaldinho akhirnya bergabung ke rival Madrid, Barcelona. Pemain yang memiliki skill individu di atas rata-rata itu pun membuktikan kecantikannya di Camp Nou. Dinho benar-benar mempertontonkan permainan yang berbeda. Ia menggabungkan tari samba dengan teknik bermain sepakbola. 

Momen paling ikonik adalah ketika performanya di El Clasico mendapat standing ovation dari fans Madrid yang memadati Santiago Bernabeu tahun 2005. Pada akhirnya, pesan dari transfer Ronaldinho ini adalah jangan nilai buku cuma dari sampulnya saja.

Erling Haaland

Pemain kedua adalah Erling Haaland. Tak habis pikir, Real Madrid justru menyia-nyiakan kesempatan untuk mengamankan jasanya pada awal musim 2022/23. Jika melihat performanya bersama Manchester City musim lalu, Florentino Perez seharusnya sedang menyesali keputusannya itu.

Jika bertanya kenapa El Real berani mencampakan Haaland. jawabannya sudah pasti karena Kylian Mbappe. Musim lalu, Madrid begitu yakin bisa mendapatkan pemain asal Prancis itu. Jadi mereka menomorduakan Haaland. Awalnya keputusan itu tak jadi masalah, karena kualitas dari Mbappe sudah tak diragukan lagi. Ia dirasa jadi yang paling cocok sebagai suksesor Wak Haji Benzema.

Tapi semuanya jadi berantakan karena hubungan Los Galacticos dengan Mbappe memburuk. Kesepakatan yang terasa tinggal sejengkal di depan jidat akhirnya batal. Mbappe yang labil kembali menarik ulur negosiasi. Sang pemain tergoda dengan kesepakatan baru yang ditawarkan oleh PSG.

Mbappe pun akhirnya menerima tawaran kontrak eksklusif dari klub Paris tersebut. Ia memutuskan untuk bertahan dan mendapat kenaikan gaji yang signifikan. Ketika Madrid terlena dengan janji manis Mbappe, Haaland justru sepakat untuk bergabung dengan Manchester City berkat saran dari sang ayah, Alf-Inge Haaland.

Pedri

Selanjutnya ada Pedri. Mungkin beberapa dari kalian melihat sosok Pedri sebagai pemain yang terlalu identik dengan Barcelona. Tapi kenyataanya pemain asal Spanyol itu bukanlah produk asli La Masia. Pedri dibesarkan oleh klub Spanyol lain, Las Palmas sekitar tahun 2018. Barulah ditebus Barca setahun kemudian.

Tak perlu waktu lama bagi Pedri untuk bersinar di Camp Nou. Pedri menjadi salah satu mutiara baru di skuad utama Barcelona. Namun siapa sangka, pemain yang berposisi sebagai gelandang ini pernah mencoba peruntungan gabung Real Madrid, tapi ditolak. Kok bisa?

Beberapa media memberitakan kalau Pedri lah yang menolak untuk bergabung dengan Madrid. Tapi sebenarnya klub lah yang enggan mengontrak sang pemain. Cuaca dingin menjadi alasan utama El Real kala itu. Hal tersebut diungkapkan Pedri dalam sebuah wawancara. Tubuhnya yang kurus dianggap tak mampu bermain pada suhu dingin Eropa.

Dilansir Football Espana, Pedri mengakui kalau dirinya tak menolak kesempatan untuk bermain dengan Real Madrid. Ia bahkan sempat mengambil kesempatan seleksi selama satu minggu. Tapi kala itu Kota Madrid masih dilanda cuaca buruk. Lapangannya dipenuhi salju dan Pedri kesulitan bermain di kondisi tersebut.

Lantas tim scouting El Real pun menyimpulkan kalau Pedri belum berada di level yang tim butuhkan. Ia dinilai lemah dan tak bisa bermain di cuaca dingin. Padahal iklim Eropa didominasi dengan cuaca dingin. Tapi situasi itu menjadikan Pedri sebagai pemain yang paling memiliki prospek paling cerah di Barcelona. Ini jadi pembalasan dendam yang manis bagi Pedri.

David Silva

Sama halnya dengan Pedri, David Silva juga pernah ditolak Real Madrid karena postur tubuhnya yang dinilai tak proporsional. Silva muda memang memiliki perawakan kecil. Meski begitu, ia tumbuh dengan potensi luar biasa. Ia dianugerahi dengan kelincahan dan kaki kiri yang hebat.

Pedri mungkin lebih mending ketimbang Silva. Karena mantan pemain Manchester City itu bahkan tak diterima ketika akan mendaftar ke akademi La Fabrica. Pelatih akademi kala itu langsung mencoret Silva dari daftar pemain yang bakal menjalani pelatihan di akademi Madrid. Tapi momen itu tak membuat Silva patah arang. 

Kebetulan ayahnya berprofesi sebagai polisi keamanan stadion Valencia. Hal itu membuat Silva mendapat tawaran untuk bergabung ke akademi klub tersebut. Dari sanalah kemampuan olah bolanya mulai terbentuk. Silva bahkan menjadi andalan Los Che dalam beberapa tahun kedepan sebelum akhirnya direkrut oleh Manchester City dan bergabung dengan generasi emas Timnas Spanyol.

Gabriel Milito

Terakhir ada Gabriel Milito. Pada masanya, Milito adalah pemain belakang yang sedang naik daun. Beberapa klub pun mulai mengamati permainannya di klub lokal Argentina, Independiente tahun 2003. Bahkan Jorge Valdano yang kala itu menjabat sebagai tangan kanan Florentino Perez di Real Madrid terpikat dengan talenta muda tersebut. 

Valdano kemudian mencoba membujuk Presiden Real Madrid itu untuk mengontrak bintang muda Argentina itu. Perez pun mengiyakan permintaan rekan kerjanya itu. Transfer Milito dari Independiente bahkan sudah masuk tahap tes medis. Namun, hasil tes kurang memuaskan.

Dokter dari tim medis Real Madrid memberikan peringatan kepada manajemen dan tim kepelatihan klub kalau Milito merupakan pemain yang tidak memiliki kebugaran sangat baik. Ia justru tergolong sebagai pemain yang rentan cedera. Bahkan fisik Milito dinyatakan tidak akan kuat melakoni tiga pertandingan dalam seminggu.

Padahal dalam laporan hasil tes medis, Milito tak menunjukan riwayat cedera tertentu. Semuanya normal. Tapi El Real tetep kekeuh menolaknya. Keputusasaan Milito membawanya bergabung ke Real Zaragoza dan ia tak pernah mengalami masalah soal kondisi tubuhnya. Ia bahkan mencatatkan lebih dari 35 penampilan setiap musimnya. 

Sumber: Daily Mail, Euro Sport, Sky Sport, Football Espana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *